“Bagi Dens Bagus, pintu kamar kos nomor tujuh berwarna cokelat pudar itu adalah gerbang menuju dunia baru. Di usia tujuh belas tahun, ia meninggalkan kehangatan rumahnya demi menimba ilmu di Kota Solo, kota yang terasa asing dan riuh. Di sebuah kos sederhana dengan lorong yang selalu bergema, ia bertemu mereka: Bu Kos yang omelannya menyembunyikan perhatian, Mei Lin yang tawanya menular, Li Hua yang sketsanya berbicara lebih banyak dari kata-kata, Fajar yang menyebalkan namun rapuh, dan Mas Arya yang misterius.”