icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Satu Malam Bersama Bos Miliarderku

Bab 7 

Jumlah Kata:616    |    Dirilis Pada: Hari ini11:56

, dan remang-remang-jenis tempat di mana o

di pangkuan. Indra menuangkan anggur dari botol

senyumnya yang sempurna dan terlat

ium udara. Di bawah aroma bawang putih da

el N

tu juga aroma khas Liana. Liana, yang duduk tiga m

suaranya tetap tenang. "Apa

angkat beberapa hari lebih awal. Bertemu dengan beberapa pemas

hari le

itu tidak sampai ke matan

e bilik, dia mengeluarkan ponselnya.

r malam ini, jadi aku b

gu. Satu m

nya be

t. Kram perut yang parah. Aku di tempat ti

iana datang bulan di aw

selnya menghadap ke atas di taplak meja

k saja," kata Halina polo

pandangannya dari menun

dengan notifikasi. Dia telah mengatur

iran Gambar)

onsel Indra, yang tergeleta

a. Dia memeriks

benar lupa, aku ada panggilan konferensi dengan tim Tokyo d

a. Kebohongan itu begi

katanya. "Pe

i jalan dan memanggilkan Uber untuknya. Dia mencium pipinya

," katanya k

dan berjalan cep

annya pergi. "Sopi

ra memanggil ta

laptop Indra untuk mentransfer beberapa foto, dan dia mengaktifkan "Lacak iPhone" secara iseng, be

tu. Titik biru yang me

a di Tribeca. Itu menuju ke Kaw

emen

itu berhenti tepat

asa dingin. Dingin yang menusuk tulang. Tiga tahun. Tiga tahun mendukungnya,

ya pelan. "Ant

apartemennya, dia melihat buket bunga yang dikirim Indra kemarin-sebuah isya

daknya ke

nya be

ampai rumah de

n pria ini sungguh luar biasa. Dia

satu-satunya orang

tiker. Seekor anak kucing sedih da

emudian, bal

pint

lari ke pintu dan melih

ya yang kumuh, terlihat sangat tidak pada tempatn

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
“Selama tiga tahun, aku mengorbankan segalanya untuk mendukung karier pacarku, sementara aku rela hanya menjadi asisten junior yang tak terlihat. Hingga suatu pagi setelah malam amal yang kacau, aku terbangun di atas seprai sutra di ranjang penthouse milik CEO perusahaanku yang dingin dan ditakuti, Ezra Wijaya. Malam itu, pacarku, Indra, mengabaikan semua panggilanku dengan alasan ketiduran. Di saat aku dihantui rasa panik karena Ezra menjebak dan memaksaku menandatangani kontrak pernikahan demi menstabilkan sahamnya, sebuah kebenaran lain menamparku. Aku melacak lokasi ponsel Indra dan menemukan titik biru itu tidak berada di rumahnya, melainkan berhenti tepat di gedung sahabat baikku, Liana. "Aku lembur malam ini, Sayang," pesannya dengan manis. Padahal dia sedang tidur dengan sahabatku sendiri. Tiga tahun kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan oleh dua orang yang paling kupercayai. Hatiku hancur, berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang. Mengapa mereka tega mempermainkanku selama ini? Di saat aku merasa terekspos dan tidak punya siapa-siapa lagi, Ezra justru menyodorkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin kutolak. Dia mengetahui rahasia terbesarku, dan dia menawarkan akses langsung ke Senator Pratama-pria berkuasa yang telah menghancurkan hidup ibuku dua puluh tahun lalu. Aku membuang bunga pemberian Indra ke tempat sampah, lalu menatap pria paling berkuasa di New York itu. "Aku ingin akses ke Keluarga Pratama. Itu syaratku." Malam ini, berbalut gaun sutra zamrud dan menggenggam erat tangan Ezra di karpet merah, aku menatap wajah pucat pasi mantan pacar dan sahabatku yang terkejut melihatku. Pembalasan dendamku baru saja dimulai.”