, dan remang-remang-jenis tempat di mana o
di pangkuan. Indra menuangkan anggur dari botol
senyumnya yang sempurna dan terlat
ium udara. Di bawah aroma bawang putih da
el N
tu juga aroma khas Liana. Liana, yang duduk tiga m
suaranya tetap tenang. "Apa
angkat beberapa hari lebih awal. Bertemu dengan beberapa pemas
hari le
itu tidak sampai ke matan
e bilik, dia mengeluarkan ponselnya.
r malam ini, jadi aku b
gu. Satu m
nya be
t. Kram perut yang parah. Aku di tempat ti
iana datang bulan di aw
selnya menghadap ke atas di taplak meja
k saja," kata Halina polo
pandangannya dari menun
dengan notifikasi. Dia telah mengatur
iran Gambar)
onsel Indra, yang tergeleta
a. Dia memeriks
benar lupa, aku ada panggilan konferensi dengan tim Tokyo d
a. Kebohongan itu begi
katanya. "Pe
i jalan dan memanggilkan Uber untuknya. Dia mencium pipinya
," katanya k
dan berjalan cep
annya pergi. "Sopi
ra memanggil ta
laptop Indra untuk mentransfer beberapa foto, dan dia mengaktifkan "Lacak iPhone" secara iseng, be
tu. Titik biru yang me
a di Tribeca. Itu menuju ke Kaw
emen
itu berhenti tepat
asa dingin. Dingin yang menusuk tulang. Tiga tahun. Tiga tahun mendukungnya,
ya pelan. "Ant
apartemennya, dia melihat buket bunga yang dikirim Indra kemarin-sebuah isya
daknya ke
nya be
ampai rumah de
n pria ini sungguh luar biasa. Dia
satu-satunya orang
tiker. Seekor anak kucing sedih da
emudian, bal
pint
lari ke pintu dan melih
ya yang kumuh, terlihat sangat tidak pada tempatn
/0/34538/coverbig.jpg?v=86d4a6d10b5af37bf97469a0d77ef220&imageMogr2/format/webp)