“Tiga hari sebelum pernikahanku dengan pewaris Keluarga Kriminal Fazio, aku membuka kunci ponsel rahasianya. Di layar yang menyala dalam gelap, aku melihat foto seorang penari telanjang berbaring memakai kemejanya. Dia tidak sekadar berselingkuh. Dia membelikan wanita itu berlian merah muda asli seharga jutaan dolar, sementara berencana memberikanku cincin replika dari kaca murahan. Demi membela simpanannya, dia tega membentak dan mempermalukanku di depan para bawahan mafianya sendiri. Puncaknya, di malam ulang tahunku, dia mengusir dan meninggalkanku sendirian di pinggir jalan tol yang gelap gulita. Semua itu dia lakukan hanya karena wanita tersebut menelepon dan berpura-pura mengalami pendarahan kehamilan. Dia mengira aku lemah. Dia pikir aku akan menelan semua penghinaan ini dan tetap menikah dengannya karena aku hanyalah pion politik keluarga. Selama delapan tahun, aku rela menjadi boneka penurut karena aku selalu percaya dialah pahlawan yang mempertaruhkan nyawa menyelamatkanku dari kebakaran gedung opera. Namun malam ini, hatiku tidak hancur, melainkan mati rasa oleh rasa jijik yang luar biasa. Aku tidak menangis. Air mata hanya pantas untuk wanita yang tidak punya pilihan. Aku memiliki strategi. Aku mengunci diri di kamar mandi dan menghubungi nomor bos mafia rival-pria kejam yang selama ini disebut ayahku sebagai Iblis. "Pernikahannya batal," bisikku dingin. "Aku ingin beraliansi denganmu, Enzo. Dan aku ingin kau membakar habis pria itu beserta seluruh keluarganya hingga rata dengan tanah."”