“Pada akhirnya, cinta mampu menundukkan bahkan hati yang paling beku sekalipun. Arden Valez-seorang pria yang dikenal tak punya belas kasih, keras, dan penuh luka masa lalu-tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah karena kehadiran seorang perempuan yang dulu ia remehkan. Semua bermula dari kepura-puraan. Dari kebencian yang ia rawat, dari amarah yang ia pelihara, dan dari dendam yang semula ia anggap sebagai pelindung dari rasa sakit. Namun takdir punya cara aneh dalam mengajar manusia. Penyesalan Arden atas dosa-dosa di masa lalunya kini menjadi bayang-bayang yang tak pernah berhenti menghantuinya. Setiap malam, setiap hembus napasnya, selalu dipenuhi ketakutan akan kehilangan satu-satunya hal yang pernah membuatnya merasa hidup- Seren Ayandra. Sejauh apa pun Seren mencoba melarikan diri, sejauh apa pun langkahnya menjauh dari pria yang dulu menghancurkan hidupnya, hatinya selalu kembali ke tempat yang sama: ke pria yang membuatnya mati rasa. Karena entah bagaimana, luka itu justru menjadi jembatan yang mengikat jiwa mereka. Arden-dengan segala kesalahan, keangkuhan, dan amarahnya-adalah badai yang dulu membuat hidup Seren porak-poranda. Namun badai yang sama pula yang kini memberinya arah untuk kembali pulang. Bahkan ketika raganya mungkin telah hancur, bahkan ketika dunia tak lagi berpihak pada mereka, jiwa Seren akan selalu menemukan jalannya kembali menuju pria itu. Ke dalam dada yang dulu membakarnya habis-habisan, tapi kini menjadi satu-satunya tempat di mana ia merasa aman. Dua jiwa yang bertolak belakang, dipertemukan semesta bukan untuk saling melengkapi-melainkan untuk saling menyembuhkan. Arden yang menolak takdir, dan Seren yang pasrah pada kepedihan hidupnya, dipaksa waktu untuk menua bersama dalam keterikatan yang tak dapat dijelaskan. Cinta mereka lahir dari kehancuran, tumbuh dari luka, dan bertahan di antara rasa bersalah serta pengampunan. Namun pada akhirnya, mungkin itulah bentuk cinta yang paling murni- Cinta yang tidak sempurna, tapi nyata.”