icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru

Bab 2 

Jumlah Kata:1180    |    Dirilis Pada: 09/12/2025

iani

ap sebagai istri jahat, gila harta, dan penipu. Sementara Meisya, dia dipoles menjadi korban tak berdosa, seorang gadis

tikan Galvin mendengarnya dengan jelas. "Term

dan sedikit geli. Mungkin dia berpikir aku masih wanita ya

anya, seolah itu adalah permi

u inginkan. Atau kau bisa memilih jalur yang sebenarnya. Biarkan ak

tasi sebagai CEO yang ceroboh dan selingkuh, itu akan jauh le

ing. Ada nada meremehkan dalam suaranya, seolah dia yakin aku akan

gerakan cepat dan tegas, aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas. Surat

nya mencari jejak kesedihan, kemarahan, atau putus

acanya dulu?" Dia bertan

a. "Tidak perlu. Aku ta

an, sedikit kebingungan. Tapi itu bukan urusanku lagi. Di

a, "Siapa yang lebih penting bagimu, Galvin? Aku atau dia?" Dia hanya menjawab, "Meisya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Indri. Kau pu

ia selalu menganggap cintaku padanya mutlak, tidak a

Aku bertanya, memecah keheningan. "A

stenku akan menghubungimu be

. Kulemparkan cincin itu ke meja, tepat di samping surat cerai yang sudah kutandatangan

n itu, lalu menatapk

k membutuhkanny

a berjalan keluar ruangan. Meisya, yang tadinya terdiam di pelukannya, ki

," katanya, suaranya manis, t

an senyum manis, tapi senyum yang

hidupan ini, aku tidak lagi bermain sebagai korban. Aku adal

Dia mengirimkan foto. Foto dirinya sedang duduk di sofa mewah di apartemen kami, mengenakan

lvin sangat mengkhawatirkanku sampai tidak

buru. Hanya rasa geli yang dingin. Dia begitu yakin dia bisa memprov

n tangkapan layar pesan itu. Bukt

n amarah, menuduhnya, dan melemparkan kata-kata pedas. Tapi itu adalah

hidupan lampau, setelah perceraian "palsu" itu meledak.

emannya. "Dia melakukan ini demi Meisya. Meisya sanga

mataku mengalir. "Aku tidak

terdengar seperti penghinaan. "Galvin butuh pahlaw

ancuran mental. Mereka bilang Galvin berhutang nyawa pada ayah Meisya, dan inilah cara dia melunasin

bekerja. Aku tahu Meisya bukan korban, tapi dalang. Aku tah

patan kedua. Kesempatan untuk tidak lagi menjadi

aku mengiyakan setiap permintaannya tanpa protes. Termasuk kehad

bisa hadir. Ini untuk menunjukkan bahwa p

pis. "Tentu saja

arap Galvin akan berubah pikiran. Biarkan saja.

kirimkan detail acara dan bu

n dari drama mereka, ya? Mengikuti skenario mereka? Baikl

n kamera. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata, tapi aku tetap tenang. Aku mengenakan gaun yang mereka p

lingy seperti biasa. Meisya mengenakan gaun putih bersih, tampak pucat dan

babi buta. Dia berbicara dengan nada lembut kepada Meisya, seolah mengusirnya dar

it kekhawatiran di sana, mungkin juga sedikit rasa bersalah. Tapi itu buka

ipis. Senyum yang tidak menunjukkan rasa saki

mengatakan semua ini adalah kesalahan, bahwa dia memilihku. Tapi itu hanya bisikan kecil dari Ind

at. Ketika aku membukany

aktunya pertunjukan. Bagiku, ini juga wak

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru
Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru
“Demi menyelamatkan seorang influencer muda yang terkena skandal, suamiku memintaku untuk bercerai dan menjadi kambing hitam. Meisya, anak angkat dari mendiang sopirnya, tertangkap kamera masuk hotel dengan pria beristri. Namun, Galvin justru menyuruhku mengorbankan diri. "Indri, reputasimu bisa menyelamatkan Meisya. Kita cerai dulu, biarkan publik mengira kau istri yang jahat dan gila harta." Di kehidupan sebelumnya, aku menangis dan menolak ide gila itu. Akibatnya, Galvin merekam amukanku diam-diam, mengeditnya, dan menyebarkannya ke internet. Aku dihujat satu Indonesia sebagai wanita kasar dan tidak tahu diri, sementara Meisya dipuja sebagai korban yang polos. Depresi dan hancur, aku tewas dalam kecelakaan mobil saat dikejar wartawan. Ketika membuka mata lagi, aku kembali ke momen saat Galvin menyodorkan surat cerai itu di ruang kerja kami yang dingin. Dia menatapku, menunggu reaksiku yang biasanya histeris. Tapi kali ini, aku tidak menangis. Aku mengambil pena dengan tenang, menatap matanya, dan tersenyum tipis. "Baik, aku setuju kita bercerai." "Tapi ada syaratnya. Semua aset, saham perusahaan, dan rumah ini... harus dipindahnamakan atasku sekarang juga."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10