a. Di usia kehamilan delapan bulan, rasa panas itu terasa menyesakkan, seperti selimut tebal yang me
ng ja
ewi Nabila, asisten pribadi suamiku, sedang berdiri di
a sedikit bergetar. "Udara dingin m
edung bertingkat tinggi itu. Sinar matahari memanggang kacanya. Aku bis
lapan puluh lima derajat, D
keluar, dan aku menarik napas dalam-dalam dengan penuh rasa syukur. Dewi tidak
akan keadaan sang bayi. Dia langsung berjalan ke ruang keluarga tempa
lakukan pada De
pnya, bingung. "Apa
kamu hembuskan ke arahnya hari ini menyebabkan kram parah. Dia pingsan di mejan
etapa konyol tuduhann
i berbahaya. Aku sedang mengandung anakmu. Aku khawatir kepanasan. K
edaan tinggi di antara kami te
a itu. Karena hal itu, kamu menyalahkanku atas kebe
rambutnya dengan jari tangan, sebuah gestur yang b
"Tentu saja, kamu dan bayi kita yang utama. Aku be
kan kedua tangannya di pundakku, s
an aku
nuh ketegangan yang tak bisa kujelaskan. Dia menjadi berjarak, berambisi dengan cara
berat," kataku, suaraku kini melembut.
e dalam pelukan. "Dan kamu memil
ang penonton. Aku bersandar padanya, berusaha menemukan pria yang kunikahi, tetap
p paranoid. Aku sedang hamil dan emosional. Aku harus memercaya
u, Isya," bisik
bku, tetapi kata-kata itu te
/0/36643/coverbig.jpg?v=fa402d07e18d6cb31b5725902bdf88b4&imageMogr2/format/webp)