g melimpah ruah, reputasi yang cemerlang, dan yang paling menyakitkan, keluarga utuhnya bersama Bu Tari, Arjuna, dan Saraswati. Kini, yang tersisa hanyalah pui
yang mengisi setiap sudut. Setiap pagi, Pak Hadit bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak lagi memiliki jadwal padat rapat direksi atau negosiasi
a buat: Pak Hadit akan memberikan pengakuan penuh, dan Maya akan membantunya merawat Rian. Namun, ini bukanlah hubungan romantis. Ini adalah kemitraan yang didasari oleh tangg
membuat bubur bayi, dan menenangkan Rian ketika menangis. Hal-hal kecil yang dulu selalu dilakukan oleh pengasuh atau Bu Tari, kini menjadi tanggung jawabnya. Ia seringkali
, dan suara celotehnya yang belum jelas adalah satu-satunya melodi yang mengisi kekosongan di apartemen itu. Pak Hadit mulai belajar mencintai Rian, bukan karena kewajiban, melainkan karena ikatan
a, hatinya akan diselimuti kesedihan yang mendalam. Ia merindukan mereka, sangat merindukan mereka. Ia mencoba menghubungi Bu Tari untuk meminta izin
antara kerumunan, hanya untuk melihat sekilas wajah anak-anaknya. Arjuna dan Saraswati, yang kini mulai tumbuh besar, kadang-kadang akan meliriknya dengan tatapan bingung atau bahkan
isah, berbicara hanya seputar Rian dan kebutuhan rumah tangga. Maya menjalani perannya sebagai ibu yang baik, merawat Rian dengan p
it mencoba berbicara dengan Maya. "Kamu baik-
saya juga hancur. Saya kehilangan keluarga di kampung karena ini. Sa
aya ke dalam kekacauan ini, dan Maya juga harus membayar harganya
dit," kata Maya, suaranya pelan. "Tapi setidakn
lelah dan rapuh. Pesona yang dulu memikatnya telah lama hilang, tergantikan oleh bekas luka dan penderitaan. Ia tidak
sial, tetapi juga secara emosional. Ia mulai mencari cara untuk membangun kembali hidupnya, buk
ya. Ia mencoba memulai bisnis kecil, namun modalnya terbatas, dan pengalamannya yang dulu di bidang properti mewah tidak relevan
gan dasar. Ia harus berjuang keras, menghadapi penolakan, ejekan, dan kerugian. Ada saat-saat ia merasa putus asa, ingin menyerah, dan kembal
. Kafe itu sederhana, jauh dari kesan glamor, namun ia mengelolanya dengan sepenuh hati. Ia sendiri yang seringkali turun tangan melayani pelanggan, membersi
ari membangun sesuatu dari nol, dan dari memberikan kehidupan yang layak bagi Rian. Ia masih mengen
buka dan seseorang masuk. Pak Hadit mendongak,
ahan di sudut matanya. Ia mengenakan pakaian sederhana, namun tetap terlihat anggun. Di sampingnya, berdiri Arjuna dan Saraswati, yang kini
menyangka Bu Tari akan datang ke kaf
seisi kafe. "Jadi... ini bisnismu sekaran
t, suaranya serak. "Sejak.
menunjukkan gigi-gigi kecilnya, dan mencoba merangkak mendekati mereka. Arjuna dan Saraswati memandang Rian dengan tatapan pena
ang dulu ia sebut "cacat" dengan amarah. Ada sesuatu yang berbeda di tatapan
ian, lalu mendekati Bu
gkok, mencoba mensejajarkan pandangannya
ari ragu-ragu sejenak, lalu meraih tangan mungil Rian. Sent
bunyi di belakang ibunya, m
ri, Tari?" tanya
nor sumsum tulang belakang. Penyakit langka. Dokter bil
t langka? Ia tidak tahu apa-apa. Selama ini, Bu Tari tida
tanya Pak Hadit,
ri. "Dan satu-satunya yang punya
sungguhnya? Anak yang dulu ia buang, anak yang cacat, kini menjadi satu
p Arjuna yang tampak sedikit pucat di samping Bu Tari
Dan bagi kami semua. Tapi kami tidak punya pili
ju, Tari. Lakukan apapun yang diperlukan. A
u setidaknya akan ragu. Namun, Pak Hadit tidak ragu. Baginya, ini adalah kesempatan untuk menebus dosa-
lewati serangkaian tes yang rumit. Pak Hadit selalu menemani, memberikan duku
ok sebagai donor untuk Arjuna. Se
an ketegangan yang lebih halus, dicampur dengan harapan dan kecemasan akan kondisi Arjuna. Bu Tari melihat perubahan dalam diri Pak Hadit. Ia
menjalani prosedur yang tidak menyenangkan. Pak Hadit dan Maya bergantian menjaganya, menenangkan tangisannya, dan memastikan ia mendapatkan perawatan terbaik
gu. Mereka tidak banyak bicara, namun ada tatapan mata yang lebih lembut, lebih pengertian, di antara mereka. Se
sil. Arjuna mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Rian juga pulih d
rjuna. Kedua bocah itu, yang dulunya terpisahkan oleh dosa orang tua mereka, kini saling bertatapan. Arjuna, meski
terasa berbeda: air mata kelegaan, syukur, dan mungkin, sebuah awal dari pengampunan. Ia melih
bergetar. Ini adalah ucapan terima kasih tulu
ca. "Ini adalah tanggung jawabku, Tari.
bahwa mungkin, suatu hari nanti, luka-luka itu bisa sembuh. Harapan bahwa karma yang dulu terasa begitu pahit, kini membawa mereka pada sebuah pertemuan yang tak terduga, sebuah jalan menuju penebusan d
/0/25077/coverbig.jpg?v=dc071e5af099969a92897653b5c920ef&imageMogr2/format/webp)