Wijaya adalah ruang r
ktik. Dua belas pria duduk mengelili
ganda
Wijay
us agar pas seperti baju zirah. Rambutnya diikat
a, berdiri. "Apa yang kau lakukan
ia berjalan lurus ke kursi koso
knya kelua
ra Wijaya," katanya, meletakkan map kulit
sebelah kanannya, mengangguk. "
in-main dengan pena. "Kembalilah ke rumah sakit, Adelia Wi
cangkang itu bernama PT Transportasi Puncak Biru," katanya, suaranya berbisik tenang. "Itu ceroboh, Adelia Wijaya. Dia menyedot uang melalui kontrak logistik yan
jaya memb
, suaranya terdengar jelas. "Tapi aku tahu matemati
i tepat di depannya. Itu bukan lembar kerja. Itu adalah gambar diam beresolusi tinggi dari
h membuatmu menjadi beban bagi pemegang saham p
" Hugo Wijaya membent
i masalah fiskal." Dia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, merendahkan suaranya sehingga hanya dia dan orang-orang di seb
n perusahaan cangkang itu, kartu as Adelia Wijaya, mendarat s
guhkan hak istimewa eksekutif Hugo Wijaya sambil menunggu t
r satu. Adinata mengangkat tanga
ki kesetiaan pada keluar
ma," Adinata
i, gemetar. "Aku adalah pewarisnya
uh ke depan, menyandarkan dagun
lembut. "Dan tunjukkan rasa hor
luh empat!"
a Adelia Wijaya. "Itu me
iling ruangan. Semua oran
tu keras hingga Adelia Wijaya
... Ad
rang pergilah ke kantormu dan kemasi barang
uar dari ruanga
di belakangnya di lobi. Kemudian, dia bersandar pada dinding loSembilan.
guasai
erlari kembali
alam ruangan. "Baskara!
annya-tangan ya
menangguhkan Hugo W
ng bodoh. Dia meremas tanga
nang.' (
. Dia tidak hanya bertahan hidup. Dia berjuang. Untuk perusahaan. Untuknya. Istriku ada
yang dia lakukan. Dia melepa
ertawa gugup. "Oke. Waktunya hadiah. Aku
/0/34544/coverbig.jpg?v=451d00c55c70e761bfa88b5a12116d40&imageMogr2/format/webp)