icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cinta Sedalam Doa

Bab 26 GOSIP YANG PANAS DI TELINGA

Jumlah Kata:1125    |    Dirilis Pada: 21/07/2022

s tetapi tak ubahnya rasa kekasih. Aku semakin percaya diri menjala

aktifitas rutin. Dan sarapan sedikit saja katen

Buka bab ini

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta Sedalam Doa
Cinta Sedalam Doa
“Penyesalan hanya datang dibelakangan waktu. Penyesalanku atas tindakannya telah memutuskan cinta pertamaku, Naira Asqalani. Cinta yang sudah 3 tahun lamanya. Kemudian aku memilih untuk menjalin hubungan dengan gadis yang baru dikenal semasa kuliah, Qirani Albanjari namanya, juniornya di organisasi. Naira jatuh sakit. Ia terpuruk dan tidak bisa menerima kenyataan bahwasannya kami tidak lagi bersama. Naira tidak bersemangat menjalani kuliah. Perkuliahannya berantakan. Nilainya anjlok. Kini aku menjalani hubungan bersama Qirani dengan harapan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Aku berusaha sekuat tenaga membantu membuatkan skripsi Qirani agar pacarku itu cepat wisuda. Tapi air susu dibalas dengan air tuba. Selepas Qirani wisuda ia pulang ke kampung halamannya dan ia balikan dengan mantannya semasa SMP. Aku marah besar. Aku memutuskan hubungan cintaku dengan Qirani. Qirani malah senang. Aku kecewa berat, ia menangis dan bersedih. Aku mencoba mendekati kembali cinta pertamaku, Naira. Ternyata Naira sudah punya tunangan. Aku sungguh kecewa. Aku terpukul. Aku menyesal telah menyia-nyiakan cintanya Naira. Kemudian aku memutuskan merantau ke Pekanbaru karena tidak sanggup menyaksikan cinta pertamaku menikah dengan lelaki lain selain diriku. Di Pekanbaru aku memulai karirku dari nol. Aku bekerja di kantor pajak. Aku disukai oleh atasanku. Karirku meningkat dan aku mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Banyak rekan kerjaku yang terus menggodaku. Ada Nuni, Ayu, dan Mona. Tapi aku tidak ingin pacaran lagi. Aku ingin mempersiapkan masa depan sebaik mungkin, baik dari segi karir maupun finansial. Aku jarang pulang ke kampung, Sijunjung. Aku menyuruh orang tua dan keluargaku ke Pekanbaru untuk melepas rindu. Hatiku enggan untuk menginjakkan kaki di kampung halaman. Naira telah menyakitiku dan memilih menikah dengan lelaki lain. Qirani juga telah mengecewakanku. Teganya ia kembali dengan mantan pacarnya. Waktu memang tidak berpihak kepadaku. Jika kisah ini bisa diputar ulang aku tidak ingin memutuskan Naira kala itu. Dan tidak akan pernah mencoba membuka hati untuk Qirani. Namun semuanya telah terlanjur dan aku harus menerima serta menjalani lika-liku hidup dengan kondisi apapun. Ternyata Naira gagal menikah. Reno sahabat lamaku menelepon dan mengabarkan berita itu kepadaku. Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu harus bersikap apa? Harus berbahagia atau harus bagaimana? Aku jadi sulit tidur. Aku berjuang dengan segala apa yang aku bisa. Mendekati semua teman Naira. Meminta bantuan kepada mereka meski hanya berujung jalan buntu. Aku menemui Naira ke rumahnya. Naira bersikap dingin seperti batu es. Aku terus saja berjuang dan telah menurunkan dan menahan egoku. Aku tahu selama ini aku telah menyia-nyiakan cintanya Naira. Sudah hampir setahun aku terus mayakinkan Naira dengan keseriusan cintaku padanya. Setiap salat aku berdoa kepada Tuhan agar dilembutkan hati Naira. Aku merubah sikapku dan pandanganku terhadap wanita. Aku berupaya memperbaiki diri dan rajin salat ke masjid. Aku berdoa kepada Tuhan agar dilembutkan hati Naira. Agar Naira bisa memaafkanku dan bisa menerimaku kembali. Aku hanya berharap kepada Tuhan. Dari kejauhan aku selalu mengamati Naira. Tetapi Naira masih saja memilih sendiri. Kini, aku sudah rela Niara bahagia dengan lelaki pilihannya. Aku kini sadar telah membuat Naira kecewa selama ini. Aku seumpama mendapatkan durian runtuh. Naira membuka hatinya kembali untukku. Aku berjanji tidak akan mengecewakannya lagi. Aku meyakinkan Naira. Aku bersungguh-sungguh padanya. Naira percaya kembali padaku. Kami akhirnya memutuskan untuk menikah setelah lika-liku cinta kami yang rumit. Aku menjadi lelaki yang beruntung, meski menikah pada umur yang tidak muda lagi. Naira hamil dan melahirkan anak pertama kami yang lucu. Anak perempuan berkulit putih dan bermuka oval. Kami hidup bahagia. Karirku semakin baik. Ekonomi keluarga juga ikut membaik. Aku bersyukur bisa menikah dengan Naira. Aku yakin Naira juga senang dengan kehidupan kami. Hingga pada akhirnya kami menjadi sepasang suami istri yang saling melengkapi.”
1 Bab 1 JANTUNGKU BERDEBAR SAAT MENATAPMU2 Bab 2 PEKAN OLAHRAGA DAN SENI3 Bab 3 BERJUANG BERKENALAN4 Bab 4 PENUH DOA5 Bab 5 MENGAJAK NAIRA KE BENDUNGAN6 Bab 6 HARI YANG SEMPURNA7 Bab 7 DEBAR CINTA8 Bab 8 AKU TAKUT KECEWA9 Bab 9 DILEMA10 Bab 10 CINTA DISAMBUT MUSIM11 Bab 11 WAKTU YANG TEPAT UNTUK CINTA YANG SEMPURNA12 Bab 12 BAHAGIA YANG TAK TERKIRA13 Bab 13 MALAM MINGGU YANG PERTAMA14 Bab 14 CIUMAN PERTAMA15 Bab 15 CIUMAN YANG PERTAMA 216 Bab 16 RASA CEMBURU17 Bab 17 SALING DIAM18 Bab 18 DIAM YANG MEMBUAT SEMUANYA SEMAKIN RUMIT19 Bab 19 MAAFKAN AKU NAIRA20 Bab 20 SENJA YANG SEMPURNA21 Bab 21 KHILAF MATA DAN PETAKA22 Bab 22 SARAH SEMAKIN CANTIK SAJA23 Bab 23 BENIH CINTA YANG LAIN24 Bab 24 SARAH TERPESONA PADAKU25 Bab 25 CIUMAN PERTAMA SARAH26 Bab 26 GOSIP YANG PANAS DI TELINGA27 Bab 27 AKU HARUS BERBUAT APA 28 Bab 28 NAIRA BERUBAH29 Bab 29 NASEHAT IBU30 Bab 30 APA HARUS PUTUS DULU