icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cinta, Kebohongan, dan Anjing yang Mematikan

Bab 12 

Jumlah Kata:352    |    Dirilis Pada: 30/07/2025

Aku perlu menemuinya, untuk menanya

nap

sahkan oleh kaca tebal. Dia

rnih dan mantap. "Selalu. Aku hanya terlalu bodo

Buka bab ini

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta, Kebohongan, dan Anjing yang Mematikan
Cinta, Kebohongan, dan Anjing yang Mematikan
“Duniaku hancur berkeping-keping oleh sebuah panggilan telepon panik: ibuku diserang seekor anjing. Aku bergegas ke unit gawat darurat, hanya untuk menemukan beliau dalam kondisi luka parah, sementara tunanganku, Bara, bersikap acuh tak acuh dan kesal. Dia datang dengan setelan mahalnya, nyaris tidak melirik ibuku yang berdarah sebelum mengeluh tentang rapatnya yang terganggu. "Ada ribut-ribut apa, sih? Aku sedang rapat." Lalu dengan mengejutkan, dia membela anjing itu, Brutus, milik teman masa kecilnya, Helena, dengan mengklaim anjing itu "hanya suka bermain" dan ibuku "mungkin membuatnya takut." Dokter berbicara tentang "luka robek yang parah" dan infeksi, tetapi Bara hanya melihatnya sebagai sebuah gangguan. Helena, si pemilik anjing, muncul, berpura-pura khawatir sambil menyeringai penuh kemenangan ke arahku. Bara merangkulnya, menyatakan, "Ini bukan salahmu, Helena. Ini kecelakaan." Dia kemudian mengumumkan akan tetap melanjutkan "perjalanan bisnis triliunan rupiah" ke Singapura, dan menyuruhku mengirim tagihan rumah sakit ke asistennya. Dua hari kemudian, ibuku meninggal karena infeksi. Saat aku mengurus pemakamannya, memilihkan baju untuk peristirahatan terakhirnya, dan menulis pidato duka yang tak sanggup kubacakan, Bara tidak bisa dihubungi. Ponselnya mati. Lalu, sebuah notifikasi Instagram muncul: foto Bara dan Helena di atas kapal pesiar di Maladewa, dengan segelas sampanye di tangan, dan keterangan: "Menikmati hidup di Maladewa! Liburan spontan memang yang terbaik! #blessed #singapurasiapa?" Dia tidak sedang dalam perjalanan bisnis. Dia sedang berlibur mewah dengan wanita yang anjingnya telah membunuh ibuku. Pengkhianatan itu terasa seperti pukulan telak. Semua janjinya, cintanya, perhatiannya-semua kebohongan. Bersimpuh di pusara ibuku, aku akhirnya mengerti. Pengorbananku, kerja kerasku, cintaku-semuanya sia-sia. Dia telah meninggalkanku di saat tergelapku demi wanita lain. Semuanya sudah berakhir.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 12