erangkatanku. Ibuku, Eleanor, sibuk merap
cantik, Sayang.
dekatnya, tampak bangga. "Si
njukan terbaik dalam hidup mereka. Aku adalah sat
-kata yang tak terucapkan. Ibuku meletakkan semangkuk kecil sup di depanku.
teksi, dari benzodiazepin yang tercampur di dalamnya. Merek
ndangnya, lalu memandang ayahku. "Sangat berarti bagiku kalian s
yuap sesendok sup. Lalu sesendok lagi. Aku menghabiskan separuh mangkuk, perutku
eningku. "Aku merasa agak... pusing. Kurasa giliran
rasa cemasnya adalah sebuah mahakarya
oilet sebentar?" tanyaku, s
desak Richard. "Kami
linya. Orang tuaku. Orang-orang yang
an itu meluncur begitu saja sebelum sempat kucegah. "Atas
a secercah sesuatu di mata mereka-mungkin
" kata ayahku, suaranya terdengar
gan. Aku tidak mendesak. Aku hanya m
kosong, aku mengunci pintu, berlutut di depan toilet, dan memaksakan diri untuk muntah, tubuhku kejang-kejang
nyalah akting, tet
sedang menunggu. Dia sudah berpakaian rapi untuk pesta itu, pesta Kiera,
il tersenyum. "Untuk kita
gal di dasar gelasku. Dosis kedua. M
ya. "Untuk kita," ulangku, suaraku terdengar ringan dan ceria. Kubiarkan dia
u meluncur dari lidahnya dengan begitu lancar dan terlatih.
an, sambil menatap tepat ke matanya, meminum semuanya sekali
n singkat. Dia berjalan keluar pintu tanpa meno
ahkan sampanye itu, tubuhku gemetar menahan rasa sakit.
n ke ruang tamu, tempat sebuah kotak hadiah yang dibungkus dengan ang
il kepadaku selama bertahun-tahun. "James," kataku. "Aku punya sebuah paket yang harus diantarkan k
onovan," katanya, sua
pas, sebuah pelantang portabel kecil
dang berlangsung meriah. Aku bisa melihat mereka semua melalui jendela-Ivan, Kiera, Leo, orang tua
i Debi. "Pesawat lepas landa
hagiaan mereka yang sempurna namun palsu. Aku tidak merasakan apa-apa. Tida
layarnya hancur membentur beton di bawahnya. Aku su
ang berkilauan itu dan berjalan menuju bandara, m
/0/36648/coverbig.jpg?v=c5aff9eea830800f0444655a669315ef&imageMogr2/format/webp)