icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Rivalku, Harapan Satu-Satuku

Bab 4 

Jumlah Kata:673    |    Dirilis Pada: 30/07/2025

bunyi samar mesin. Kepalaku berdenyut, dan lenganku

tempat tidurku, wajah mereka dihiasi denga

ric, kelegaan membanjiri suaranya. "

us, nadanya muram. "Alexander keterlaluan.

eninggalkanku mati di lautan, merekalah yang menyarankan pada Alexander agar mereka "menemukan" mayatku dan

anyaku, suaraku

atan sesuatu-kasihan? jijik?-di matany

saja

eka. Aku tidak mau mereka

ut. "Tapi Azalea, ka

" ulangku, suarak

sebelum dengan enggan bangkit. "Baiklah

eka, aku mendengar percakapan merek

nar terpukul,

sampah," balas Alaric. "Tapi dia harus melupakannya. Pern

ngan percaya diri. "Dia selalu b

g akrab menusuk perutku. Mereka bukan teman

nya teman. Perawat yang datang sopan tapi menjaga jarak. Mereka menatapku dengan c

aknya lebih tertarik pada ponselnya daripada pada pasiennya. Dia menumpahkan air di tempat

engkeramannya terlepas, dan aku jatuh keras ke sandaran tempat

al di sini, seorang tahanan di ruangan steril ini,

ku dan menyuruhnya mengatur k

nakan pakaian bersih yang dibawa asistenku

a pergi! Kau belum cuk

ah," kataku dingin, me

an aku mel

baru yang indah, tampak sangat sehat dan bersinar. Dia tertawa, membungkuk untuk berbisik

mperhatikan mereka, suar

sangat mesra,"

kata yang lain. "Dia ben

ja itu? Kudengar dia mimpi buruk

lututku lemas. Semua darah yang telah hilang dariku, semua kekuatan

sisiku. "Jangan dengarkan mereka, Azalea. Mereka tidak tahu apa

reka penuh kasihan, tapi mata mereka dingin. Mereka mengamatiku,

mereka. Aku sudah muak menja

ak kuketahui kumiliki, a

" kataku, suaraku r

adapi mereka semua-Ala

rdering dengan finalitas yang membuat mereka semu

idor rumah sakit, mulut mereka ternganga kaget

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Rivalku, Harapan Satu-Satuku
Rivalku, Harapan Satu-Satuku
“Di hari ulang tahunku, ibuku bilang sudah waktunya aku memilih seorang tunangan dari deretan bujangan paling bergengsi di Jakarta. Dia mendesakku untuk memilih Alexander Adhitama, pria yang kucintai dengan begitu bodohnya di kehidupanku yang sebelumnya. Tapi aku ingat bagaimana akhir kisah cinta itu. Di malam sebelum pernikahan kami, Alexander memalsukan kematiannya dalam sebuah kecelakaan jet pribadi. Aku menghabiskan bertahun-tahun sebagai tunangannya yang berduka, hanya untuk menemukannya hidup dan sehat di sebuah pantai, tertawa bersama mahasiswi miskin yang pernah kubiayai secara pribadi. Mereka bahkan sudah punya seorang anak. Saat aku mengonfrontasinya, teman-teman kami-pria-pria yang dulu berpura-pura menghiburku-justru menahanku. Mereka membantu Alexander melemparku ke laut dan hanya menonton dari dermaga saat aku tenggelam. Saat air menelan kepalaku, hanya satu orang yang menunjukkan emosi yang sesungguhnya. Rival masa kecilku, Darrian Kencana, meneriakkan namaku saat mereka menahannya, wajahnya dipenuhi duka. Hanya dia yang menangis di pemakamanku. Saat membuka mata lagi, aku kembali ke penthouse kami, seminggu sebelum keputusan besar itu. Kali ini, saat ibuku memintaku memilih Alexander, aku memberinya nama yang berbeda. Aku memilih pria yang meratapi kematianku. Aku memilih Darrian Kencana.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 2021 Bab 21