icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha

Bab 3 

Jumlah Kata:517    |    Dirilis Pada: 29/10/2025

ANA

ercampur teror menyelimutiku. Kebebasan. Aku memegangnya di tanganku, s

pasangan, yang sekarang secara resmi diputuskan oleh tangannya sendiri, mulai terurai

an telinga. Aku berjalan melewati kamar-kamar mewah, melihatnya apa adanya: seb

elku. Itu adalah email terenkripsi

i Sanggar Seni Kaki Gunung Salak di Bogor telah d

i Bulan sendiri. Sebuah jalan ke

, aku menjawab, "Saya

i jalan ke Bogor. Aku memesannya, email konfirm

s catku yang usang, buku sketsaku yang penuh dengan visi-visi panik, beberapa novel tua dengan p

osisiku-semuanya kutinggalkan di lemari-lemari besar, sep

setiap pagi. Aku menyalahkannya pada stres, pada trauma spiritual dari Penolakan. Ikatan itu

gkus kanvas, sebuah pikiran muncul. Aku

. Sudah

yang berpasangan dengan Alpha yang ku

bar kencang di dada. Dalam perjalanan ke toko perlengkapan seni, kakiku membawaku, s

sepotong Kelopak Rembulan yang dipoles, zat yang berea

aku mengikuti instruksi sederhana itu. Aku teringat sebuah teks lama yang pernah kubaca, sebuah peringatan tentang anak-ana

ku men

terlama dal

tongan Kelopak Rembulan. Cahaya itu semakin terang,

ang sempurna

si

ha

ng anak. Itu adalah pewaris Kawanan Rajawali, perpaduan

nyembuhkan diri dalam kesendirian, langsung ha

anakku dari ayah yang t

-

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
Jodoh Serigala Putih yang Ditolak Sang Alpha
“Malam itu adalah malam pameran seni tunggalku yang pertama, tapi pasangan Alpha-ku, Baskara, tidak terlihat di mana pun. Udara di galeri terasa sesak oleh aroma sampanye dan pujian, tapi setiap pujian terasa seperti tamparan, menyebutku "pasangan sang Alpha," bukan seorang seniman. Lalu aku melihatnya di siaran berita. Dia sedang melindungi wanita lain, seorang Alpha Wanita, dari kilatan kamera. Bisikan di dalam ruangan membenarkannya: kawanan mereka akan bergabung, disegel oleh ikatan baru. Ini bukan hanya tentang keterlambatannya; ini adalah eksekusi publik atas ikatan kami. Suaranya menusuk pikiranku, dingin dan tanpa perasaan. "Kania membutuhkanku. Kau seorang Omega, tangani ini." Bukan permintaan maaf, hanya sebuah perintah. Saat itulah helai harapan terakhir yang kugenggam selama empat tahun akhirnya putus. Dia tidak hanya melupakanku; dia telah secara sistematis menghapusku, bahkan mengambil kredit atas aplikasi bernilai triliunan rupiah yang lahir dari visi rahasiaku, menganggap seniku hanya sebagai "hobi." Tapi bagian diriku yang pendiam dan penurut mati malam itu. Aku berjalan ke sebuah ruang belakang dan mengirim pesan kepada pengacaraku. Aku menyuruhnya untuk menyusun dokumen Ritual Penolakan, yang disamarkan sebagai transfer Hak Kekayaan Intelektual untuk karya seniku yang "tidak berharga". Dia tidak akan pernah membaca tulisan kecilnya. Dengan kesombongan yang sama yang dia gunakan untuk menghancurkan jiwaku, dia akan menandatangani kehancurannya sendiri.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 11