icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Suamiku Dingin, Hatinya Beku

Suamiku Dingin, Hatinya Beku

icon

Bab 1 Ikatan tanpa cinta

Jumlah Kata:1540    |    Dirilis Pada: 19/07/2025

namen mewah di seluruh aula resepsi hotel bintang lima itu. Gemuruh obrolan para tamu, dentingan sendok pada piring porselen, dan alunan musik klasik yang lemb

berpaling pada Aurora, sosok anggun di samping

rapi, menyisakan beberapa helai ikal lembut membingkai wajahnya yang dipulas riasan tipis, menonjolkan mata indahnya yang kini memancarkan keraguan sekaligus harapan. Ia mencoba tersenyum, ber

anya mulai diperhitungkan. Ia seharusnya merayakan setiap proyek besar yang ia selesaikan, menikmati kebebasan yang ia genggam erat setelah bertahun-tahun berjuang. Namun, kebebasan itu kini terenggut. Terenggut oleh

s di telinganya. Kalimat itu diucapkan dengan nada otoriter, tak terbantahkan, seolah nasib Adam hanyalah bidak catur dalam permai

ninya hingga tua. Kenangan tentang tawa Clara yang renyah, sentuhan tangannya yang lembut, janji-janji masa depan yang mereka rajut bersama. Semua lenyap dalam semalam, saat Adam menemukan Clara di pelukan pria lain, di apartemen mereka sendiri. Pengkhianatan itu merobek-robek jiwanya, m

lupa akan sakit hati, lupa akan kehampaan. Namun, Pak Dirgantara tidak pernah menerima penolakan. Pria tua itu menggunakan segala cara, bahkan ancaman untuk mencabut se

ncin di jari manisnya, berpasangan dengan wanita yang tak diken

ung, ia sudah bisa merasakan penolakan itu. Adam tak pernah menatapnya lama, tak pernah berbicara lebih dari sepatah dua pat

ku," Aurora memberanikan diri suatu malam, setelah makan malam formal dengan kel

ra, ini bukan tentang cinta semata. Ini tentang stabilitas bisnis, tentang masa depan kita. Keluarg

i atas segalanya. Dan perjodohan ini, meski menyakitkan, dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab itu. Aurora yang lembut, yang selalu patuh, akhirnya tak punya pilihan. Ia hanya bisa berdoa. Berdoa agar Adam, sang

tak ada bisikan manis seperti yang ia lihat di film-film romantis. Saat ijab kabul diucapkan, suaranya datar, tanpa emosi. Saat tiba waktunya bertukar cincin, tangann

k dadanya. Ia ingin menangis, berteriak, lari dari semua ini. Tapi ia tahu ia tidak bisa. Ia harus tetap ters

mpa. Adam tak pernah meninggalkannya sendirian di panggung, itu saja satu-satunya hal yang bisa ia

gan kelopak mawar di lantai, lilin beraroma, dan sebotol sampanye dingin di atas meja. Ini seharusnya menjadi malam yang indah,

. Ia melirik Adam, yang sudah melepas jasnya dan melonggarkan dasinya, berdiri di dekat jendela, menatap ke luar ko

t bergetar. Ia menunggu reaksi Adam, berharap ada respons, anggukan, atau bahka

mbiarkan air mata yang tertahan sejak tadi mengalir bebas. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya yang rapuh. Ini bukan pernikaha

, Adam masih di posisi yang sama. Ia tidak bergerak, tidak me

" panggil

tak terbaca. Ada sesuatu yang keras, tak be

m ini," katanya, suaran

sa dihantam palu. I

dam, nada suaranya sedikit lebih tajam.

tapi ia tak menyangka penolakan itu akan sekejam ini. Di malam pernikahan merek

antin..." Aurora mencoba me

litas. Kau tahu itu, aku tahu itu. Jangan berharap lebih. Aku tidak akan pernah menyentuhmu.

an akhirnya tumpah ruah. Ia ingin membantah, ingin berteriak bahwa ia tidak pernah memaksakan apa pun, bah

a, lalu masuk dan membantingnya tertutup, meninggalkan suara "klik" kunci yang memekakkan teling

redup, semuanya menjadi saksi bisu kehancuran hatinya. Rasa dingin merayap ke seluruh tubuhnya, bukan karena suhu ruangan, melainkan karena kesepian yang menusuk

a. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha mencari kehangatan yang tak ia dapatkan dari sang suami. Air mata terus mengalir, membasahi b

ntuhan kasih yang mengisi udara, melainkan kebisuan, air mata, dan rasa sakit y

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Suamiku Dingin, Hatinya Beku
Suamiku Dingin, Hatinya Beku
“Pahitnya cinta masa lalu membuat Adam menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh. Ia membenamkan diri dalam tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya, seolah mencari pelarian dari segala rasa. Sampai suatu hari, Aurora, seorang mahasiswi kedokteran semester akhir, hadir dalam hidupnya dan menjadi istrinya dalam waktu singkat. Pernikahan tanpa cinta, hasil perjodohan yang tak bisa ditolak, membuat Adam merasa hidup dalam tekanan tanpa akhir. Setiap pagi dilewatinya dengan sikap dingin, tak pernah menunjukkan kehangatan kepada Aurora yang selalu berusaha peduli dan perhatian. Hingga suatu ketika, sosok ketiga hadir membawa kehangatan di keseharian Aurora. Akankah wanita yang merasa kesepian itu mampu bertahan demi ikrar suci pernikahan mereka?”
1 Bab 1 Ikatan tanpa cinta2 Bab 2 Adam mungkin hanya kelelahan3 Bab 3 muak4 Bab 4 setelah insiden vas bunga5 Bab 5 mencoba membersihkan diri6 Bab 6 Kabar tentang Aurora yang pingsan7 Bab 7 tidak mengatakan apa-apa8 Bab 8 Rasa sakit fisik9 Bab 9 harapan Aurora hancurharapan Aurora hancur10 Bab 10 Setelah malam yang menghancurkan11 Bab 11 harga diri yang mungkin masih tersisa12 Bab 12 pemotretan13 Bab 13 Kehadiran janin di rahim Aurora14 Bab 14 pembakaran surat15 Bab 15 memastikan ia bisa pergi dengan aman16 Bab 16 Air matanya telah kering17 Bab 17 Ia tidak punya apa-apa lagi18 Bab 18 Setelah Adam memecat semua pembantu19 Bab 19 peristiwa mengerikan20 Bab 20 sendirian21 Bab 21 berhasil lolos dari cengkeraman Adam22 Bab 22 Meskipun telah meninggalkan Adam23 Bab 23 Setelah kebenaran tentang perselingkuhan24 Bab 24 Fokusnya kini sepenuhnya pada dirinya sendiri, pada bayinya25 Bab 25 Adam menghilang26 Bab 26 melampiaskan semua yang ia rasakan27 Bab 27 menemukan kos lain28 Bab 28 Yang penting baginya sekarang adalah bebas29 Bab 29 dipermalukan30 Bab 30 meninggalkannya31 Bab 31 Adam pergi dari rumah Kayla32 Bab 32 Kado yang Ditolak33 Bab 33 kejadian ulang tahun Adam34 Bab 34 penyembuhan luka35 Bab 35 Kertas yang Robek36 Bab 36 kenangan pahit37 Bab 37 Sumpah yang Aurora ucapkan di ranjang rumah sakit38 Bab 38 Maaf yang Kosong39 Bab 39 dipaksa pulang oleh Adam40 Bab 40 Perpindahan41 Bab 41 acara kelulusan