icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Terlalu Lelah Untuk Bertahan

Bab 5 Kesendirian

Jumlah Kata:961    |    Dirilis Pada: 11/04/2025

u bahwa ada banyak hal yang harus diselesaikan. Nadya sudah bangun dan duduk di meja makan, menunggu sarapan yang biasanya disiapkan oleh ibunya. Liana me

Tapi bagi Liana, sinar itu terasa seperti sebuah ilusi-sesuatu yang tamp

Nadya, suaranya lembut namun penuh tanda tanya. "

yang kamu, hanya saja dia belum bisa menunjukkan itu sekarang," jawab Liana dengan suara penuh pengertian, meskipun hat

ang lain-terutama Damar. Namun, hari itu, ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Liana tidak lagi bisa terus menjadi korban dari ketidakpedulian dan ketid

bekerja dengan tangan yang kasar, ia merasa seolah-olah ada bagian dari dirinya yang hilang. Ia sering kali menatap pelan

ria muda masuk dan menyapanya dengan senyuman hangat yang langsung menarik perhatian Liana. "Selamat

an, sedikit bingung dengan perhatian pria in

nal suami Anda, Damar. Kami bekerja di perusahaan ya

yebutkan namanya kepada orang asing. "Oh... saya tidak tahu dia memberitahukan tentang s

"Mungkin... saya tidak seharusnya mengatakan ini, tapi jika Anda ingin berbicara tentang

menyelimuti dirinya, tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa mengandalkan orang lain selain dirinya sendiri. Meski

diri. "Terima kasih, tapi saya baik-baik saja," jawabnya dengan suara dingi

g berjuang dengan perasaan yang lebih dalam. "Jik

aannya. Namun, dalam hatinya, pertemuan itu membekas. Ia tak pernah benar-benar menyadari seberapa dalam ketegangan dalam dirinya sendiri. Bahkan

ng, dan Nadya sedang bermain dengan bonekanya di ruang tamu. Namun, ada sesuatu yang berbeda dalam diri Liana. I

Suaminya tampak lelah, wajahnya tertutup kerut kekesalan, namun kali ini Liana tidak takut.

," kata Liana, suaranya t

kejut dengan sikap Liana yang tiba-tiba berubah

rus seperti ini. Aku sudah cukup merasa terabaikan

epala. "Kau selalu mencari masalah, Liana. Aku

il. Ini masalah besar. Aku sudah cukup dengan hidup seperti ini. Aku ti

lan. "Jadi, apa yang kau inginkan? Kau ingi

ubah, Damar. Aku hanya ingin kita saling menghargai. Aku ingin kita berj

namun ada sebuah kekuatan yang baru mulai tumbuh di dalam dirinya. Ia tidak lagi bisa terus membiarkan dirinya jatuh ke dalam kesendirian dan rasa s

ar untuk menghadapi kenyataan yang ada. Ia akan berjuang untuk kebahag

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terlalu Lelah Untuk Bertahan
Terlalu Lelah Untuk Bertahan
“Liana tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah seperti ini. Di tengah kesulitan yang tak kunjung berakhir, ia berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan anaknya yang masih kecil, sementara dirinya sendiri semakin terpuruk. Ia harus mencari cara untuk memberi makan si kecil, mencari sisa-sisa makanan di pasar, berharap ada yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan sedikit bahan makanan. Namun, kenyataannya jauh dari yang ia harapkan. Ia sering kali pulang dengan tangan kosong, hanya bisa memandang mata anaknya yang penuh harap. Pagi itu, Liana baru saja kembali ke rumah setelah berjalan jauh mencari rezeki, saat perutnya mulai merengek lapar. Ia berharap bisa menemukan makanan untuk dirinya sendiri, setidaknya sebutir nasi. Namun, saat ia membuka pintu rumah, aroma yang menyengat langsung tercium dari dapur. Ternyata, itu adalah nasi basi yang diberikan oleh mertuanya, Nina. Liana bisa merasakan tatapan tajam ibunya dari belakang, seolah-olah memeriksa setiap gerak-geriknya dengan penuh ketidakpedulian. "Nasi itu cukup buatmu," kata Nina dengan suara datar, seakan tidak ada empati dalam nada bicaranya. Liana menahan amarah yang mulai mendidih dalam dadanya. Ini bukan kali pertama ia diperlakukan dengan begitu. Setiap kali ia datang ke rumah mertuanya, ia seringkali diberi makanan yang sudah basi atau bahkan tak layak makan. Hatinya semakin hancur setiap kali menghadapi kenyataan bahwa keluarganya tak menganggapnya layak mendapatkan perhatian yang sedikit pun. Namun, yang lebih menyakitkan adalah sikap suaminya, Damar. Liana menatap suaminya yang duduk di meja makan, tampak sedang asyik dengan ponselnya, seolah-olah dunia tidak sedang runtuh di sekeliling mereka. Damar tidak pernah menunjukkan sedikitpun rasa empati terhadap penderitaan Liana. Bahkan ketika ia kelaparan, suaminya hanya terdiam, seolah-olah tidak peduli dengan keadaan istrinya. "Kenapa kau tidak pernah peduli, Damar?" suara Liana hampir pecah saat bertanya. "Anak kita lapar, aku hampir tidak bisa menemukan makanan untuk kita, dan kau..." Ia terdiam, menatap suaminya dengan tatapan penuh kecewa. Damar mengangkat wajahnya, namun hanya ada kebingungan yang terlihat di matanya. "Aku sudah memberimu uang belanja. Kau yang tidak tahu mengelola keuangan dengan baik." Kata-kata itu seperti pisau yang mengiris hati Liana. Ia merasa tidak dihargai. Seakan semua usahanya, setiap tetes keringat yang ia keluarkan untuk keluarga ini, tidak pernah cukup. Hanya kekosongan yang ia dapatkan sebagai imbalannya. Liana menundukkan kepala, mencoba menahan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Kecewa. Frustrasi. Perasaan itu bercampur aduk, menciptakan jurang yang semakin dalam antara dirinya dan suaminya. Kenapa Damar tidak melihat semua yang telah ia lakukan untuk keluarga ini? Kenapa semua pengorbanannya tidak pernah dihargai? Malam itu, setelah mereka makan dengan nasi basi yang diberikan oleh Nina, Liana berbaring di tempat tidur. Suaminya tidur di sampingnya, terlelap tanpa tahu apa yang sedang dipikirkan istrinya. Liana menatap langit-langit kamar, berpikir tentang apa yang akan terjadi jika ia terus terperangkap dalam kehidupan seperti ini. Ia merasa kehilangan arah, terjebak dalam situasi yang tampaknya tidak ada jalan keluarnya. Namun, di dalam hati Liana, ada api yang masih menyala. Ia tidak bisa terus-menerus diperlakukan seperti ini. Ia tahu, suatu hari nanti, ia harus bangkit. Ia harus melawan ketidakadilan ini, untuk dirinya sendiri dan untuk anaknya. Meskipun ia tidak tahu bagaimana caranya, ia yakin bahwa ia akan menemukan kekuatan untuk keluar dari cengkraman keluarganya yang tak peduli padanya. Kehidupannya tidak akan terus seperti ini. Ia berjanji pada dirinya sendiri.”
1 Bab 1 bayangan yang tampak samar2 Bab 2 hampir habis3 Bab 3 terasa sedikit lebih ringan4 Bab 4 semakin terpinggirkan5 Bab 5 Kesendirian6 Bab 6 kenyataan pahit7 Bab 7 Perasaan8 Bab 8 melepaskan ikatan9 Bab 9 merasa ragu10 Bab 10 bermain di ruang tamu11 Bab 11 merasa lega12 Bab 12 Apa yang terjadi 13 Bab 13 Tidak hanya untuknya14 Bab 14 ketabahannya15 Bab 15 menghabiskan malam16 Bab 16 menunjukkan kesungguhannya17 Bab 17 mempercayai janji18 Bab 18 menghilangkan rasa gelisah19 Bab 19 menunjukkan perubahan20 Bab 20 halaman belakang21 Bab 21 hanya tentang dirinya22 Bab 22 telah berhenti23 Bab 23 memberi kesempatan24 Bab 24 layak untuk dijalani bersama25 Bab 25 memperbaiki keadaan26 Bab 26 semakin perhatian27 Bab 27 melupakan semua pengkhianatan28 Bab 28 semua yang telah terjadi29 Bab 29 segala usahanya30 Bab 30 Kepercayaan