g akhirnya bisa menarik diri dari sebuah kisah yang penuh dengan kecemasan dan kebingungannya. Namun, di sisi lain, rasa kehilangan itu datang begi
ak terjawab. Ia berjalan keluar dari apartemen dengan pikiran yang kacau. Leonel. Keputusan yang dibuat semalam masih terngiang
sonanya yang kuat, dan begitu memikat dengan segala misteri yang menyelimutinya. Namun, keputusan untuk memilih jalan yang berbeda kini membuatnya
ih berat, dan setiap langkah menuju pintu kantor seolah-olah membawa beban yang tak terungkapkan. Begitu ia tiba di
i, namun sudah tidak asing baginya. Itu adalah surat yang ditulis oleh Leonel. Untuk sesaat, Nayara
etiap kata yang ditulis dengan penuh ketelitian.
yar
harus berubah. Aku menghargai keputusanmu, meskipun aku t
ita. Aku tidak akan memaksamu untuk memilih apa yang aku inginkan. Aku
untukmu, jika suatu saat
on
sesak kembali memenuhi dada Nayara. Seolah Leonel tahu bahwa meskipun dia ingin pergi, akan ada saat-saat di mana dia akan merasa ingin kembali
n yang penuh dengan ketidakpastian? Apakah dia ingin kembali
rtanyaan itu kembali menyerbu pikirannya. Ia tahu, meskipun dia bisa memilih untuk meninggalkan Leonel, perasaan ian, terperangkap dalam ruang yang dipenuhi dengan keputusan-keputusan yang harus diambilnya. Meski begitu, ada satu hal yang tetap jelas-dia harus ter
kesunyian di kantornya. Dia mengangkatnya dengan ragu, namu
a itu begitu f
m, berusaha untuk tidak terdeng
suara Leonel terdengar lebih tenang dari sebelumnya, tetapi tetap penuh dengan intensitas. "Namun, aku ingin kamu ta
usaha tetap tenang. "Leonel, kita sudah berbi
galanya," jawab Leonel, suaranya kini lebih berat. "Ada sesuatu yang kau tidak tahu. Sesuat
un napas Nayara semakin cepat, tidak tahu harus berbua
anya. "Kamu harus datang dan mendengarnya langsung dariku
lebih mendalam, yang bisa mengguncang semua yang sudah dia percaya. "
menghadapi kenyataan yang ak
/0/23807/coverbig.jpg?v=17d4007b3cb3940dfcc99af9d009ba84&imageMogr2/format/webp)