an mesin. Mobil itu melaju perlahan keluar dari pekarangan rumah Pak Indra, menin
t di mana suaminya mungkin masih sibuk entah di man
pat di mana seseorang telah menunggunya, meminta untuk bertemu dan bicara pent
nya masih bergerak, menimbang banyak hal. Hari ini, langkahnya telah berubah arah. D
ya sendiri. Bayangan wajah Hendra dan Dito, datang silih berganti, bah
n punya santri?" tanyanya penuh harapan namun pasrah, seo
n sempurna. Perhiasan berkilauan di pergelangan tangan dan lehernya, membuat beberapa pengunjung menoleh sekilas. Dengan dagu
bersih tanpa riasan berlebihan. Kerudungnya anggun, mencerminkan kesan seorang ibu yang pe
um, Bu Intan,"
tral. "Wa'alaikumsalam. Duduklah," ka
belum Mbak Nadien memecahnya. "Saya tid
Bukankah kita sama-sama istri Pak Rohman?" Nada bicaranya t
enang mungkin. "Benar. Dan saya harap, apa pun ya
k Nadien tajam. "Hubungan baik?" Ia terkekeh kecil. "Lucu sekali. Kam
ini tidak akan mudah. "Saya tidak pernah berniat merebut
suamiku?" Mata B
dalam situasi seperti ini, Bu Intan. Saya tidak pernah
uh, karena kamu sudah mendapatkan segalanya. Anak, harta, perhatian, dan kasih sayang." Ia menegakk
ubah masa lalu. Tapi saya ingin kita tetap
ipis. "Rukun?" Ia menatap Mbak Nadien dengan tata
en-secangkir teh hangat dan sepiring kecil roti isi. Sementara itu, Bu Intan masih sibuk
dengan suamiku, Nadien?"
p Bu Intan dengan penuh ketenangan
rkan tubuhnya ke kursi, memainkan cincin berliannya dengan santai. "Ka
rat, berusaha menjaga nada suaranya tetap lem
mu datang, memberi Pak Rohman sesuatu yang tak bisa a
Nadien menunduk, memahami betul rasa sakit yan
posisi ini, Bu," kata Mbak Nadien lirih. "T
angan naif, Nadien. Pak Rohman memilihmu bukan karena tak
k sikap angkuh dan kata-kata pedas it
nya Bu Intan lagi, kali in
t ken
anita lain yang menggantikan posisi
itu terjadi, saya hanya bisa berserah kepada Allah. Karena
a kalinya, ada kilatan emosi lain di matanya-entah
kopinya, lalu berdiri. Ia merapikan tasnya, lalu m
Nadien," katanya pelan, "tapi
gi, meninggalkan Mbak Nadien yang hanya bisa m
keluar dari cafe ketika tiba-tiba
tan, t
eran melihat Mbak Nadien tergesa-gesa menghampirin
esi serius. Ada keraguan di wajahny
. kalau Pak Rohman ba
angsung bertaut
tan dengan iba. "Sebulan yang lalu... Pak
riuh rendah kendaraan di jalanan seakan lenyap
suaranya
arus menyampaikan berita ini. "Bidan Maris...
*
/0/24556/coverbig.jpg?v=e0382313514f34ff68f24fcc2520eda8&imageMogr2/format/webp)