icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dilindungi Bos Militer yang Kejam

Bab 5 

Jumlah Kata:1098    |    Dirilis Pada: Hari ini11:58

erasakan pergeseran udara yang tiba-tiba dan keras. Sebuah beb

ng otot yang kokoh. Dunia berputar tak terkendali saat mereka terguli

ar benturan, punggungnya membentur pagar. Namun lengan yang melingkarinya tidak pernah mengendur. Dia mel

a jatuh bergema di poros beton, bercampur dengan

tiba, semua

jahnya menempel di kerah seragam pria itu. Dia bisa mencium bau darah yan

mbuka

lekukan leher Clarissa. Dia berat, bobot tubuhnya yang tak

siknya, suara

sedikit bergeser, menopang dirinya dengan lengan bawahnya. Wajahnya hanya

rtama yang dia lakukan adalah menatap Clarissa. Tatapannya menya

nyanya. Suaranya

anya. Jantungnya berdebar sangat cepat hingga dia pikir akan m

terbuka. Sepatu bot berat ber

i mendadak di pendaratan di atas mereka. Dia melihat pemandangan itu-atasannya terbar

uduk bersandar pada tumitnya, memegang lengan kanannya di dada. Bahu seragamnya r

embentak, suaranya se

timur," Baskoro melaporkan, wajahnya muram.

etapi kakinya lemas. Baskoro menerjang maju, mera

butuh ten

ari Baskoro, sedikit terhuyung. Dia menatap Clarissa, yang masih duduk di la

ajahnya dari luka di dahinya, dan dia memberikan perintah. Dia baru saja menjatuhkan dirinya menuruni

koro bertanya, menawarkan

ke dinding, matanya masih tertuju pada Adiwijaya. Dia bersanda

ulai, suaranya pec

ci rumah sakit. Tidak ada yang boleh masuk atau keluar. Aku ingin tinjauan

kter-" Baskor

arissa tanpa melihatnya, menaiki tangga dengan langkah kaku dan kesakitan. "Bawa dia ke tempat aman. Dan

pa di dadanya. Dia ingin mengatakan sesuatu-terima kasih, m

balau. Para dokter dan perawat berlarian, Polisi Militer

at. "Ya Tuhan, Clarissa! Kau baik-bai

atis. Tapi dia tidak baik-baik saja. Dia gemetar,

arkan lengannya di bahu Claris

. Di ruang istirahat, Clarissa ambruk di sofa, kakinya akhirn

enda berkata, menepuk luka

is kesakitan. "

nempelkan bantalan kasa di atasnya dan duduk di sam

bunuh, sensasi pisau bedah di kulitnya, perasa

aku melihat sepatunya. Dan cara dia memega

mperhatikan sepatunya? Saa

sebelumnya," Clarissa berkat

hu tidak? Desas-desus sudah menyebar gila-gilaan. Mereka bilang K

ni lebih kuat. "Dia melakukannya. Dia hanya... melingkarka

bahunya berantakan. Mungkin skapulanya retak. Dia akan

sa. Dia telah mengorbankan tubuhnya untuk melindunginy

kata lembut. "Kau syok. Kau ti

larissa berkata, suaranya

u? Sesu

ng di lehernya. "Kencan. Aku harus meminta maaf

issa, kau baru saja disandera!

ka aku tidak pergi, ibuku akan menelepon rumah sakit. Dia akan menelepon Gunawan Prakoso. Dia akan membuat keributan yang akan bergema di seluruh lorong ini selama sebulan. Aku tidak bisa... aku tidak bisa

atapnya dengan tidak percaya. Dia berjalan melewati para penjaga, mele

g pembunuh. Sekarang dia haru

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dilindungi Bos Militer yang Kejam
Dilindungi Bos Militer yang Kejam
“Ibuku selalu memperlakukanku seperti barang dagangan, memaksaku kencan dengan pria kaya yang terang-terangan merendahkan profesiku sebagai perawat. Hingga suatu malam, sebuah kode darurat militer memanggilku kembali ke rumah sakit. Di ruang ICU, seorang pembunuh bayaran menyamar sebagai dokter, menodongkan pisau bedah ke leherku, dan mendorongku jatuh dari tangga. Nyawaku nyaris melayang jika saja Kolonel Baskara Adiwijaya tidak mengorbankan tubuhnya untuk melindungiku hingga bahunya terluka parah. Namun, saat aku pulang dengan leher berdarah dan tubuh gemetar karena trauma, ibuku sama sekali tidak peduli. Ia malah berteriak dan memaksaku pergi menemui pria kencan buta itu untuk meminta maaf karena telah meninggalkannya di restoran. Di depan umum, pria brengsek itu menertawakan luka sayatan di leherku, menyebutku pembohong murahan, lalu mencengkeram lenganku dengan kasar. Ibuku yang mengetahui hal ini justru menyalahkanku, mengatakan aku pantas dikasari karena tidak tahu cara mengambil hati pria yang bisa menafkahi. Aku baru saja lolos dari maut dan masih diburu oleh pembunuh bayaran, tapi keluargaku sendiri dengan kejam membuangku ke neraka demi uang dan reputasi. Tepat saat aku merasa benar-benar hancur dan putus asa, sosok Kolonel Adiwijaya muncul membelah kerumunan. Ia mengusir pria itu, menatapku dengan mata abu-abunya yang tajam, dan menyatakan bahwa aku kini berada di bawah perlindungan militernya. Hari itu juga, aku menandatangani akta nikah bersamanya, membanting kertas sah itu tepat di depan wajah ibuku yang pucat pasi, dan melangkah keluar dari rumah beracun itu untuk selamanya.”