icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
HITAM

HITAM

icon

Bab 1 Bagian 1 : Hilang

Jumlah Kata:1522    |    Dirilis Pada: 21/03/2024

udah sore. Sebentar l

a ada kabut di

napas

Win. Menginaplah di si

gelengkan

takut, Insya Allah Edwin a

in .

sar tante. Insya Allah tidak apa-apa. Nanti

a itu. Wanita itu takut keponakannya, Edwin,

*

galkan rumah tantenya sudah pukul dua. Tadi, sih, masih terang dan cerah, tetapi saat Edwin mulai menuruni

ah dihidupkan, tetapi jarak pandang Edwin paling hanya seratus atau lima puluh meter ke depan, agak sedikit mengkhawatirkan, apalagi ka

ak. Edwin memutuskan untuk menghentikan motornya sebentar, sekedar untuk

mencekiknya. Edwin merasa semakin panik, istirahat pun tidak bisa membuatnya lega, dia m

hendak berteriak minta tolong, tetapi dia tidak perlu melakuk

pria keluar dari mobil itu. Pria

a pria setengah baya it

ngangguk

kami semua sudah mencari ke mana-mana. Ayo, kita turun! Motornya ditinggal di sini saja,

pan mereka. Pria itu langsung memakaikan masker oksigen kepada Edwin, dan Edwin pun bern

an seger

ngan,

ia

pan itu, sampai kemudian dia merasakan mobil yang ditumpan

a dia tidak bisa melihat apa-apa, dia hanya meli

*

Rizal. Foto ini diambil s

melihat

Apa diperbolehkan

nggelengkan

an akhirnya Mia dan Rizal diculik nenek bung

ikan peraturan yang disampaikan para penjaga di setiap p

an juga ikut mendak

g ters

ar ustadz saja yang

emeluk kaki Bambang,

! Kami hanya bermain-main!" s

*

intrim. Tintrim yang biasanya pana

r suara mobil berhenti di depan rumahnya. Haf

n bapaknya dan ibuny

u, Fidz," k

z ter

ata Hafidz. Annisa tertawa, tetapi kemu

ana, Mas?" t

imana hati Hafidz, dan menyesal bertanya ketika melihat bu

memeluk

bisik Annisa, dia

ditalqin abi, Mi,"

ada Bambang dan ... oh ... Annisa melewatkan air mata suaminya. Annisa beristighfar, dia segera mendekati Bambang. Bambang tersen

i aku juga meruqyah Ustad

mpir saja dia mengatakan kalau Bambang bohong, tetapi sepertinya wajah

a sebentar," kata Hafidz. Rinaian air mata di mata Hafidz masih selayak gerimis di luar

reka berpelukan, Annisa menangis haru. Bagaimana tidak, sahabat suaminya,

dah diberitahu, U

g meng

isa mengangguk dan memabayangkan Azkiya. Ah, apa jad

yum dan merang

. Allah sudah menentukan jalan hidup kita sejak empat ribu tahun yang lalu. T

u wajah gemas, sekarang, dia menasihati Annisa dengan deraian air mata, bahkan Bambang berh

juga, malah semakin memekat dan meraja. Bambang beristighfar b

enal lama sekali. Sepertinya sejak mer

dan kadang bermain bersama, mereka sering mengintip rumah Sapto di Tintrim Tengah. Mereka berdua sama-sa

ebih tua daripada Bambang, lebih memilih masuk SMA di Ketanggungan. Sore harinya mereka masih selalu mengaji bers

Tahfidz di Tintrim. Dua atau tiga tahun kemudian Bambang masuk ke Rumah Tahfidz dan mencetuskan ide untuk mendirikan pesantren ruqy

ia tiga puluhan dan masih menikmati mas

datanglah

bersih. Ah, Bambang sudah terbiasa dipanggil Setiyadi atau Firman. Demikian pula mereka berdua. Dan itu tidak menjadi masa

h berbeda dari Firman-- bisa mengemas semua emosinya dengan lebih baik dan apik, sehingga orang akan lebih senang bercerita atau curhat pada Bam

ahan usia tiga puluhan, sementara Setiyadi dan Firman menikah menjelang usia empat puluh

resmi masuk taman kanak-kanak beberapa hari yang lalu, dan usia Bambang sudah masuk pertengahan enam puluh, oh, Azkiya memang selayak cucunya.

terus memaksa matanya untuk terpejam. Ketika Bambang hendak membuka pintu

n memberikan HP Bam

," bisi

a merasa tahu apa yang aka

amuala

tu. Dia kuminta menjemput abi," ka

Bambang, berusaha me

ntuk ke sini, njih, Bi,"

atanya begitu pedas menahan emosi. Dia segera keluar kama

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka