icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Menikahi Paman Pendiam dari Mantan Tunanganku

Bab 8 

Jumlah Kata:676    |    Dirilis Pada: Hari ini13:39

Wijaya adalah ruang r

ktik. Dua belas pria duduk mengelili

ganda

Wijay

us agar pas seperti baju zirah. Rambutnya diikat

a, berdiri. "Apa yang kau lakukan

ia berjalan lurus ke kursi koso

knya kelua

ra Wijaya," katanya, meletakkan map kulit

sebelah kanannya, mengangguk. "

in-main dengan pena. "Kembalilah ke rumah sakit, Adelia Wi

cangkang itu bernama PT Transportasi Puncak Biru," katanya, suaranya berbisik tenang. "Itu ceroboh, Adelia Wijaya. Dia menyedot uang melalui kontrak logistik yan

jaya memb

, suaranya terdengar jelas. "Tapi aku tahu matemati

i tepat di depannya. Itu bukan lembar kerja. Itu adalah gambar diam beresolusi tinggi dari

h membuatmu menjadi beban bagi pemegang saham p

" Hugo Wijaya membent

i masalah fiskal." Dia sedikit mencondongkan tubuh ke depan, merendahkan suaranya sehingga hanya dia dan orang-orang di seb

n perusahaan cangkang itu, kartu as Adelia Wijaya, mendarat s

guhkan hak istimewa eksekutif Hugo Wijaya sambil menunggu t

r satu. Adinata mengangkat tanga

ki kesetiaan pada keluar

ma," Adinata

i, gemetar. "Aku adalah pewarisnya

uh ke depan, menyandarkan dagun

lembut. "Dan tunjukkan rasa hor

luh empat!"

a Adelia Wijaya. "Itu me

iling ruangan. Semua oran

tu keras hingga Adelia Wijaya

... Ad

rang pergilah ke kantormu dan kemasi barang

uar dari ruanga

di belakangnya di lobi. Kemudian, dia bersandar pada dinding lo

Sembilan.

guasai

erlari kembali

alam ruangan. "Baskara!

annya-tangan ya

menangguhkan Hugo W

ng bodoh. Dia meremas tanga

nang.' (

. Dia tidak hanya bertahan hidup. Dia berjuang. Untuk perusahaan. Untuknya. Istriku ada

yang dia lakukan. Dia melepa

ertawa gugup. "Oke. Waktunya hadiah. Aku

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Menikahi Paman Pendiam dari Mantan Tunanganku
Menikahi Paman Pendiam dari Mantan Tunanganku
“Dua puluh menit sebelum pemberkatan pernikahanku dengan pewaris Dinasti Wijaya, aku berdiri di depan pintu Presidential Suite. Bukannya antisipasi bahagia, aku malah mendengar erangan serak dan cekikikan dari dalam kamar. Ternyata, tunanganku Hugo sedang bergumul di atas ranjang dengan kakak tiriku, Flora, yang dengan bangga memakai kalung berlian pengantinku. Saat aku memergoki mereka, Hugo sama sekali tidak panik atau merasa bersalah. "Jangan khawatirkan orang udik itu," geram Hugo pada Flora. "Setelah pernikahan selesai dan dana perwalian cair, aku akan membuang sampah itu kembali ke kampungnya. Aku cuma butuh akta tanahnya." Ternyata, perjanjian pranikah bernilai miliaran dolar yang baru saja kutandatangani hanyalah jebakan untuk merampas satu-satunya harta peninggalanku. Aku tidak berteriak histeris atau menangis tersedu-sedu seperti pengantin yang patah hati. Rasa mual di perutku seketika membeku, digantikan oleh ketenangan yang sangat mengerikan dan dingin. Selama ini aku ditindas dan dijual oleh ibu tiriku untuk melunasi utang judinya, dan sekarang keluarga kaya ini mengira mereka bisa memanfaatkanku sebagai pion yang bodoh. Aku mengambil korek api, membakar dokumen pranikah itu, dan menahannya tepat di bawah detektor asap. Saat alarm menjerit dan lumpur hitam berbau busuk dari penyiram air mengguyur tubuh telanjang mereka, aku membuka pintu kamar lebar-lebar untuk membiarkan para paparazzi memotret skandal abad ini. Karena mereka ingin bermain kotor, aku akan menggunakan aturan main mereka sendiri. Aku tidak akan melarikan diri, aku akan menikahi paman Hugo yang sedang koma-sang legenda keluarga Wijaya yang ditakuti-untuk menjadi nyonya besar dan menghancurkan mereka semua dari dalam.”