“Kepala puyeng, perut mual, dan suka linglung. Anne pikir kalau dia punya kelainan di dalam dirinya. Keganjilan-keganjilan sekelumit kisah hidup yang rasa-rasanya tidak pernah dia alami, tapi seakan-akan harus dipelajari dan dijalankannya. Ke mana Anne harus membebaskan unek-uneknya? Apa ke Henry, seorang CEO perusahaan perhiasan sekaligus suaminya, tapi membuat Anne muak dengan sikap kasar, sering meremehkan, dan acap kali kesurupan dengan nafsu liarnya? Atau ke Ben, sang asisten pribadi yang selalu menghibur dan memberikan kenyamanan seperti sahabatnya sendiri?”