/0/34556/coverbig.jpg?v=6b89a380f9a03b5ac531bf0ee7bd4ca6&imageMogr2/format/webp)
pengatur iklim yang seolah menyaring oksigen dari atmosfer bersama dengan debu. Itu a
ngar seperti tembakan dalam keheningan. Dia tampak lelah. Ada bayangan di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh perawatan k
u bersampul keras, posturnya sempurna, punggungnya tegak. Dia tidak mendongak saa
gannya. Dia melemparkannya ke permukaan mahoni yang dipoles. Amplop itu melu
. Dia hanya menandai halamannya dengan pita sutra dan menutup
gkin yang paling mengganggu bagi Baskara Adiputra, tidak ada rasa ingin tahu
nya serak, parau karena rapat dewan seharian dan f
a. Dia berkedip
ah," k
engharapkan air mata. Dia mengharapkan Kirana melemparkan dirinya ke kakinya, mengingatkannya akan janji-janji mereka,
," tambahnya, memutar pisau yang dia kira sudah
Gerakannya luwes, tepat. Dia melilitkan ta
atanya, suaranya mantap.
a telah memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih, selalu menunggunya, selalu tersenyum, selalu berusaha menyenangk
an melemparkannya ke kursi. "Ini adalah perjanjian perpisahan yang mengikat. Ini menguraikan pembekuan aset
n itu. Matanya memindai halaman-halaman itu, tidak membaca setia
dari nakas. Dia mengetuk ujung pena ke kertas, suara be
Ketuk
an terlalu ren
ek, tidak percaya. "Tentu saj
sudut mulutnya sedikit terangkat. Itu buk
daku. Aku memasak untukmu. Aku menghadiri pesta galakmu yang
ap tangannya ke rambut gelapnya. "Kau akhirnya menunjukkan
tidak membela kehormatannya. Dia
penthouse i
a. "Apartemen ini? Hargany
t ini likuid," lanjutnya, mengabaikan kemarahannya.
uang untuk mendanai sebuah negara kecil.
ika dia tidak meminta apa-apa, Baskara akan curiga. Jika dia meminta sega
. Dia ingin pergi ke rumah sakit dan memegang tangan Jasmine Puspita Sari. Dia tidak peduli
onselnya dan menel
properti. Setujui sahamnya. Gandakan pembayaran bulanan dalam perja
u tergagap di ujung telepon, me
italnya," teriak Baskara Ad
na masih siap di tangannya. Wajahnya
dering. Dia meneruskan dokumen
a penuh jijik. "Ini membekukan aset kita dan memulai hi
ngani namanya, Kirana Anindita Pranata Wijaya, dengan gaya. Tinta
utra yang menutupi tubuhnya, tetapi Baskara Adiputra tidak menatapn
dalam waktu sa
entuhnya. Dia tidak berbau seperti parfum bunga yang biasa dia pakai. Dia tida
aneh dan hampa di dadanya. Itu bukan penyesalan, katanya p
/0/34556/coverbig.jpg?v=6b89a380f9a03b5ac531bf0ee7bd4ca6&imageMogr2/format/webp)