icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pernikahan Bukan Pilihanku

Bab 5 Pengakuan jujur

Jumlah Kata:1934    |    Dirilis Pada: 03/07/2025

kan oleh pemahaman yang lebih dalam. Mahardika kini melihat Kirana bukan hanya sebagai wanita yang dinikahinya demi pewaris, tetapi juga sebagai korban, s

ucapan dan perlakuan menyakitkan Rengganis. Tidak lagi hanya menghela napas dan be

r wanita tak tahu diri, sudah diberi kemewahan malah tidak tahu caranya bersyukur. Mungkin

sendoknya dengan suara keras. "Cukup, Rengganis! Jaga bicaramu. Kirana

anya melirik, tersenyum tipis. Kirana menatap Mahardika, ada rasa haru yang menjalar

iannya tetap membara. Ia memilih jalur lain: mengabaikan Kirana sepenuhnya, berpura-pura Kirana tidak ada, bahkan saat mereka berada dalam ruangan

n Mahardika, dan biaya pengobatan ibunya terjamin. Ibu Saraswati perlahan pulih pasca operasi, dan Kirana bisa menjenguknya lebih sering, memba

ng menghabiskan waktu bersama Arjuna di kamar bayi, berbicara tentang pertumbuhan anak mereka. Mahardika sering bercerita tentang pekerjaannya, dan Kirana aka

ekan oleh ayahnya setelah kematian Paramita, bagaimana ia mencintai Rengganis namun tidak bisa

. "Aku tidak pernah menyangka hidupku akan seperti ini," bisik Kirana. "Menikah

rsama Rengganis dan anak-anak kami. Tapi takdir punya rencana lain." Ia menoleh ke arah Kirana.

gat. Ia tahu itu bukan ungkapan cinta, tapi it

ana. "Kau sudah melindungiku, dan kau memastikan

akan saling membantu, Kirana. Kit

eskipun masih ada jarak di antara mereka. Sebuah ikatan yang baru, yang lebih kuat dari sebelumnya, mulai

tumbuh antara Mahardika dan Kirana. Meskipun Mahardika tidak menunjukkan cinta romantis, perhatiannya pada Kirana sebagai ibu dari pewaris suda

up tenang. Ia akan mencari cara untuk menyingkirkan Kirana dari kehidupan

ayaannya untuk menyelidiki masa lalu Kirana, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menjat

selalu meminta pengawal untuk menunggu di luar, dan kadang Kirana aka

nunjukkan Kirana dan Bima tengah berpelukan di sebuah taman. Foto itu sudah buram dan terlihat tua

diaman Wibowo untuk pemeriksaan rutin Arjuna. Sam

nmu, Kirana?" tany

saya juga sudah jauh l

kata Dr. Karina. "Kau adalah ibu yang hebat, K

sa bahwa Dr. Karina adalah satu-satunya orang di luar

ah. Ia melihat Dr. Karina dan Kirana yang sedang

juna?" tanya Rengganis dengan nada manis yang dibu

Arjuna sehat dan sangat

rana. "Kirana, aku ingin bicara denganmu sebent

i Rengganis ke ruang tamu utama. Begitu mas

is, wajahnya penuh amarah. Ia mengeluarkan sebuah amplop d

to yang dicetak kasar. Foto-foto lama Kirana bersama Bima, berpelukan, terta

Kirana nyari

nya memanfaatkan kami untuk uang dan status!" tuduh Rengganis. "Kau masih berhub

a lagi!" Kirana mencoba membela diri, namun s

enyeringai. "Aku akan menunjukkan ini pada Mahardika! Dan pada Ayah! Kau akan l

desir dingin. Diambil dari Arjuna? T

memohon, air mata mulai mengalir di pipinya. "Saya moh

h terlalu banyak melukaiku. Sekarang rasakan

berpikir panjang. Ia meraih tangan Rengganis,

ia terjatuh, kepalanya membentur sudut meja kaca dengan keras. Seketika, Re

is. Ia hanya ingin menghentikannya. Rasa takut dan panik mencengkeramnya. Ia

a!" Kirana mengguncang tubuh Ren

as dari luar. "Nyonya Rengganis? Non Kira

rsama Rengganis yang terluka, ia pasti akan dituduh. Keluarga Wibowo

uka pintunya!" suara

berserakan di lantai, dekat tangan Rengganis.

a di balik bajunya. Ia lalu berteriak, "Tolong! Bi Jum! Nyo

kin cemas. Mereka segera mendobrak pintu. Pemandangan Rengganis

berlari ke ruang tamu. Wajahnya pucat pasi m

!" seru Mahardika, berlu

r mata mengalir di pipinya. "Dia... dia ja

Ia segera memeriksa kondisi Rengganis. "Panggil ambula

bertanya, namun ia tidak mengucapkan ap

tis, ia mengalami pendarahan di otak. Keluarga Wibowo dil

bentak Raden Mas Surya di depan Kirana.

an, air matanya tak berhenti mengalir. "Saya hanya me

sial! Sejak kau datang ke rumah ini, hidu

tap ayahnya. "Ayah, jangan menuduh Kirana begit

ada di sana bersama Rengganis! Tidak mungkin

menuduhnya secara langsung, terlihat ragu dan tegang. Ia ingin menceritakan tentang foto-foto Bima, tentang ancaman Rengganis. Tapi jika ia melakukan

arina keluar dari ruang oper

kter?" tanya M

..." Dr. Karina berhenti sejenak. "Ada kemungkinan Nyonya Rengganis akan

den Mas Surya nyaris pingsan. Mahardika terpaku, tak percaya. Kir

an sadar?" ta

rapa hari, atau bisa lebih lama," jawab Dr

ya ingin ibunya sembuh, dan ia ingin menjalani hidupnya dengan tenang. Kini, ia

ertemu Bima, seandainya ia tidak dipaksa menikah, seandainya ia

nya. Rengganis tidak ada. Namun, bayang-bayang kejadian itu terus menghantuinya. Ia memeluk Arj

dibaca. Kirana tahu, ini adalah ujian terberat dalam hidupnya. Ia harus menghadapi konsekuensi dari perbuatan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pernikahan Bukan Pilihanku
Pernikahan Bukan Pilihanku
“Mahardika Satria Wibowo adalah satu-satunya pewaris keluarga bangsawan yang sangat berpengaruh. Setelah putri tunggalnya meninggal dunia saat melahirkan cucu perempuan, ia merasakan tekanan hebat dari ayahnya untuk segera mendapatkan pewaris lain. Mahardika hanya memiliki satu anak perempuan, sebab sang istri tidak dapat lagi memberinya keturunan. Di sisi lain, **Kirana Ayunda Putri**, seorang gadis berusia 19 tahun, terpaksa menerima perjodohan yang tidak ia inginkan. Pamannya mengancam akan menghentikan seluruh biaya pengobatan ibunya jika Kirana menolak. Padahal, Kirana sudah memiliki Bima Senjaya, pria yang sangat mencintainya dan siap melindunginya. Mampukah Kirana melewati semua cobaan ini? Apalagi ia sering kali mendapatkan perlakuan buruk dari istri pertama suaminya, tanpa ada pembelaan berarti dari sang suami.”
1 Bab 1 ruang kerja2 Bab 2 berubah menjadi bulan3 Bab 3 Kehamilannya4 Bab 4 Keputusan Mahardika5 Bab 5 Pengakuan jujur6 Bab 6 Kabar mengenai kondisi7 Bab 7 penantian yang menyiksa8 Bab 8 Bisikan samar9 Bab 9 Kamar pelayan yang sempit10 Bab 10 Di jok belakang11 Bab 11 Pintu ruang bawah tanah12 Bab 12 Pengakuan13 Bab 13 rumah tangga14 Bab 14 dikenal sebagai sosok visioner15 Bab 15 kepingan yang hancur16 Bab 16 pancaran cinta17 Bab 17 membuktikan dirinya18 Bab 18 menunjukkan rentang waktu dari masa lalu19 Bab 19 Menuju esok20 Bab 20 Musim berganti21 Bab 21 memfokuskan diri22 Bab 22 berpulang23 Bab 23 Bulan terus berganti24 Bab 24 telah tiba25 Bab 25 catatan kecil26 Bab 26 batas yang pernah dibayangkan27 Bab 27 mengubah takdir