icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dibuang Suami Saat Hamil

Bab 2 Keputusan itu sudah bulat

Jumlah Kata:1546    |    Dirilis Pada: 14/06/2025

ngit, Azura akan duduk di teras panti, tempat favoritnya. Dulu, ia menemukan kedamaian di sana, membiarkan pikirannya berkelana bebas, membangun istana impian tentang mas

an akan nasib panti jika tawaran Revan ditolak. Azura adalah anak yang cerdas, ia tahu betul Revan Aksara bukanlah tipe pria yang bisa ditolak. Kekuasaan Revan adalah bayangan raksasa yang menutupi segal

n gaun pengantin yang penuh sukacita. Semuanya dilakukan oleh orang-orang suruhan Revan. Desainer terkemuka datang ke panti, membawa gaun pengantin sutra putih yang indah, namun Azura memakainya dengan perasaan

berhadapan langsung dengan tatapan tajam Revan. Namun, di sisi lain, ketidakhadiran Revan justru menambah misteri dan ketakutan. Siapa sebenarnya pria ini? Mengapa ia mengi

di sana. Besok, ia akan menjadi Nyonya Aksara, istri dari seorang pria yang tidak ia kenal, bahkan ia takuti. Air mata menetes tanpa suara, membasahi bantalnya. Ia merin

ng, dan mengusap rambut Azura lembut. "Jangan mena

rat. "Ibu... aku takut. Aku tidak

ia memilihmu. Mungkin... ia melihat kebaikan dalam dirimu, Nak. Kebahagiaan akan datang dengan sendirinya, seiring waktu." I

aan datang dari pernikahan yang didasari paksaan? Namun, ia tidak punya

panti. Pernikahan akan dilangsungkan di sebuah ruang pertemuan mewah di pusat kota, milik Revan Aksara. Azura diantar oleh Ibu Asi

takan gemerlap yang memusingkan. Beberapa orang berjas rapi sudah duduk di kursi tamu, wajah mereka tanpa ekspresi, seperti patung-patung hidup. Azura tahu, mereka adalah o

buh tegapnya, rambutnya tersisir rapi, dan wajahnya tetap beku seperti patung marmer. Matanya yang tajam menatap Azura saat ia melangkah masuk, tatapan itu

merasa seperti boneka yang diserahkan dari satu pemilik ke pemilik lain. Revan tidak tersenyum, tidak menguc

sedikit pun keraguan. Azura hanya bisa mengangguk, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia mengucapkan "Ya, saya terima." Ia merasa seolah menjual jiwanya, menukar

. Revan mengajak Azura ke sebuah meja bundar kecil untuk menandatangani dokumen pernikahan. Azura menandatangani namanya denga

ngsung mengajak Azura pulang. Ibu Asih memeluk Azura erat, air

menahan tangis. "Aku akan seri

pun. Setelah Azura mengucapkan selamat tinggal kepada Ibu Asih, Revan meng

ela, melihat pemandangan kota yang bergerak cepat. Ia merasa terasing, seolah-olah ia sudah berada di

n besar. Gerbang itu terbuka otomatis, menampakkan sebuah jalan panjang yang dikelilingi taman terawat, menuju sebuah rumah besar, lebih mirip istana. Rumah itu tampak meg

sa dingin, menusuk kulitnya. Revan tidak menawarkan tangannya, ia berja

ngit tinggi, perabotan antik yang mahal, dan lukisan-lukisan berbingkai emas menghiasi dinding.

menyambut mereka dengan hormat. "Selamat datang, Tuan Revan,

adap Azura. "Ini rumahmu sekarang. Nyonya I

an ucapkan kepadanya sejak mereka meni

Revan lagi, suaranya masih

ang ke salah satu koridor rumah. Azura ditinggalkan sendirian di tengah k

um tipis. "Mari, Nona Azura

nya Ida sungguh luar biasa. Ukurannya sangat luas, dilengkapi dengan ranjang ukuran king, lemari pakaian besar, meja rias, d

ja saya, Nona Azura," kata Nyonya Id

ncekik. Ia mendekati cermin besar di dinding, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pucat, matanya sem

ngannya. Batu-batu permata itu terasa dingin di kulitnya. Lalu, ia membuka ritsleting gaun pengantinnya,

utra. Namun, kemewahan itu tidak memberinya ketenangan. Ranjang ini terasa terlalu besar

ukar kebebasannya, kebahagiaannya, demi orang-orang yang ia cintai. Namun, apakah pengorbanan ini akan sepadan? Apakah ia akan menemukan kebahagiaan di balik tirai besi kemewahan ini? Atau apakah ia

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dibuang Suami Saat Hamil
Dibuang Suami Saat Hamil
“Azura Paramitha, seorang gadis dengan mata berbinar indah, dikenal karena kelembutan dan keceriaannya yang tak pernah pudar. Sejak kecil, Azura sudah menjadi seorang yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dunia, meninggalkannya sebatang kara tanpa sanak saudara dari pihak ibu maupun ayah yang bersedia mengulurkan tangan. Akhirnya, Azura dititipkan di sebuah panti asuhan oleh tetangga orang tuanya yang prihatin. Kehidupannya di panti asuhan berjalan seperti biasa, hingga suatu hari Azura bertemu dengan seorang pria bernama **Revan Aksara**. Revan adalah seorang pengusaha yang dikenal bengis, dingin, dan angkuh. Namun, entah mengapa, suara Azura yang lembut dan santun mampu menarik perhatian Revan. Ia pun memutuskan untuk menjadikan Azura istrinya. Bulan pertama pernikahan mereka terasa seperti mimpi indah. Revan, yang semula dingin, berubah menjadi pria penuh cinta dan kasih sayang. Mereka saling memahami, melindungi, dan melengkapi. Azura merasa menemukan keluarga yang selama ini ia impikan. Sayangnya, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Setelah Azura dinyatakan hamil, segalanya berubah drastis. Revan tiba-tiba mengusirnya dari rumah, menghinanya dengan tuduhan sebagai wanita kotor dan tidak bermoral. Azura terpaksa pergi, membawa serta bayinya yang belum lahir dan hati yang hancur berkeping-keping.”
1 Bab 1 Senja di Panti Harapan2 Bab 2 Keputusan itu sudah bulat3 Bab 3 Bulan Madu yang Dingin4 Bab 4 menghadapi konsekuensi dari pengorbanan itu5 Bab 5 kehidupan kecil yang mulai tumbuh6 Bab 6 Bulan-bulan berlalu di Kedai Kopi7 Bab 7 Kelahiran8 Bab 8 menemukan mereka9 Bab 9 Kehidupan Baru di Pedalaman10 Bab 10 Kabar dari Nyonya Maya11 Bab 11 Kebenaran tentang pengkhianatan12 Bab 12 Azura berjalan tanpa henti13 Bab 13 Bertahun-tahun berlalu di Desa Lintang14 Bab 14 Desa Lintang telah sedikit berubah15 Bab 15 setidaknya sebagian kecil kebenaran16 Bab 16 tujuh belas tahun17 Bab 17 seorang wanita muda yang cerdas18 Bab 18 bukan lagi sekadar pengacara muda19 Bab 19 Kirana memiliki kantor pribadi20 Bab 20 Namanya tak hanya dikenal di kalangan aktivis21 Bab 21 warisan yang ditinggalkannya22 Bab 22 Kepergian Azura,