icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku

Kasih Sayang Mendalam: Sayang, Kembalilah Padaku

icon
Bab 1
Sudah Berapa Lama Kamu Melakukan Ini
Jumlah Kata:1216    |    Dirilis Pada:07/12/2021

Hari Jumat malam, pukul delapan.

Sebuah perjamuan sedang diadakan di Hotel Four Seasons Garden. Pesta itu tidak hanya dipenuhi dengan suasana yang mewah, tetapi suasana ceria juga terlihat saat orang-orang bersulang dan mengobrol dengan gembira mengenai acara tersebut.

Nina Kusuma melihat papan nama di hotel itu dengan wajah cemberut, "Sudah pasti yang ini."

Tapi, dia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengerutkan alisnya. Tidak mudah untuk masuk ke dalam tempat ini tanpa sebuah undangan. Apa yang akan Nina katakan? Bersamaan dengan Nina yang khawatir, seseorang dengan sosok tubuh ramping lewat di depannya. Orang itu adalah Isabella Baskara, teman Nina di sekolah.

"Isabella," sapa Nina, sambil melambai padanya. Seolah dirinya terkejut, Isabella berbalik, mengedipkan mata dengan kaget saat dia melihat siapa orang yang memanggilnya, "Mengapa kamu ada di sini?"

Isabella mendekat, mengernyitkan wajahnya saat dia tidak mencium aroma dari Parfum Feromon, parfum yang dia berikan kepada Nina, "Kenapa kamu tidak menggunakan parfum pemberian dariku?"

"Ada hal mendesak yang harus kulakukan. Itulah alasanku tidak menggunakannya." Sejujurnya, masalah sebenarnya adalah karena Nina tidak terbiasa menggunakan parfum. Dia melihat ke arah kerumunan orang, "Ngomong-ngomong, apa kamu bisa membawaku ke dalam?"

"Tentu saja aku bisa." Isabella tersenyum polos seakan ada sesuatu yang melintas di pandangannya.

Dia mengambil parfum dari sakunya dan menyemprotkan parfum tersebut ke seluruh bagian tubuh Nina.

Nina terbatuk, lalu dengan sengaja mencubit hidungnya, "Aku alergi terhadap parfum," dia menjelaskan pada Isabella, sambil melambaikan tangan ke udara.

Tanpa memberikannya waktu untuk berpikir, Isabella menariknya ke dalam hotel dan mendorongnya ke dalam lift.

Sesaat setelah Nina sudah pergi, terlihat senyum yang terulas di bibir Isabella.

Untungnya, hari ini dia membawa parfum tersebut. Parfum itu memang hal yang berguna untuk waktu seperti ini. Tidak peduli seberapa polos atau suci seorang wanita, dia akan terlihat menantang bagi para pria saat dirinya berada di bawah pengaruh parfum tersebut. Tidak peduli seberapa teguh pendirian seorang pria, dia akan tertarik oleh aroma parfum tersebut.

Ada ratusan pria di dalam pesta pada hari itu. Isabella tersenyum memikirkan hal itu, 'Semoga berhasil, Nina. Demi kebaikanmu, aku harap kamu tidak meniduri orang yang jelek.'

Nina tiba di lantai 20 di mana hanya ada dua kamar kelas VIP teratas. Dia mengetuk ruangan di sebelah kiri, seorang pria menawan dengan wanita genit di sebelahnya lalu membuka pintu ruangan itu.

Nina mundur ke belakang sambil tertatih dan mengerutkan alisnya.

Sepertinya dia salah mengetuk pintu.

Nina membuang muka dengan rasa malu, "Maaf. Kamu dapat melanjutkan kegiatanmu."

Begitu dia berbalik, pria itu menghentikannya, "Tunggu, apa kamu sedang mencari Tuan John?"

Pria itu melihat Nina dari atas ke bawah. Nina terlihat bersih dan polos. John Hermawan mungkin tidak akan mengusir wanita ini seperti yang pernah dia lakukan pada orang lain di masa lalu.

Baru saja James Hermawan menelepon John dan mengatakan padanya bahwa dia berencana untuk memberinya kejutan. Dia tidak menyangka wanita tersebut akan dikirim padanya secepat ini.

"John ada di dalam." Sebelum Nina bisa paham apa yang dimaksud oleh pria tersebut, dia sudah mendorongnya masuk dan menutup pintu.

Nina terhuyung-huyung ke dalam ruangan suite, bahkan hampir terjatuh ke lantai. Saat pintu di belakangnya tertutup, matanya yang sayu melihat sekeliling ruangan tempatnya berada.

Ketika Nina mendengar ada suara langkah kaki yang mendekatinya, dia berbalik badan. Seorang pria tinggi dan tampan melihatnya. Walaupun seumur hidupnya Nina sudah pernah bertemu dengan banyak pria, tapi tidak ada pria yang bisa menandingi ketampanan pria di hadapannya.

Tubuh bagian atasnya sangat bagus dan kuat. Kulitnya yang putih dan otot-ototnya yang kekar sangat menarik perhatian, terutama ketika tetesan air mengalir melalui lekukan otot perutnya. Nina menelan ludahnya sendiri.

"Apa kamu sudah cukup melihat-lihat?" kata pria itu dengan dingin, membuat Nina kembali tersadar pada kenyataan. Ingat akan pekerjaannya, Nina mengingatkan dirinya sendiri dan meminta maaf dengan berlebihan, "Maaf. Mungkin aku masuk ke ruangan yang salah."

Di dalam dunia ini, hanya ada dua macam orang yang akan memasuki ruangan yang salah. Antara mereka bodoh atau manipulatif. Pria itu berpikir bahwa wanita ini adalah orang yang manipulatif.

John menatapnya. Dia memiliki wajah yang cantik, kulitnya putih dan hidungnya mancung.

Kulitnya yang seperti porselen berwarna merah muda terang, matanya yang besar tampak polos dan naif. Ada sesuatu tentang Nina yang membuat pria ini langsung tertarik padanya.

Bibir pria itu melengkung ke atas.

"Tidak, kamu tidak salah masuk ruangan." Seharusnya wanita ini adalah kejutan yang James katakan padanya.

John sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Wanita-wanita yang sebelumnya diberikan oleh James biasanya langsung diusir keluar olehnya. Sebenarnya, John sudah sangat terbiasa dengan mereka sehingga John merasa biasa aja saat melihat mereka.

Melihat wanita di depannya yang juga berusia sekitar 20 tahun, sepantaran dengan usia James, John tahu bahwa dia harus bersikap baik untuk saat ini.

"Sudah berapa lama kamu melakukan hal seperti ini?" ucap John seolah-olah dia sedang memarahi keponakannya, James.

Dengan ekspresi kebingungan di wajahnya, Nina mengerutkan keningnya, "Ini merupakan pertama kali bagiku," katanya dengan jujur.

Dulu, biasanya Nina hanya menangani kasus-kasus yang dibahas di ruang guru. Ini adalah pertama kalinya Nina berada di lapangan untuk menyelidiki.

Dikatakan bahwa ada dua kasus bunuh diri yang akan ditutup di kantor polisi. Namun, Nina selalu merasa bahwa kasus tersebut bukan hanya sekadar bunuh diri. Bahkan, dia datang ke sini untuk menghubungkan dua kasus tersebut. Bagian dari dirinya merasa bahwa kedua korban kasus tersebut memiliki hubungan, dan Nina ingin mengetahui lebih banyak petunjuk yang menunjukkan hubungan kedua korban.

Selama seminggu terakhir, Nina telah menghampiri ke hotel-hotel terdekat, berharap menemukan beberapa petunjuk untuk membuktikan dugaannya.

"Pertama kalinya bagimu? Jadi kamu hanya punya teorinya saja?" John lalu duduk.

Dia kemudian mengambil segelas anggur dan memutuskan untuk meminumnya.

Nina secara tidak sengaja melirik John, dia merasakan bahwa dirinya tidak bisa melepaskan pandangan darinya, "Aku sudah mempelajari teori itu selama dua tahun."

"Oh? Benarkah?" John mencibir, seolah-olah dia baru saja mendengar sebuah lelucon.

'Apa mereka benar-benar mengajarkan teori untuk pekerjaan macam ini? Apa tujuan mereka mengajarkan itu? Untuk mencari seorang pria lalu mempraktikkan teori tersebut?'

"Jangan meremehkanku," bentaknya pada John. Nina baru saja mau balik badan dan pergi saat dia mendengar suara John.

"Apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu layak untuk dihormati? Berapa banyak uang yang mereka berikan padamu?" John menyalakan sebatang rokok dan mengepulkan asap. John benar-benar tidak bisa menemukan alasan bagi wanita untuk masuk ke pekerjaan seperti ini dan tidak dibayar.

John menyilangkan tangannya di depan dada.

"Tidak ada," kata Nina dengan dingin.

Tidak ada?

Nina adalah wanita paling cantik yang pernah John lihat.

Padahal, dalam lingkup pekerjaan seperti ini, wanita seperti ini bisa bernilai puluhan ribu dolar.

Melihat Nina akan pergi, John mengerutkan keningnya, "Apa aku berkata kalau kamu boleh pergi?"

Dengan jentikan jari pada rokoknya, api kecil berbentuk bola itu menjadi semakin menyala. Tidak ada yang bisa datang dan pergi dengan sesuka hati mereka di tempat John.

Nina berhenti saat jantungnya berdegup kencang, "Dengarkan aku, pekerjaan kami tidak bisa dinilai dari uang. Kamu harus tahu seberapa bahaya hal ini, terutama mengenai kasus ini. Dalam ruang yang tertutup seperti itu, seseorang bisa mati jika aku tidak melakukan pekerjaanku dengan benar. Aku harus pergi sekarang."

Seseorang bisa mati?

Tanpa sadar John melirik ke bawah. Apa dirinya benar-benar mengerikan seperti itu?

Mata Nina melotot, seolah menyadari maksud dari tanggapan John.

Pria ini pasti salah mengira dirinya...

Pipinya memerah.

"Kamu! Dasar tidak tahu malu!" kata Nina dengan marah sambil menunjuk pria itu.

John hanya diam tanpa ekspresi. Bagaimana bisa Nina memanggilnya tidak tahu malu padahal dia adalah bosnya untuk malam ini?

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
1 Bab 1 Sudah Berapa Lama Kamu Melakukan Ini 2 Bab 2 Sudah Menikah3 Bab 3 Perjanjian Perceraian4 Bab 4 Beraninya Kamu Menjebakku5 Bab 5 Apa Suamimu Merupakan Seseorang Yang Sudah Dikebiri6 Bab 6 Ada yang Salah Dengan Parfum Ini7 Bab 7 Menjual Tubuhnya8 Bab 8 Habisi Dia9 Bab 9 Dia adalah Istrimu10 Bab 10 Seorang Hacker Internasional11 Bab 11 Keluarga Winata Membelanya12 Bab 12 Sangat Menyedihkan13 Bab 13 Dia Menyukai Wanita yang Sudah Menikah14 Bab 14 Kamu Pantas Mendapatkannya15 Bab 15 Ayo Kabur16 Bab 16 James17 Bab 17 Paman John18 Bab 18 Teman Baru19 Bab 19 Tamparan demi Tamparan20 Bab 20 Aku Tidak Akan Pernah Melupakannya21 Bab 21 Apa yang Salah 22 Bab 22 Lihat Apa yang Telah Kamu Perbuat23 Bab 23 Tante Nina24 Bab 24 Gadis Kecilku25 Bab 25 Dasar Kamu Bajingan26 Bab 26 Aku Mencintai Suamiku27 Bab 27 Kamu Tidak Bisa Melakukannya28 Bab 28 Apa Kamu Berkencan dengan James 29 Bab 29 Pamanku Menyukaimu30 Bab 30 Kamu Sangat Bodoh31 Bab 31 Pertemuan di Toilet32 Bab 32 Kamu Bisa Melihatku Sesukamu33 Bab 33 Aku Bisa Menjadi Priamu34 Bab 34 Mobil Baru35 Bab 35 Balas Dendam36 Bab 36 Pesta Wine37 Bab 37 Puas Dengan Layanannya38 Bab 38 Aku Akan Berinvestasi39 Bab 39 Aku Akan Berurusan Denganmu Nanti40 Bab 40 Wanita John41 Bab 41 Melemparkan Dirinya ke Dalam Pelukannya42 Bab 42 Ucapan Terima Kasih43 Bab 43 Sungguh Nikmat Rasanya44 Bab 44 Memanggilnya dengan Namanya45 Bab 45 Terimalah Akibatnya46 Bab 46 Pergilah ke Neraka47 Bab 47 Hanya Lewat48 Bab 48 Bukan Urusanku49 Bab 49 Vivian Sutedja50 Bab 50 Kekasih Masa Kecil51 Bab 51 Ini Milikku52 Bab 52 Dia Cemburu53 Bab 53 Apa Kamu Sedang Bersama Pria Lain 54 Bab 54 Gayung Bersambut55 Bab 55 Seorang Pria Bodoh56 Bab 56 Penyalahgunaan Kekuasaan57 Bab 57 Introspeksi Diri58 Bab 58 Apa John Selemah Itu 59 Bab 59 Tunangan60 Bab 60 Rusa Peliharaanku yang Menggigitnya61 Bab 61 Kasus Bunuh Diri Baru62 Bab 62 Pria yang Tenang dan Lembut63 Bab 63 Pembunuhan Berantai64 Bab 64 Sebuah Permen65 Bab 65 Perceraian66 Bab 66 Sekte Pengemis67 Bab 67 Petunjuk68 Bab 68 Kasus Ditutup69 Bab 69 Perceraian yang Terlewatkan70 Bab 70 Makan Malam Bertiga71 Bab 71 Buang Mobil Itu72 Bab 72 Karena Aku Adalah Priamu73 Bab 73 Pria Pertama dan Juga yang Terakhir74 Bab 74 Bayar Sendiri75 Bab 75 Mengapa John Menyukai Nina 76 Bab 76 Aku Tidak Menyukainya77 Bab 77 Penculikan78 Bab 78 Bantu Aku79 Bab 79 Tolong Aku80 Bab 80 Dia Tidak Takut Padamu81 Bab 81 Panggil Dia Nyonya82 Bab 82 Sanjungan Yang Bagus83 Bab 83 Sebuah Undangan84 Bab 84 Mengekspresikan Cintanya85 Bab 85 Menggendongnya Lagi86 Bab 86 Sehat dan Cukup Kuat87 Bab 87 Apa Dia Adalah Kehancurannya 88 Bab 88 Bertemu Noah89 Bab 89 Bukan Wanita Simpanan90 Bab 90 Istriku Adalah Nina 91 Bab 91 Satu-Satunya Orang yang Tidak Tahu92 Bab 92 Ini Adalah Orang yang Aku Cintai93 Bab 93 Merobek Surat Perjanjian Perceraian94 Bab 94 Hukuman95 Bab 95 Aku Tidak Menyukaimu96 Bab 96 Vivian Bukan Tunanganku97 Bab 97 Dia Memiliki Rahasianya98 Bab 98 Pindahan99 Bab 99 Menipu John100 Bab 100 Seekor Tibetan Mastiff