“Di usia pernikahan yang menginjak tahun keenam, Arunika Selvara dipaksa menerima kenyataan paling menyakitkan bahwa suaminya, Davin Albrecht, pria dingin yang sejak awal tak pernah benar-benar memberinya cinta, kini jatuh hati pada wanita lain. Pernikahan mereka bukanlah hasil dari kisah manis yang penuh bunga, melainkan kesalahan masa lalu yang terlanjur berbuah menjadi ikatan. Namun dari kesalahan itu lahirlah sesuatu yang indah-Mireya, gadis kecil bermata bening yang dulu menjadi jembatan di antara mereka. Kehadiran Selina-wanita yang kini mengisi hati Davin-telah mengubah segalanya. Mireya lebih banyak menghabiskan waktu bersama ayah dan Selina, seolah Arunika tak lagi menjadi pusat semestanya. Rumah tangga yang sejak awal rapuh, kini nyaris runtuh sepenuhnya. Anehnya, Davin tetap bertahan. Ia tidak menggugat cerai. Tidak juga meninggalkan Arunika. Padahal hatinya jelas dimiliki oleh wanita lain. Dan di tengah hubungan yang membeku itu, Arunika pun berubah. Ia berhenti menuntut. Tak lagi melawan. Ia diam, menyimpan luka dan kecewa dalam senyap. Keheningan menjadi satu-satunya bahasa yang ia kenal. Namun seiring waktu, bahkan Mireya pun mulai menjauh. Kehadiran Selina telah mencuri perhatian gadis kecil itu. Justru di saat itulah, Davin menyadari sesuatu: ia tak siap kehilangan Arunika.”