Gr
aru-paruku terasa terbakar s
rti beban fisik, menekan dadaku lebih
utuh
rlindungan d
di ungu lebam, sarat denga
sebelum aku menyadari gemuruh r
bahwa aku telah meninggalkan alat bantu den
tika teras
ma
dalam air. Aku setengah tuli
kan arahku, aku berb
a di bawah naungan gudang kay
h dan
edang be
ya, tetapi aku melihat kemarahan Jo
annya ke udara, kasa
at, sepatu botku mengin
annya, tetapi getarannya pasti
h mel
emangkas jarak dalam tiga langka
bergera
, memaksakan diri me
eb
od
li ke
n anjing!
rih dan berdarah, bergetar aneh d
h mem
han, tangannya melay
kaku tetapi cukup keras untuk menembus kehe
rasi. "Aku sedang menyelama
OR
ar suara tembakan
seperti sumbat gabus yang ditarik dari
ng itu menyerpih hanya beber
ekitar kami dalam k
gap
dari balik batas pepohonan seperti baya
va
m untuk membun
h menerjang dan
tam lumpur d
ak tembaka
berg
robek udara di de
anah di bawa
n tanah di punggung bukit, men
mer
an kegelapan menela
ghantam pepohonan, merobek kulitku
keras di da
dalam rasa sak
a lumpur pekat dari
er jauhnya, berlumuran
pegangan pada akar
! Tolon
alah a
lah mas
h jalur p
h yang bisu. Beban.
n mendekat, meletup b
u sedang menurun
h men
Aku tidak b
enata
s membua
isa membawa
engunci melintasi
maaf di matanya sesaa
aling kejam yang
u," ucapnya
a terbaca s
mbelak
k naik ke te
eraih
ariknya
ri menuju ti
ri menjau
aring di
apu darah
send
tu
ak bers
uk menjadi suaraku baru saja meni
/0/36670/coverbig.jpg?v=1d7cf91d12778e3ca94a6e45ab381a57&imageMogr2/format/webp)