icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Satu Malam Bersama Bos Miliarderku

Bab 9 

Jumlah Kata:659    |    Dirilis Pada: Hari ini11:56

u dengan kartu SIM dan kotak iPhone barunya, berjanji untuk mempercepat proses pemulihan da

ng lalu. Dia telah menghabiskan beberapa jam terakhir mengisi laporan insiden tanpa henti untuk HR, menjalani protokol gegar ota

ujan deras menghantam jendela kaca, mengubah

a. Pukul 8 malam. Dia telah

ganti kemejanya. Dia berjalan sedikit pincang, tetapi

ni?" tanyanya, b

ngan dataku. Dan dia bilang b

ke jendela. Di

mengantarm

au tidak seharusny

ya sopir

dalam diam-lift yan

ap Maybach. Halina merasa lelah. Gejolak emos

jendela kaca yang dingin dan

obil telah berhenti. Hujan te

esuatu yang berat dan hanga

jas Ezra. Y

berkas di tabletnya, cahaya biru

katanya tan

apa

udah parkir selam

reka berada di depan sebuah patiss

kita d

meraih ke ruang kaki dan mengel

rahkannya

unan gula da

embuka k

tart cokelat hitam yang l

gat mahal. Itu adalah jenis barang yang kau beli untuk seseorang ketika ka

endongak menatapnya. "Kau

a. Matanya lembut dala

Halina. Aku men

akannya, tetapi kehangatan kotak kue di

l lagi dan melaju dua

tap pria yang telah membuatnya ketakutan, menj

mobil untuknya. Dia melihatnya, kini sudah

ih di tem

butuhkan tangkapan layar. Dia tidak mem

noleh

k itu,"

ter

adaku. Vers

tapnya. "

ng menyedihkan tempat dia tinggal. Dia menatap pria yang telah menaiki em

eluarga Pratama," kat

dapatkannya,"

k. "Aku ingin mendesain. Sunggu

s di belakang telinganya. Jari-jarinya berlama-lama di pipinya, men

mbil kopi, Halina. Kau punya visi. Aku su

. Dia telah me

nya kembali. "Sampai j

di trotoar dan menyaksikan lampu belak

seperti kemenangan. Dan mungkin, h

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
“Selama tiga tahun, aku mengorbankan segalanya untuk mendukung karier pacarku, sementara aku rela hanya menjadi asisten junior yang tak terlihat. Hingga suatu pagi setelah malam amal yang kacau, aku terbangun di atas seprai sutra di ranjang penthouse milik CEO perusahaanku yang dingin dan ditakuti, Ezra Wijaya. Malam itu, pacarku, Indra, mengabaikan semua panggilanku dengan alasan ketiduran. Di saat aku dihantui rasa panik karena Ezra menjebak dan memaksaku menandatangani kontrak pernikahan demi menstabilkan sahamnya, sebuah kebenaran lain menamparku. Aku melacak lokasi ponsel Indra dan menemukan titik biru itu tidak berada di rumahnya, melainkan berhenti tepat di gedung sahabat baikku, Liana. "Aku lembur malam ini, Sayang," pesannya dengan manis. Padahal dia sedang tidur dengan sahabatku sendiri. Tiga tahun kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan oleh dua orang yang paling kupercayai. Hatiku hancur, berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang. Mengapa mereka tega mempermainkanku selama ini? Di saat aku merasa terekspos dan tidak punya siapa-siapa lagi, Ezra justru menyodorkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin kutolak. Dia mengetahui rahasia terbesarku, dan dia menawarkan akses langsung ke Senator Pratama-pria berkuasa yang telah menghancurkan hidup ibuku dua puluh tahun lalu. Aku membuang bunga pemberian Indra ke tempat sampah, lalu menatap pria paling berkuasa di New York itu. "Aku ingin akses ke Keluarga Pratama. Itu syaratku." Malam ini, berbalut gaun sutra zamrud dan menggenggam erat tangan Ezra di karpet merah, aku menatap wajah pucat pasi mantan pacar dan sahabatku yang terkejut melihatku. Pembalasan dendamku baru saja dimulai.”