icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bingkai Suami, Keadilan Sengit Istri

Bab 6 

Jumlah Kata:585    |    Dirilis Pada: 04/08/2025

Baskara adala

enariknya ke arah pintu daru

lakang padaku. Dia hanya berla

Sebagian dari diriku, bagian kecil yang bodoh, in

Sebuah permainan kekuasaan. Dia menunjukkan padaku, dan

ah gaga

ku dari belakang, dan aku tersandung, kakiku terjerat di bawah

ki, dan punggungku. Rasa sakitnya tajam dan menyilaukan. Sebuah sepatu

s. Udara seakan dihanc

ku. Pikiran sadar terakhirku adalah

lagi. Bau antiseptik yang k

ela yang terbuka. Asapnya meliuk ke langit

ng rusukku yang pa

, gerakannya tersentak-sentak

alah dan cemas. "Maafkan aku. Kukira kamu tepat di belakangku

lalu ada alasan menga

kataku, suarak

ingung. "Kamu...

icara denganku. Dia sedang berbicara pada dirinya sendiri, mencoba meyak

na aku tidak melawann

menyapuku. Rasa s

kataku, kata-kata itu ada

. Begitu kamu sembuh, kita

rjam-jam, kehadiran yang diam dan merenung. P

gi," katanya,

ya meng

meresap ke dalam tulang

an ponsel sekali pakai yang dib

uanmu. Cari tahu di ma

. Dia tampak... hancur. Pakaian

elemparkan sebuah tablet ke tempa

ajahnya berlinang air mata. Judulnya berbunyi: "SEL

menyiksa Valerie yang rapuh dan tidak bersalah. Artikel itu merinci "riwayat kekerasanku,"

wajahnya berkerut karena marah. "Membo

ataku, sua

nya mencengkeram bagian depan gaun rumah sakitk

hidupnya!" teriaknya, ludahnya mengenai waja

bu keluar, meninggalkanku gemetar, bukan karena ta

sukku adalah denyutan yang tumpul dan konstan. Aku memikirkan janji

ya apakah dia ba

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bingkai Suami, Keadilan Sengit Istri
Bingkai Suami, Keadilan Sengit Istri
“Suamiku, Baskara Aditama, adalah jaksa bintang di Jakarta, pria yang menyelamatkanku dari masa lalu yang kelam. Atau begitulah yang kupikirkan. Nyatanya, dialah pria yang mengirimku ke penjara, menjebakku atas kejahatan yang tidak kulakukan demi melindungi mantan pacarnya, Valerie. Tiga tahunku di Lapas Cipinang adalah pusaran beton dan seragam abu-abu yang monoton. Wanita yang masuk ke sana, seorang desainer grafis sukses yang mencintai suaminya, telah mati di dalam. Saat aku akhirnya dibebaskan, aku berharap melihatnya, tetapi dia malah mengirim seorang asisten untuk "membersihkan energi burukku." Lalu aku melihat mereka: Baskara dan Valerie, mengadakan pesta "selamat datang" untukku, wanita yang mereka jebloskan ke balik jeruji besi. Mereka memamerkanku, memaksaku minum sampanye sampai aku mengalami pendarahan internal akibat tukak lambung yang pecah. Baskara, sang pelindung setia, langsung bergegas ke sisi Valerie, meninggalkanku yang bersimbah darah di lantai. Dia bahkan memalsukan laporan medisku, menyalahkan kondisiku pada alkohol. Aku terbaring di ranjang rumah sakit itu, sisa-sisa harapan terakhirku layu dan mati. Aku tidak bisa menangis. Perasaan ini terlalu dalam untuk ditangisi. Aku hanya tertawa, suara yang liar dan gila. Aku ingin menghancurkannya. Bukan penjara. Aku ingin dia kehilangan segalanya. Kariernya. Reputasinya. Valerie-nya yang berharga. Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 18