searchIcon closeIcon
Batalkan
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

MENANTI KEPASTIAN

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder

JADE HOWE
Riani sangat menyayangi pacarnya. Meskipun pacarnya telah tidak bekerja selama beberapa tahun, dia tidak ragu-ragu untuk mendukungnya secara finansial. Dia bahkan memanjakannya, agar dia tidak merasa tertekan. Namun, apa yang pacarnya lakukan untuk membalas cintanya? Dia berselingkuh dengan sahabatnya! Karena patah hati, Riani memutuskan untuk putus dan menikah dengan seorang pria yang belum pernah dia temui. Rizky, suaminya, adalah seorang pria tradisional. Dia berjanji bahwa dia akan bertanggung jawab atas semua tagihan rumah tangga dan Riani tidak perlu khawatir tentang apa pun. Pada awalnya, Riani mengira suaminya hanya membual dan hidupnya akan seperti di neraka. Namun, dia menemukan bahwa Rizky adalah suami yang baik, pengertian, dan bahkan sedikit lengket. Dia membantunya tidak hanya dalam pekerjaan rumah tangga, tetapi juga dalam kariernya. Tidak lama kemudian, mereka mulai saling mendukung satu sama lain sebagai pasangan yang sedang jatuh cinta. Rizky mengatakan dia hanyalah seorang pria biasa, tetapi setiap kali Riani berada dalam masalah, dia selalu tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya dengan sempurna. Oleh karena itu, Riani telah beberapa kali bertanya pada Rizky bagaimana dia bisa memiliki begitu banyak pengetahuan tentang berbagai bidang, tetapi Rizky selalu menghindar untuk menjawabnya. Dalam waktu singkat, Riani mencapai puncak kariernya dengan bantuannya. Hidup mereka berjalan dengan lancar hingga suatu hari Riani membaca sebuah majalah bisnis global. Pria di sampulnya sangat mirip dengan suaminya! Apa-apaan ini! Apakah mereka kembar? Atau apakah suaminya menyembunyikan sebuah rahasia besar darinya selama ini?
Modern KeluargaModernCinta PalsuHubungan rahasiaSelebritiMenarikMiliarder
Unduh Buku di App

Kring!!! Suara alarm pagi di atas nakas terdengar berdering keras. Uluran tangan keluar dari balik selimut, mer aba nakas untuk mencari sumber bunyi tersebut.

Terserang kantuk yang hebat, tangan itu sulit mencari tombol non-aktif untuk weker.

Brak!!! Deringan weker itu akhirnya terhenti saat membentur dinding.

Seorang wanita cantik mendecak heran melihat tingkah kekanakan suaminya yang tetap sama dari tahun ke tahun meskipun sudah hampir menginjak kepala empat.

"Arka!"

Gundukan selimut tersibak hingga menampakkan si pemalas yang sedari tadi tergulung dalam balutan selimut.

"Pagi, Sayang!"

Masih senyum manis yang sama. Arkana Kenjiro Wijaya. Pria itu masih terlihat tampan di usianya yang ke-39 tahun.

Mata sipitnya memandang nakal pada istri yang berdiri tak jauh dari kasur. Lizzya Pinkan, wanita yang masih setia bersamanya sampai menginjak tahun ke sepuluh pernikahan.

"Pulang kerja nanti, jangan lupa beli weker baru!" kesal Lisa.

Arka tertawa, lalu duduk setelah menyingsingkan selimut. Istrinya itu bahkan lupa meletakkan spatula karena buru-buru menghampiri kamar.

"Kamu pengen bangunin aku dengan cara getok pakai spatula, ya?" gerutu Arka.

"Alarm kamu itu kedengaran sampai dapur, tau! Uh, ini udah jam berapa?"

"Kamu tau aku lembur, harusnya jangan pasang alarm. Ke sini sebentar!"

Kalau dipanggil Arka ke kasur di saat seperti ini, pasti suaminya itu ingin bermanja sedikit. Lisa meletakkan spatula di meja sudut dan berjalan mendekat.

"Cepetan. Takut digigit? Udah biasa ini!"

Arka menarik lengan Lisa dan memutar pinggang istrinya itu, lalu menyelipkan dagunya di antara bahunya yang mungil.

Dengan rambut yang tergulung ke atas, Arka bisa menghirup bebas aroma parfum yang menguar dari tengkuk Lisa.

"Ini udah tanggal 1."

"Kenapa, Ka? Kamu gajian? Belum setoran, 'kan?"

"Bini taunya duit mulu, bukan itu. Ini udah lewat dua minggu, 'kan?"

"Apanya? Gak jelas banget ngomongnya, Sayang."

Arka menarik pengait laci agar bisa membukanya. Dia mengambil benda persegi panjang ringan di atas tumpukan buku. Lisa menghela napas saat benda itu dihadapkan padanya. Test pack.

"Kalau negatif, gimana?" lirih Lisa, pasrah.

Arka tersenyum tipis. Dia lebih mendekatkan bibirnya ke sisi telinga Lisa.

"Ya kalau gitu, akunya yang enak."

Lisa tertawa kecil. Begitulah cara Arka agar bisa membujuk Lisa untuk tak takut menghadapi garis apa pun yang muncul dari benda itu.

Saat hendak menyambut kecupan manis Arka, suara berisik terdengar mendekati. Lebih tepatnya, derap langkah kaki yang terdengar memburu.

"Mama! Papa!"

Arka mendengkus kesal. Dia meninggalkan kecupan manjanya dan telungkup di kasur. Lisa tertawa kecil, justru menenggelamkan kepala suaminya itu dalam balutan selimut biru tua.

"Jangan macem-macem, ya! Gak enak diliat Farrel."

Lisa tersenyum sambil menepuk punggung Arka.

"Auk, ah!"

Seorang bocah tampan muncul dari balik pintu. Dia sudah sangat rapi dengan seragam sekolah bernuansa biru. Warna kuning langsat kulitnya sedikit kontras dengan warna seragam.

Rambut sehitam eboni itu sangat rapi dengan sisiran khas anak muda. Dia sangat tampan meski masih berusia 9 tahun.

"Ma, kenapa bekalnya belum siap? Aku bisa telat," rengek Farrel.

Lisa bangkit dan meraih spatula di atas meja. Tangannya menggandeng bocah bernama Farrel tersebut.

"Maaf, Farrel, mamamu ini harus bangunin adik kamu yang kebo satu itu."

"Papa belum bangun?"

"Biarin aja. Ayo, kita turun! Kamu sarapan duluan aja, ya! Mama masih bikin bekal spesial buat kamu."

Setelah Lisa dan Farrel keluar dari kamar, Arka keluar dari persembunyiannya. Dia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh.

"Masih ada waktu sampai jadwal operasi siang nanti. Ngantuk!"

Arka kembali menarik selimut untuk mengurung tubuhnya. Sepuluh tahun telah berlalu, inilah hari-hari yang dijalani. Semua berubah begitu cepat, dilalui dengan cinta dan kesabaran.

*

Terhidang banyak menu sarapan, yang menikmatinya justru hanya dua orang saja. Tanpa Lisa, Farrel sudah bisa mandiri dan ditemani nenek tersayangnya.

"Opa udah sarapan, Oma?" tanya Farrel.

Omanya --Mama Wendi-- berusaha tersenyum untuk memudarkan ekspresi sedih cucu tampannya itu. Meski sempat mengekor arah pandangan Farrel, beliau kembali menoleh pada cucunya itu.

"Nanti opa bakalan sarapan, kok. Opa lagi baca koran, sarapannya nanti aja. Farrel makan sama oma aja. Udah jam segini, buruan gih!"

Farrel mengucek matanya. Pipi chubby-nya yang menggembung mulai tirus saat berhasil melumat roti itu lebih halus.

"Opa marah sama aku."

Baca Sekarang
Sepuluh Tahun Menanti Keturunan

Sepuluh Tahun Menanti Keturunan

Fithri Aulia
Menjalani pernikahan tanpa anak, bukanlah hal mudah. Pertanyaan dari orang terdekat, menuntut Arka dan Lisa berupaya tegar menghadapi situasi pelik itu. Lisa yang pernah menjalani pengangkatan satu indung telurnya, terus berupaya agar bisa hamil. Arka, sang suami yang merupakan seorang dokter, juga
Romantis KeluargaPengkhianatanKehamilan
Unduh Buku di App
MENANTI KEPASTIAN Wattpad IndonesiaMENANTI KEPASTIAN novel gratis tanpa aplikasiMENANTI KEPASTIAN gratis tanpa beli koin dan offlineMENANTI KEPASTIAN
Yuk, baca di Bakisah!
Buka
close button

MENANTI KEPASTIAN

Temukan buku-buku yang berkaitan dengan MENANTI KEPASTIAN di Bakisah. Baca lebih banyak buku gratis tentang MENANTI KEPASTIAN Wattpad Indonesia,MENANTI KEPASTIAN novel gratis tanpa aplikasi,MENANTI KEPASTIAN gratis tanpa beli koin dan offline.