“Disaat dunia runtuh di hadapannya, ketika napas terakhir putra kecilnya bergantung pada seutas harapan yang rapuh, Rafaela justru harus menelan kenyataan paling pahit. Suaminya, Naren, memilih pergi-bukan untuk mencari pertolongan, tapi untuk menjemput cinta lamanya, wanita yang dulu pernah ia sebut hanya masa lalu. Ketika monitor rumah sakit berhenti berdetak, menandakan akhir dari kehidupan kecil yang pernah membuat rumah mereka hangat, Naren sedang tersenyum-menyambut kepulangan wanita itu dengan pelukan dan tawa di pesta penyambutan. Rafaela menatap langit-langit kamar putih itu dengan mata kosong. Tak ada air mata tersisa. Yang tersisa hanya hampa. Tiga tahun pernikahan yang ia perjuangkan, sepuluh tahun cinta yang ia yakini tak akan goyah-semuanya musnah bersamaan dengan kepergian anaknya. Perlahan, ia menutup mata. Untuk pertama kalinya, Rafaela tak ingin lagi berjuang. Hatinya membeku, dan seluruh dirinya tenggelam dalam keheningan yang mematikan.”