atu m
Mlarak. Tampak sebuah bangunan tua di antara pepohonan jati. Reruntuhan rumah tua itu hampir tidak beratap. Hanya satu sisi dinding y
a itu sering dijadikan tempat menginap perantau yang kemalaman di jalan. Suasana sunyi dan sep
ya tidak keras namun terdengar jelas oleh semua orang di rumah besar. Suara
sang pe
e Barat, Mel
Utara, Merant
atahari di te
ahkan waj
air Penak
an, Tak ada
i segala
hnya pucat. Sebagian lainnya waspada. syair dinyanyikan dengan tenaga dalam ting
an. Gerimis masih menyiram bumi. Seorang lelaki paruh baya bersandar di dinding
berarti ia akan membunuh satu orang
aku mencarinya," kata si lelaki botak itu. Semua di ruangan salin
memandang lelaki gembul botak itu dengan heran. Ia menoleh kepada kakek tua berusia enampuluha
tapi belakangan lebih dikenal orang dengan sebutan syair Maut. Dan si penyanyi adalah siluman kejam yang doyan membunuh. Kalau sya
i pembun
t. Ia muncul tiba-tiba dan dengan ilmunya yang tinggi mudah baginya untuk membunuh siapa saja. Ia muncul tiba-
i kejadian seperti malam ini
mukanya berubah cerah, ia tertawa lepas. "Kamu pasti Jiu Cien, wah kamu sudah dewasa, aku pangling, kalau bertemu di jalan aku pasti tak bisa mengenalmu Berdirilah dan
amaan terdengar kembali syair Jurus Penakluk Langit dilantunkan. Suara penyanyinya sa
sang pe
e Barat, Mel
Utara, Merant
atahari di te
ahkan waj
air Penak
an, Tak ada
i segala
ain kecuali kumandang syair itu. Suaranya mendengung dan
enal sebagai Mei Chu bangkit. Ia tampak kesal. "Rupanya satu saja tak cukup bagi si syair Maut, malam ini ia menginginkan lima nyawa. Benar-benar kurangajar, apa dia pikir kita s
sudah dalam genggaman. Gerakannya sebat dan sulit diikuti pandangan mata orang biasa. I
erbu Kupikir sebaiknya kita semua berkumpul di tengah ruangan dalam bentuk lingkaran, setiap orang
beringsut keluar menuju pintu. "Kami hanya dua orangtua pedagang kecil yang tak mengerti silat. Kami juga buk
andang dengan mata mendelong tanpa bisa berbuat apa-apa. Jiu Cien tetap berdampingan dengan Yu Jin. "Kakek, keadaan tampak
ang lain tak mungkin bisa mendengar. Pertanda tenaga dalamnya sudah mencapai tingkat tinggi "Jiu Cien, tenaga dalam orang itu cukup ane
nuruti katahatiku, kalau saja dulu aku dan Kakak Guan Xing mau menetap bersama kak Xiahou Dun dan kak Wei Hu mungkin kita masih bisa
enemui kak Xiahou Dun sebelum ajalnya. Ia mati meram karena aku berjanji akan melaksanakan tiga perint
kan bulu roma. Saat berikut, dua sosok bayangan menyerbu masuk, mendatangkan angin kencang.
aran tubuh manusia. Pukulan melingkar Sima Yi yang berisi tenaga dalam
an. Ternyata mereka dua orangtua pedagang kecil tadi. Luka menganga di dada tepat bagian jantung. Darah membasahi seluru
/0/4208/coverbig.jpg?v=ef5fa7481849bbf2a8fb9e85f73eb156&imageMogr2/format/webp)