“Lima tahun sudah Salma dan Rifky merajut rumah tangga. Namun, kebahagiaan mereka sedikit terganjal oleh absennya buah hati. Salma harus berlapang dada ketika Rifky memutuskan untuk menikah lagi, semata-mata demi mendapatkan keturunan. Ini adalah pukulan berat, mengingat selama ini Salma dan Rifky telah berjuang bersama menjalani berbagai pengobatan. Ironisnya, saat Rifky dinyatakan pulih dan siap, ia justru menikahi wanita pilihan ibunya. Kini, Salma dihadapkan pada persimpangan jalan: akankah ia menerima takdir untuk dipoligami, ataukah ia akan memegang teguh prinsipnya yang menolak dimadu dan memilih untuk bercerai?”