“Selama dua belas tahun, aku bertahan menjadi putri buangan di keluarga konglomerat Wijaya, menoleransi segala hinaan karena dianggap canggung dan tak berguna. Namun di malam gala amal yang megah itu, tunanganku, Bima, tiba-tiba mengambil mikrofon dan mengumumkan pembatalan pernikahan kami di depan ratusan tamu penting. Dia dengan bangga menggandeng saudariku, Clara, dan mengatakan bahwa cinta sejatinya selalu ada pada gadis itu. Kerumunan langsung menghindariku seolah aku ini penyakit menular. Ibu angkatku berteriak marah, mengancam akan memutus semua akses keuanganku dan membiarkanku terlantar di jalanan jika aku berani melangkah pergi. Clara tersenyum penuh kemenangan di balik air mata palsunya, sementara Bima menatapku dengan simpati yang merendahkan, menyebutku menyedihkan dan gila. Mereka menungguku hancur. Mereka yakin bahwa aku, si mahasiswa drop-out yang tidak punya apa-apa ini, akan berlutut menangis dan memohon agar tidak dibuang. Tapi mereka tidak pernah tahu bahwa identitas 'anak buangan' ini hanyalah penyamaran sementaraku. Tanpa meneteskan air mata, aku meletakkan kartu kredit di atas meja dan berjalan keluar menuju halaman belakang yang gelap. "Aset aman. Mulai evakuasi." Hanya dalam hitungan detik, raungan baling-baling memecah malam saat sebuah helikopter militer hitam tanpa tanda mendarat untuk menjemputku, meninggalkan keluarga Wijaya yang menatap ngeri dari balik jendela.”