icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cahaya Diujung Gerbang

Bab 21 sangat nyata

Jumlah Kata:1123    |    Dirilis Pada: 28/05/2025

i membawa ketegangan yang tak terlihat namun sangat nyata. Nayra berdiri di jendela ruang teng

pada pesan terakhir d

Buka bab ini

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cahaya Diujung Gerbang
Cahaya Diujung Gerbang
“Ibu Marisa, pengasuh sekaligus pemilik Panti Asuhan Pelita Jiwa, terbangun oleh suara tangisan lirih di tengah malam yang sunyi. Dengan langkah tergesa dan jantung berdebar, ia membuka pintu depan. Di sana, di ambang gerbang besi yang dingin, tergeletak sebuah keranjang rotan kecil. Di dalamnya-seorang bayi perempuan mungil, dibungkus selimut lembut dengan selembar kertas bertuliskan: Maafkan aku. Tolong jaga dia. Tanpa ragu, Ibu Marisa mengangkat bayi itu ke pelukannya. Mata bayi itu yang bening menatap langit malam, seolah memahami takdir yang telah menuntunnya ke tempat asing ini. Gadis itu diberi nama Nayra. Nayra tumbuh menjadi sosok yang manis, pendiam, dan penuh empati. Namun kehidupan tak selalu berpihak padanya. Di sekolah, ia kerap menjadi sasaran ejekan karena statusnya sebagai anak panti. Beberapa bahkan menyebutnya "anak buangan"-kata-kata tajam yang tak layak diucapkan pada siapapun, apalagi anak sepolos dia. Namun puncak penderitaannya terjadi saat sebuah fitnah keji menjatuhkan namanya di hadapan pengurus panti. Tanpa bukti, tanpa pembelaan, Nayra diusir dari satu-satunya tempat yang ia sebut rumah. Hidup di jalanan membuatnya dewasa dalam waktu yang tak wajar. Ia melakukan apapun yang halal demi bertahan-menjadi pengamen, mencuci piring di warung, bahkan tidur di emperan toko. Tapi tak sekali pun ia menjual harga dirinya atau menyerah pada keputusasaan. Meski dunia terasa gelap, Nayra menyimpan bara kecil di dalam hatinya: harapan. Tahun-tahun berlalu. Perjuangan membentuknya menjadi perempuan tangguh dan berprinsip. Dengan kerja keras dan tekad baja, ia meniti karier dari bawah hingga akhirnya berdiri di atas panggung-bukan sebagai korban, melainkan sebagai inspirasi. Hari itu, banyak yang terdiam menyaksikannya. Termasuk mereka yang dulu menatapnya dengan hinaan. Nayra tak perlu membalas mereka dengan kata-kata. Hidupnya yang kini bercahaya adalah jawaban yang paling menyakitkan bagi kebencian yang pernah mereka tanam.”
1 Bab 1 Panti Asuhan2 Bab 2 mengeluh berarti menyerah3 Bab 3 suasana suram4 Bab 4 Pikirannya berputar liar5 Bab 5 pengungkapan penuh keberanian6 Bab 6 sekaligus lawan bagi keluarganya7 Bab 7 Rumah Cita8 Bab 8 Di ruang kecil9 Bab 9 surat dari masa lalu10 Bab 10 bukan hanya pujian11 Bab 11 Dua bulan berlalu12 Bab 12 mempertanyakan legalitas kepemilikan13 Bab 13 penghuni Rumah Cita14 Bab 14 Setelah perjuangan panjang15 Bab 15 Senja turun perlahan16 Bab 16 secarik surat yang baru saja ia terima17 Bab 17 mengingatkannya18 Bab 18 tak mudah hilang19 Bab 19 Suasana Rumah Cita tidak pernah sama sejak kedatangan Adrian20 Bab 20 Suara gaduh21 Bab 21 sangat nyata22 Bab 22 memeriksa tiap sudut23 Bab 23 Setelah kejadian perusakan24 Bab 24 Setelah dukungan Pak Haris25 Bab 25 Kebangkitan dari Abu26 Bab 26 Rumah Cita alami27 Bab 27 menyimpan firasat28 Bab 28 seperti ada sesuatu yang menanti29 Bab 29 Nama Nayra semakin dikenal luas30 Bab 30 membuat hati Nayra tak tenang