icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pejuang Restu

Pejuang Restu

Penulis: Nur Afni
icon

Bab 1 Part 1 HARI PERNIKAHAN

Jumlah Kata:1331    |    Dirilis Pada: 27/07/2023

il melempar barang di meja rias ke arah

Om tidak akan menyakiti Mamih kamu kok. Om mau

ar kata Mamih!" Perintah Helen masih dengan suaranya yang lantang. Saat itu, Helen tidak bisa berkutik ka

airah. Saat dia melirik ke arah pintu, Basti sudah tidak ada di sana. Tampaknya bo

Dia terus mencumbui Helen bagai seorang singa yang lapar.

rayu Jonas untuk mengalihkan seluruh hartanya kepadamu, lalu kita akan hidup bahagia bersama. Bukankah itu rencana kita sejak awal? Tapi kenapa sekarang sika

ski tubuhnya masih

ramannya pada ke dua p

isa mewujudkan semua impian kita sejak awal. Mungkin jika kamu tidak di jodohka

. Lupakan aku Aldri. Lupakan semua rencana kita dulu. Jonas sudah begitu baik padaku selama ini. Aku tidak mau mengkhianatinya lebih jauh lagi. Tolong

ldri sudah t

pada Helen yang sudah mangkir dari semua janji dan kesepakatan merek

ah merebut Helen dariny

, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu. Aku sangat merindukanmu Helen. Seja

a untuk menyetubuhi Helen ketik

ttt

rg

aat tiba-tiba tangannya s

lengannya. Dan mereka jadi terperanjat saat melihat Basti, si bocah laki-laki yang bar

*

di kediaman mempelai pengantin wanita

elanjutkan pendidikan di bangku kuliah kandas karena dirinya yang

dekat Raline di SMA dan hubungan me

ya kini sudah

eka, tak seh

oa bersama yang di pimpin oleh bapak penghulu

gkan di atas pelaminan karena acar

anita terlihat duduk menemani putri tercinta mereka di atas pelaminan. Mereka

ak berkumpul di tengah-tengah para tamu unda

rnur yang tampan itu. Pakai mantra apa dia itu?" ucap Bu Hindun, salah

dak ada satu pun keluarga dari mempelai laki-laki yang hadir karena mereka itu t

aline hanya untuk menyelamatkan nama baik Bu Helen? Beliaukan

tian. Ah, aku sudah sangat paham wanita macam apa si Raline itu! Perlu Ibu-ibu tau

Basti. Tahu begitu, lebih baik Bastian sama anakku s

lain. "Bu Hindun ini, tidak usah terlalu berh

pai akhirnya terhenti dengan sendirinya k

an adanya dia di sini, Kiara yakin, ibu-ibu tukang gosip itu akan berhenti mencela k

nya cuma untuk menggos

iara dal

luarga dari pihak mempelai laki-laki yang hadir. Hal itu jelas memancing pertanyaan para tamu undangan. Belum lagi mengenai mer

ah bibir di kalangan warga setempat. Terutama oleh ibu-ibu komplek penghuni per

a kita ini orang miskin?" seru Kiara saat acara resepsi selesai. Kini, dirinya dan ke dua orang tuanya sed

apa, mulut-mulut mereka ini, dosa kita berkurang kalau kit

andang perasaan Kak Raline, sudah Kiara sumpal tuh mulut mereka pakai kuah bakso panas! Supaya melepuh

ak Raline jadi menderita!" lanjut Kiara tanpa menyadari bahwa nama laki-laki yang tadi

ya itu berhenti bicara. Tapi dasarnya Kiara, dia justru semaki

a! Jangan mentang-mentang anak orang kaya, bisa bertindak seenaknya sama orang lain! Anak sama Ibu kok sama saja! Bisanya cuma membuat hidup orang lain su

yang tertutup. Itu artinya, laki-laki bernam

bis pikir dengan keputusan orang tuanya terhadap kehidupan Kakaknya. Jika Kiara menjadi Raline, Kiara

dengan tega memperkos

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pejuang Restu
Pejuang Restu
“"Jangan sakiti Mamih!" Teriak Basti sambil melempar barang di meja rias ke arah laki-laki yang sedang menindih sang Mamih. "Wah, jagoannya Jonas sudah datang. Hai jagoan, Om tidak akan menyakiti Mamih kamu kok. Om mau buat Mamih kamu enak," Aldri menyeringai mesum. "Kamu tidak akan pernah bisa menghindariku lagi Helen! Ingat, kartu matimu ada ditanganku. Bukankah selama ini kita saling mencintai? Aku hanya ingin kamu merayu Jonas untuk mengalihkan seluruh hartanya kepadamu, lalu kita akan hidup bahagia bersama. Bukankah itu rencana kita sejak awal? Tapi kenapa sekarang sikapmu berubah? Kamu bahkan lebih sering membela Jonas? Apa mungkin hatimu sudah berpindah pada Jonas?" tutur Aldri panjang lebar. Napas lelaki itu kian memburu. Helen hanya diam meski tubuhnya masih tetap meronta-ronta. Aldri memperkuat cengkramannya pada ke dua pergelangan tangan Helen.”