/0/2471/coverorgin.jpg?v=3227eeca995c0603b7717b752a524884&imageMogr2/format/webp)
Arya selalu menemukan kenyamanan dalam kesendirian. Bukan karena dia tidak menyukai orang lain, tetapi karena kesunyian memberikan ruang baginya untuk berpikir, jauh dari keramaian sekolah yang selalu riuh. Setiap istirahat, dia akan pergi ke tempat favoritnya-taman sekolah yang berada di sudut, tersembunyi dari lalu-lalang siswa lain.
Taman itu sederhana, hanya ada beberapa pohon rindang dan bangku kayu tua, tapi bagi Arya, tempat itu seperti surga. Suara angin yang berdesir di antara dedaunan dan kicauan burung yang bersembunyi di dahan, membuatnya merasa damai. Di sinilah ia bisa melarikan diri dari dunia luar yang menurutnya terlalu ramai dan membosankan.
Namun, hari ini terasa sedikit berbeda. Begitu ia sampai di taman, Arya melihat sesuatu yang tak biasa-seorang gadis duduk di bawah salah satu pohon besar. Gadis itu sedang asyik membaca buku, sesekali tersenyum sendiri. Arya tidak mengenal gadis itu, dan anehnya, ia merasa sedikit terganggu dengan kehadirannya di tempat yang biasanya menjadi "milik" Arya seorang.
Arya memperhatikan dari kejauhan. Gadis itu tampak begitu nyaman di sana, seakan-akan taman itu juga miliknya. Rambutnya yang panjang tergerai di bahunya, dan setiap kali angin bertiup, helai-helai rambutnya berayun lembut. Arya tidak bisa mengalihkan pandangan. Ada sesuatu tentang senyum gadis itu yang membuatnya penasaran.
"Siapa dia?" Arya bergumam dalam hati. Dia merasa aneh, karena biasanya, dia tak pernah peduli pada orang lain. Apalagi pada seseorang yang tiba-tiba "menduduki" tempat favoritnya.
Tak ingin mengusik gadis itu, Arya duduk di bangku kayu yang sedikit jauh. Dari tempatnya duduk, ia masih bisa melihat gadis itu, tapi cukup jauh untuk tidak menarik perhatian. Ia membuka bukunya sendiri, tapi pikirannya terus melayang ke arah gadis yang tersenyum itu.
Sebenarnya, Arya tidak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran. Mungkin karena senyumnya. Senyum itu bukan sekadar senyum biasa, melainkan senyum yang seolah-olah menceritakan kisah di baliknya. Sebuah senyum yang penuh makna, namun juga misterius.
Waktu berlalu dengan cepat. Gadis itu terus membaca dengan tenang, sementara Arya sesekali mencuri pandang. Saat bel tanda istirahat berakhir berbunyi, gadis itu menutup bukunya, berdiri, dan berjalan pergi. Arya memperhatikan dari kejauhan, melihat langkah ringan gadis itu yang perlahan menghilang di balik pintu gedung sekolah.
Arya menghela napas panjang. Ada perasaan aneh yang ia rasakan. Sesuatu yang membuat hatinya sedikit bergetar. Ia tidak tahu siapa gadis itu, tapi kehadirannya meninggalkan kesan mendalam di hati Arya.
"Besok, mungkin aku akan melihatnya lagi," Arya berkata pelan pada dirinya sendiri. Sesuatu di dalam dirinya ingin mengenal gadis yang selalu tersenyum itu. Tapi di sisi lain, Arya juga ragu. Bagaimana jika besok gadis itu tak lagi datang ke taman? Apa dia hanya sesekali ke sana? Atau apakah taman ini memang juga tempat favoritnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Arya sepanjang sisa hari itu. Taman yang biasanya menjadi tempatnya melarikan diri kini justru menimbulkan rasa penasaran baru. Siapa gadis itu? Dan mengapa senyumnya begitu memikat?
Arya pulang dengan perasaan yang tak biasa. Entah kenapa, ia berharap esok hari segera datang. Mungkin, besok ia akan melihat senyum itu lagi.
Malam itu, Arya tidak bisa berhenti memikirkan gadis yang ditemuinya di taman. Ia mencoba menepisnya dengan mengerjakan PR, menonton televisi, bahkan bermain gim di ponselnya, namun bayangan senyum gadis itu selalu kembali menghantuinya.
"Apa yang salah denganku?" Arya bertanya pada dirinya sendiri. Ia merasa aneh, karena biasanya ia tidak terlalu memikirkan orang lain, apalagi seseorang yang baru dilihatnya sekali. Tetapi senyum gadis itu begitu hangat, seakan-akan ada kebahagiaan yang ia bagikan tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. Arya mencoba tidur lebih awal, berharap pikirannya akan jernih di pagi hari.
Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, Arya segera bergegas menuju taman. Ada perasaan berdebar di dadanya - sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama ini, taman adalah tempat di mana ia merasa tenang dan nyaman, tapi sekarang ia malah merasa gelisah. Setiap langkah yang ia ambil menuju taman membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Begitu sampai di taman, Arya berhenti sejenak, matanya langsung mencari ke arah pohon besar di mana gadis itu kemarin duduk. Dan di sana, tepat di tempat yang sama, gadis itu ada lagi. Kali ini, ia tidak sedang membaca buku, melainkan menatap langit dengan senyum yang sama-senyum yang kemarin membuat Arya terpaku.
Arya berdiri diam beberapa saat, mencoba memutuskan apakah ia harus mendekat atau tetap di tempatnya seperti kemarin. Tapi hari ini, ada dorongan aneh di dalam dirinya. Arya merasa, jika ia hanya terus memperhatikan dari kejauhan, ia tidak akan pernah tahu siapa gadis itu. Akhirnya, dengan langkah perlahan namun pasti, Arya mendekati pohon besar tersebut.
Saat ia semakin dekat, gadis itu menoleh dan tersenyum padanya-senyum yang seolah-olah mengatakan bahwa dia telah menunggu Arya. Arya merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, tapi ia berusaha tetap tenang.
/0/6261/coverorgin.jpg?v=89aecf99963c4dc0679f05c775639dce&imageMogr2/format/webp)
/0/14574/coverorgin.jpg?v=395d59467c41e8342afe796e70b2c24e&imageMogr2/format/webp)
/0/6103/coverorgin.jpg?v=1ef3314fd99a3a1b8b32990b9a885025&imageMogr2/format/webp)
/0/7204/coverorgin.jpg?v=326967781583554c572ccd7de2f5b06a&imageMogr2/format/webp)
/0/15607/coverorgin.jpg?v=4ea4412a0db5cc7531fe9cbac6180c61&imageMogr2/format/webp)