icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Makin Tua Makin Binal

Bab 10 Binal

Jumlah Kata:1020    |    Dirilis Pada: 30/05/2025

an mesin. Mobil itu melaju perlahan keluar dari pekarangan rumah Pak Indra, menin

t di mana suaminya mungkin masih sibuk entah di man

pat di mana seseorang telah menunggunya, meminta untuk bertemu dan bicara pent

nya masih bergerak, menimbang banyak hal. Hari ini, langkahnya telah berubah arah. D

ya sendiri. Bayangan wajah Hendra dan Dito, datang silih berganti, bah

n punya santri?" tanyanya penuh harapan namun pasrah, seo

n sempurna. Perhiasan berkilauan di pergelangan tangan dan lehernya, membuat beberapa pengunjung menoleh sekilas. Dengan dagu

bersih tanpa riasan berlebihan. Kerudungnya anggun, mencerminkan kesan seorang ibu yang pe

um, Bu Intan,"

tral. "Wa'alaikumsalam. Duduklah," ka

belum Mbak Nadien memecahnya. "Saya tid

Bukankah kita sama-sama istri Pak Rohman?" Nada bicaranya t

enang mungkin. "Benar. Dan saya harap, apa pun ya

k Nadien tajam. "Hubungan baik?" Ia terkekeh kecil. "Lucu sekali. Kam

ini tidak akan mudah. "Saya tidak pernah berniat merebut

suamiku?" Mata B

dalam situasi seperti ini, Bu Intan. Saya tidak pernah

uh, karena kamu sudah mendapatkan segalanya. Anak, harta, perhatian, dan kasih sayang." Ia menegakk

ubah masa lalu. Tapi saya ingin kita tetap

ipis. "Rukun?" Ia menatap Mbak Nadien dengan tata

en-secangkir teh hangat dan sepiring kecil roti isi. Sementara itu, Bu Intan masih sibuk

dengan suamiku, Nadien?"

p Bu Intan dengan penuh ketenangan

rkan tubuhnya ke kursi, memainkan cincin berliannya dengan santai. "Ka

rat, berusaha menjaga nada suaranya tetap lem

mu datang, memberi Pak Rohman sesuatu yang tak bisa a

Nadien menunduk, memahami betul rasa sakit yan

posisi ini, Bu," kata Mbak Nadien lirih. "T

angan naif, Nadien. Pak Rohman memilihmu bukan karena tak

k sikap angkuh dan kata-kata pedas it

nya Bu Intan lagi, kali in

t ken

anita lain yang menggantikan posisi

itu terjadi, saya hanya bisa berserah kepada Allah. Karena

a kalinya, ada kilatan emosi lain di matanya-entah

kopinya, lalu berdiri. Ia merapikan tasnya, lalu m

Nadien," katanya pelan, "tapi

gi, meninggalkan Mbak Nadien yang hanya bisa m

keluar dari cafe ketika tiba-tiba

tan, t

eran melihat Mbak Nadien tergesa-gesa menghampirin

esi serius. Ada keraguan di wajahny

. kalau Pak Rohman ba

angsung bertaut

tan dengan iba. "Sebulan yang lalu... Pak

riuh rendah kendaraan di jalanan seakan lenyap

suaranya

arus menyampaikan berita ini. "Bidan Maris...

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Makin Tua Makin Binal
Makin Tua Makin Binal
“Khusus Yang Sudah Tua dan Dewasa”