icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku

Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku

icon

Bab 1 sebagian karena pilihan

Jumlah Kata:1951    |    Dirilis Pada: 04/10/2025

etelah lima tahun tenggelam dalam gemerlap dan kesibukan dunia fesyen di Milan, kembalinya ia ke sini, ke depan rumah sederhana namun asri

ritkan label "mahal" dan "berani," ciri khas gaya hidup yang baru ia tekuni. Rambut cokelat gelapnya yang bergelombang ditata acak, dan sepasang kacama

label internasional di tepi jalan setapak berkerikil. Kinan tak peduli dengan tatapan penasaran tetangga

depannya. Sebuah plakat kecil bertuliskan "Keluarga Arsyad" tergantung di gerbang. Ya,

bel, namun sebelum jarinya menyentuh

uhan, kamu s

engan Kinan bagaikan langit dan bumi. Airin tampak lebih tenang, lebih matang, dan raut wajahnya memancarkan keb

t-erat. Pelukan yang hangat, tulus, dan penuh rasa rindu ya

in adalah aroma rumah-aroma sabun cuci, bedak bayi, dan sedikit minyak kayu

ayang, masuk! Kenapa berdiri di sini?" Airin melepaskan pelukan dan menangkup wajah adiknya dengan kedua tanga

. Ia tak ingin Airin tahu bahwa di balik kesuksesannya, ia

nakal. "Tidak perlu repot-repot, Nona Fesyen. Yang pe

an melangkah masuk. Interior rumah itu didominasi warna krem dan cokelat muda, dengan dekorasi yan

sti capek sekali, kan?" kata Airin samb

il yang asyik bermain di atas karpet beludru abu-abu. Seorang anak perempuan dengan

lunak penuh kasih sayang. "Putri kesayanga

una, yang mengenakan gaun tutu merah muda kusam, mendongak. Mata bulatnya yang bes

umpulkan. Ia jarang berinteraksi dengan anak kecil; dunianya penuh

memperlihatkan gigi depa

g cantik. Kamu

wab Luna, pe

Boleh Tante duduk di sini da

gi. Senyum yang terasa lebih nyata dan tidak

. "Kinan, kamu pasti haus dan lapar. Kakak akan ke dapur sebentar, buatkan kamu es lemon

api matanya terpaku pada Luna. "Pergilah, Kak. Aku akan

ri matanya. Ia bergegas menuju dapur, yang t

una. "Baiklah, Putri Luna. Ayo kita lihat s

nyusun balok, sebuah bayangan ting

lakang Kinan, memanggil Luna. "Princess Ayah, sudah j

maskulin, dan ia benar-benar tidak menyadari a

ya langsung bertabrakan dengan sosok

eolah m

a i

rawakannya atletis, bahunya lebar, dan tinggi badannya pasti jauh di atas rata-rata orang Indonesia. Wajahnya adalah perpaduan pahatan sempurna. Garis rahang tegas, hidun

melihat foto Liam di media sosial, tetapi foto-foto itu tidak adil-tidak menangkap aura dan intensitas yang ki

g, melupakan istananya, dan

Kinan sekali lagi, kali ini dengan senyum yang lebih ramah dan hang

rin," katanya, suaranya yang dalam menggema sedikit di ruang keluarga. Ia m

untuk menarik perhatian pada garis lehernya. Ia membalas jabat tangan Liam. Tangan Liam besar, hang

nakan di depan kamera. Ia membiarkan kontak mata mereka berlangsung sedikit lebih lama dari seharusnya. "Dan An

odaan yang telah ia asah selama bertahun-tahun di panggung dunia. Ma

a yang membuat Kinan me

malu-malu, sebelum kembali menatap mata Kinan. Kinan melihat bayangan dirinya-gaun merah, sepatu hak tinggi, t

Anda nyaman, Kinan," tambah Liam, tetapi suarany

Terima kasih, Liam. Cukup nyaman. Saya tidak sabar untuk mengejutkan Kakak lagi. Saya h

dan langkahnya terhenti. Ia melihat tasnya ada di atas meja kayu k

s pada tasnya, dan mungkin sedikit terganggu oleh kehad

kehilangan

ginya terpelintir. Ia oleng. Dalam detik-detik mengerikan itu, ia hanya bisa membayangkan

inginnya lantai, dua lengan yang s

erak sece

menjauh, terbiasa dengan drama kecil-dan melomp

berta

Liam mencengkeram Kinan di pinggang dan punggung, menahan tubuhnya. Kinan se

ng sangat intim. Kinan berlutut sedikit, tub

ya berjarak bebe

bintik kecil kecokelatan di dekat sudut mata kanannya, dan napasnya yang hangat menerpa bibir Kin

ahu apakah itu karena syok karena hampir jat

a pesona dan godaan Kinan telah runtuh, digantikan oleh kerentanan murni. Di mata Liam, Kinan melihat sesua

a tidak bergerak. Ia

ka semakin

a berpikir. Semua kehati-hatian, semua batas, semua rasa hormat

ngkan kepal

at, percaya diri, dan mendominasi, Li

dan lebih mendesak, saat bibir Liam menuntut Kinan. Kinan, tanpa berpikir, tanpa perlawanan, membalas

, sebuah pengakuan tanpa kata bahwa apa yang terjadi di antara mereka dalam waktu k

a beberapa detik, tetapi terasa se

gelap karena hasrat yang kini tercermin di mata Kinan.

m adalah bisikan ser

apnya. Bibirnya perih,

engar dari ambang pintu dapur,

m di situ? Kinan, ini, Kakak bu

dekat, ceria, tak

tangannya seolah-olah kulit Kinan membakar. Kinan berdir

ta Liam, berhasil mengendalikan suaranya, tampak tenang, seolah tidak ada

k apa-apa? Kamu pakai sepatu hak setinggi it

r kencang. Ia mengusap bibirnya dengan ibu jari

rgetar. Ia menatap Liam, yang kini menghindari tatapannya,

hu. Sebuah garis telah terlampaui. Kinan tahu kun

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku
Cinta Terlarang Di Rumah Kakak Ku
“Kinan, desainer fesyen sukses yang baru kembali dari Milan, pulang ke rumah kakaknya di Jakarta setelah lima tahun. Apa yang dimaksudkan sebagai kunjungan singkat untuk bersilaturahmi justru berubah menjadi pertemuan yang penuh ketegangan? Di rumah hangat yang dipenuhi tawa dan keceriaan Luna, putri kecil kakaknya, Kinan harus menghadapi sosok pria tampan dan maskulin yang belum pernah ia kenal secara langsung: Liam, suami Airin. Bagaimana mungkin sebuah pertemuan yang sederhana antara tante dan keponakan bisa berubah menjadi momen yang begitu mendebarkan dan... berbahaya? Ketika Kinan hampir jatuh, Liam menahannya dengan gerakan cepat dan... sebuah ciuman singkat namun membara terjadi. Apakah ini sekadar kecelakaan atau awal dari perasaan yang tak seharusnya muncul? Bagaimana mereka akan menghadapi garis tipis antara ketertarikan, godaan, dan loyalitas keluarga yang kini telah teruji?”
1 Bab 1 sebagian karena pilihan2 Bab 2 Tawaran Tempat Tinggal3 Bab 3 Jebakan Shower4 Bab 4 Perjalanan5 Bab 5 Kinan tahu bahwa fokus itu hanya topeng6 Bab 6 Kinan memasuki studio pemotretan7 Bab 7 Tawaran Pekerjaan8 Bab 8 Malam Pertama9 Bab 9 Menenangkan10 Bab 10 kebutuhan yang tidak terpenuhi11 Bab 11 merapikan penampilannya12 Bab 12 Perjalanan Pulang yang Membara13 Bab 13 Rencana Pelarian14 Bab 14 Pagi yang Berisiko15 Bab 15 Sandiwara16 Bab 16 Hukuman17 Bab 17 Kinan terengah-engah18 Bab 18 Kinan kembali ke ruang kerjanya19 Bab 19 Jebakan Makan Malam20 Bab 20 Pengkhianatan dibawah meja21 Bab 21 Kinan berhasil menahan22 Bab 22 Pelanggaran Perintah23 Bab 23 Godaan Sang Istri24 Bab 24 Kinan terbangun dengan seluruh tubuhnya sakit25 Bab 25 Kinan tiba di lobi26 Bab 26 Jam menunjukkan pukul dua belas siang27 Bab 27 Kinan membersihkan kantornya28 Bab 28 Kinan terbaring di kasur hotel29 Bab 29 perjalanan dari hotel30 Bab 30 Kabar buruk31 Bab 31 kesempatan terbaik32 Bab 32 Lima Bulan Kebohongan33 Bab 33 Kinan terikat kuat