icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Kembalinya Sang Pewaris: Penyesalan Yang Terlambat

Bab 4 

Jumlah Kata:539    |    Dirilis Pada: Hari ini17:38

Al

pi basi yang tertinggal. Di sebuah bilik belakang yang terpencil,

muanya,

t aku membeberkan seluruh kebohongan selama lima tahun itu. Keluarga rahasia itu.

tuh. Rasa terkejut mengeras menjadi kemarahan

Aliana," sumpahnya, suaranya rendah dan tajam.

ang mereka, Debi. Aku tidak menginginkan apa pun dari mereka." Suaraku hampa emosi,

a melihatnya saat itu. Ini bukan tentang balas dendam

berkas ke seberang meja. "Ivan memiliki resep bulanan tetap. Obat penenang yang k

dan dan tidur selama dua belas jam berturut-turut. Akhir pekan saat aku terla

akit. Itu adal

n restu orang tuaku sendiri. Agar mereka bisa

hantam. "Mereka berniat memberimu obat penenang di hari ulang tahunmu, Alia

pada tempatnya. Teh itu. Teh khusus yang se

ungging di bibirku. "Kalau

bi terb

il mereka untuk yang terakhir kali," ka

kan. Aku menandatangani surat-surat perceraian. Lalu aku menandatangani dokumen yang telah dirancang Debi, menanggalkan

et penerbangan sekali jalan ke Portland

epan laptopnya di ruang kerja. Dia dengan cepat meminimalkan sebuah layar saat aku masuk, teta

ala di ponselnya yang ia tinggalkan mengha

Tidak sabar untuk mer

erti kehampaan yang dingin dan kosong. Aku tidak merasakan kesedihan. Tidak ada kem

ah tiada. Menggantikannya adalah seorang wa

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Kembalinya Sang Pewaris: Penyesalan Yang Terlambat
Kembalinya Sang Pewaris: Penyesalan Yang Terlambat
“Selama lima tahun, aku hidup dalam kebohongan yang sempurna, meyakini bahwa aku adalah istri tersayang dari seorang Capo Mafia dan putri kesayangan sang Don. Namun tepat di hari ulang tahunku, aku memergoki suamiku di taman hiburan, merayakan ulang tahun kelima putra rahasianya bersama wanita lain. Yang paling mengoyak kewarasanku bukanlah perselingkuhan itu, melainkan pemandangan orang tuaku sendiri yang ikut tertawa bahagia sambil menggendong anak tersebut. Dari celah pintu, aku mendengar suamiku tertawa meremehkan. "Aliana cuma orang bodoh yang naif, dia sekadar pajangan untuk melegitimasi anak kita." Aku bergegas pulang dan menemukan kenyataan yang jauh lebih sakit. Ayah kandungkulah yang mendanai seluruh penipuan ini lewat perusahaan cangkang. Lebih parahnya lagi, teh penenang yang selalu diseduhkan ibuku setiap akhir pekan ternyata berisi obat bius dosis tinggi. Mereka sengaja membuatku tertidur pulas agar bisa leluasa bermain peran sebagai keluarga bahagia di luar sana tanpa kehadiranku. Dikhianati, dimanfaatkan, dan dibius oleh darah dagingku sendiri membuat rasa sakitku berubah menjadi sesuatu yang dingin dan mematikan. Aku hanyalah hantu dalam kehidupan yang tidak pernah menjadi milikku, dan hantu tidak punya apa pun untuk ditakutkan. Aku tidak menangis atau melabrak mereka. Aku menyalin setiap bukti kebusukan mereka ke dalam sebuah diska lepas, lalu menandatangani surat cerai dan pelepasan hak waris. Aku mengirimkan kado perpisahan itu tepat ke tengah pesta perayaan mereka. Sementara dunia mereka mulai terbakar oleh kebenaran, aku melangkah menuju bandara, siap menghapus diriku dan memulai hidup yang baru.”