“Selama tiga tahun, aku menyerahkan hidupku sebagai "Nemesis," pengacara tak terkalahkan itu, demi menjadi istri sempurna untuk jaksa bintang Jakarta, Baskara Wijoyo. Aku menukar berkas-berkas hukumku dengan buku resep, percaya aku bisa menyembuhkan pria yang kucintai. Di hari jadi pernikahan kami, dia pulang mabuk, menciumku dengan putus asa, dan membisikkan nama wanita lain. "Aurelia," bisiknya. "Aku tahu kau akan kembali padaku." Tapi putusan akhir pernikahan kami jatuh di sebuah restoran. Ketika seorang pelayan menumpahkan seteko kopi panas, Baskara tidak ragu sedetik pun. Dia melompat untuk melindungi mantan kekasihnya, Aurelia, dari beberapa tetes kopi. Sisa kopi panas dari teko itu menyiram lenganku, menyebabkan luka bakar tingkat dua. Dia panik hanya karena bekas kemerahan kecil di tangan Aurelia, dan langsung membawanya ke klinik pribadi. Dia bahkan tidak pernah melirik kulitku yang melepuh. Dia hanya menyodorkan kartu kreditnya padaku. "Naik taksi saja ke UGD," katanya. "Nanti aku telepon." Saat itulah istri yang berbakti itu mati. Aku berjalan keluar dan tidak pernah menoleh ke belakang. Tiga bulan kemudian, aku berdiri di seberangnya di ruang sidang, mewakili pria yang dia tuntut dalam kasus terbesar dalam kariernya. Dia tidak tahu bahwa ibu rumah tangga pendiam yang dia buang adalah legenda hukum yang dikenal sebagai Nemesis. Dan aku akan menghancurkan rekor sempurnanya yang tak terkalahkan.”