searchIcon closeIcon
Batalkan
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mark Castello

Pewaris yang Dicampakkan: Menikahi Taipan Tak Tersentuh

Pewaris yang Dicampakkan: Menikahi Taipan Tak Tersentuh

Jack Fenwick
Aku memberikan tiga tahun masa mudaku untuk Fino, bahkan menolak tawaran karier di Eropa demi mempertahankannya. Namun, saat aku menunggunya di bandara, notifikasi dashcam mobilku tiba-tiba menyala. Di layar ponsel, aku melihat tunanganku sedang mendesah hebat, bercinta dengan adik kandungku sendiri, Shanti, di kursi belakang mobilku. Saat aku memutar video perselingkuhan menjijikkan itu di ruang keluarga, reaksi mereka justru membuat darahku membeku. Paman dan bibiku tidak marah pada mereka, melainkan menunjuk wajahku dan memakiku habis-habisan. "Ini semua salahmu! Kau terlalu dingin dan gila kerja, wajar jika Fino mencari kehangatan dari adikmu!" Tanpa rasa bersalah, pamanku langsung mengalihkan status pertunangan itu kepada Shanti demi menjaga harga saham perusahaan, sementara Fino menyeringai dan menawariku uang tutup mulut. Mereka bersekongkol membuangku seperti sampah, memutarbalikkan fakta, dan bersiap merampas habis dana perwalian peninggalan kakekku. Tiga tahun kesetiaan dan pengorbananku untuk keluarga ini dibalas dengan tikaman dari punggung oleh orang-orang yang paling kupercayai. Mereka pikir aku wanita lemah yang akan menangis memohon dan hancur tanpa nama besar keluarga. Tapi mereka salah besar. Malam itu juga, aku mengemas semua dokumen rahasiaku, melangkah keluar dari rumah beracun itu, dan langsung menemui Aditya Wijaya—paman kandung Fino, sang miliarder kejam yang paling ditakuti di Wall Street. "Aku butuh nama besarmu, mari kita menikah," tawarku padanya. Jika mereka pikir bisa menginjak-injakku, maka aku akan kembali sebagai bibi mereka dan meratakan seluruh keluarga ini ke tanah.
Modern Pernikahan kontrak
Unduh Buku di App

Kantor Svenoz

Di dalam ruangan luas dan mewah dengan desain interior modern yang mendominasi kantor Svenoz, Mark terduduk diam di kursinya. Tangan kirinya menopang dagu, sementara jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah. Pikirannya penuh dengan satu hal-cara melarikan diri dari perjodohan yang mamanya siapkan.

Sudah dua tahun ini, wanita yang melahirkannya itu terus-menerus berusaha mencarikan istri untuknya, seolah pernikahan adalah satu-satunya solusi agar hidupnya sempurna.

Padahal, Mark masih berusia 30 tahun. Itu bukan usia yang tua, terutama di kalangan pria Palermo. Namun, bagi ibunya, batas kesabaran telah habis.

Masalahnya, di kota ini, usia bukanlah hal utama. Paras tampan dan kekayaan yang melimpah adalah segalanya. Dan sayangnya, Mark memiliki kedua hal itu dalam jumlah yang berlebihan. Ia adalah definisi nyata dari bujang lapuk yang terlalu sempurna-wajah tampan, tubuh tegap, aset yang tak terhitung jumlahnya, serta status sebagai pria lajang yang masih bebas berkeliaran.

Sebuah suara keras membuatnya tersentak. Pintu ruangan terbuka dengan kasar, menampilkan sosok Dezo yang tampak geram.

"Kau akan duduk di sini sampai kapan?" suara Dezo terdengar tajam dan penuh ketidaksabaran. "Semua orang sudah menunggumu untuk meeting. Apa kau akan tetap di sini dan hanya diam memikirkan cara kabur dari perjodohan lagi?"

Mark mendesah, jelas-jelas malas mendengar omelan pria itu.

"Percayalah padaku," lanjut Dezo dengan nada yakin, "kali ini kau tidak akan bisa kabur dari perjodohan ini."

Mark mendecak kesal, menatap Dezo dengan ekspresi bosan. "Sungguh, kau terlalu banyak omong."

Dezo hanya menyeringai, sementara Mark kembali memutar otaknya. Perjodohan ini jelas bukan perkara main-main, tetapi jika ada satu hal yang pasti, ia tidak akan menyerah begitu saja.

Mark mendesah panjang sebelum akhirnya bersandar di kursinya dengan santai. Ia melipat kedua tangannya di belakang kepala, menatap langit-langit kantor Svenoz dengan ekspresi bosan.

"Hidup semenyenangkan ini tanpa wanita, kenapa harus berhubungan dengan pernikahan?" gumamnya datar. "Ini sungguh membosankan dan sedikit menjengkelkan."

Tatapannya lalu beralih pada Dezo yang masih berdiri di hadapannya dengan ekspresi penuh tekanan. Mark menyeringai kecil sebelum berkata dengan nada main-main, "Bukankah kau putra kesayangan mamaku? Kenapa tidak kau saja yang menghadiri perjodohan itu menggantikanku? Dan jangan lupa lahirkan dua bayi kembar untuknya."

Dezo langsung menarik kursi di depan Mark dan duduk dengan wajah frustasi. Ia melemparkan tatapan tajam seakan ingin menghantam kepala sahabatnya itu dengan dokumen yang sedang dipegangnya.

"Kau sungguh gila!" geramnya. "Kali ini wanitanya bukan sembarang wanita."

Mark mendengus, tetap tak tertarik. "Siapa? Dewi bulan? Bidadari? Malaikat?" tanyanya dengan nada mengejek.

Dezo mengumpat sebelum akhirnya meletakkan dokumen di meja dengan suara berdebum. "Mamamu meminta Clasi untuk pulang dari Spanyol demi dijodohkan denganmu! Kau sungguh ingin aku yang menggantikan perjodohan ini?" Dezo menatap Mark tajam. "Apa kau benar-benar sanggup melihatku menikah dengan cinta pertamamu?"

Mark berdecak, sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan atau kepanikan. Ia justru tampak semakin bosan.

"Siapa yang mengatakan dia cinta pertamaku?" tanyanya dengan nada penuh kepercayaan diri. "Aku tidak pernah mencintai siapa pun. Dia yang terobsesi denganku."

Dezo menggelengkan kepala, mendesah frustrasi. "Kau benar-benar pria tanpa hati, Mark."

Mark hanya mengangkat bahu ringan, seolah semua ini bukan masalah besar. Tapi entah mengapa, dalam hati kecilnya, nama Clasi yang disebutkan tadi seakan menggema lebih lama dari yang ia harapkan.

Dezo menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan ekspresi santai sebelum menceletuk, "Aku pun tidak akan menikah dengan siapa pun, dan dengan setia aku menunggu keponakanmu, Selva."

Mark yang sedang bermain dengan pena di jarinya menoleh dengan tatapan datar, sementara Dezo mendesah ringan dan bergumam, "Aku jadi penasaran, secantik apa dia sekarang? Bukankah tahun ini dia lulus SMA?"

Dezo menatap Mark dengan mata berbinar, lalu bertanya dengan nada setengah bercanda, "Apa aku sudah boleh menikahinya?"

Mark yang awalnya tampak bosan tiba-tiba membuka matanya lebar, seolah ia baru saja menemukan sesuatu yang luar biasa.

"Kau benar... Selva," ucap Mark dengan nada yang terdengar seperti menemukan ide besar.

Dahi Dezo mengernyit, tak paham dengan reaksi aneh sahabatnya. "Kenapa?" tanyanya penasaran, mencoba membaca pikiran Mark.

Mark menyeringai kecil, bibirnya melengkung membentuk senyum misterius. "Aku baru saja menemukan cara sempurna untuk menghentikan perjodohan ini."

Dezo semakin kebingungan. "Apa maksudmu?"

Mark menatapnya tajam, senyum itu semakin melebar. "Jika aku tidak bisa kabur dari perjodohan ini, maka aku hanya perlu memastikan bahwa seseorang lebih dulu membuat kekacauan yang lebih besar..."

Dezo menatap Mark dengan ekspresi curiga. "Jangan bilang... kau ingin menggunakan aku dan Selva sebagai tameng?"

Mark hanya terkekeh tanpa menjawab langsung. Namun, tatapan matanya penuh arti, membuat Dezo menghela napas panjang.

"Aku baru saja masuk perangkapmu, ya?" gumam Dezo, menyadari bahwa Mark pasti sedang merencanakan sesuatu yang gila.

***

Di kediaman Dolton, suasana sudah sangat siap untuk menyambut perjodohan yang telah direncanakan. Dekorasi ruangan begitu elegan, dan aroma hidangan lezat menyebar di udara. Para pelayan mondar-mandir memastikan segala sesuatunya berjalan dengan sempurna.

Di tengah ruangan, Yeda-mama Mark-tampak sedikit gelisah. Sejak tadi, ia terus menelpon putranya, berharap Mark segera datang. Wajahnya terlihat penuh harap setiap kali ponselnya menyala, namun hingga kini belum ada tanda-tanda kehadiran Mark.

"Tante, ini oleh-oleh dari Spanyol. Untuk Om dan juga Mark," ujar Clesi sambil menyerahkan beberapa paper bag dengan senyum manisnya.

Yeda segera menyambutnya dengan penuh antusias. "Ya ampun, sayang. Kenapa banyak sekali? Terima kasih banyak, ya!" katanya berbinar-binar. "Mark pasti akan sangat menyukainya," lanjutnya dengan penuh keyakinan.

Clesi hanya mengangguk malu-malu, sementara Feros-ayahnya-langsung menyahut dengan suara penuh kebanggaan, "Aku sungguh tidak mengira jika kita akan menjadi besan."

Baca Sekarang
Kesayangan Paman Mark

Kesayangan Paman Mark

vio femio
"Paman akhh sakit enghh," rintih Selva saat Mark memaksa dan terus mendorong miliknya ke dalam sana. Mark mengerang dan terus mendorong miliknya sembari berbisik, "Pelankan desahanmu sayang, ayah ibumu bisa bangun."
Romantis R18+HumorBalas dendamPerkosaanBudak seksualMafiaPria SejatiTampanUrbanTempat kerja
Unduh Buku di App
Mark Castello Wattpad IndonesiaMark Castello novel gratis tanpa aplikasiDownload Mark Castello novel PDF Google DriveMark Castello gratis tanpa beli koin dan offline
Yuk, baca di Bakisah!
Buka
close button

Mark Castello

Temukan buku-buku yang berkaitan dengan Mark Castello di Bakisah. Baca lebih banyak buku gratis tentang Mark Castello Wattpad Indonesia,Mark Castello novel gratis tanpa aplikasi,Download Mark Castello novel PDF Google Drive.