"Lalu kenapa kau terus memperlakukanku seperti ini? Kalau memang ka
ahu," jawabnya, suaranya terdengar lebih pelan. "Aku tidak tahu kenapa aku
g harus kulakukan? Apa pekerjaan yang harus kulakukan?" tanyanya, me
erahkannya pada Mingmei dengan gerakan cepat. "Ini, anggap saja
ng kau lakukan padaku," katanya dengan suara yang lebih rendah, namun masih terlihat ada kemarahan. "Ka
mencium gadis itu dengan penuh kemarahan. Ciuman itu bukan lagi ciuman yang lembu
wan, tapi cengkerama
. Marah karena Mingmei rela merendahkan dirinya demi uang,
ketika akhirnya Gibson
tau ingin mencopot bibirku? S
gmei yang memerah. Dia m
tu ini sesukamu. Mulai sekarang kau milikku dan bekerja untukku, jangan coba-c
ja! Aku tidak akan melarikan diri. Sekarang, apa yang
tanya, suaranya leb
n, tapi bagaimana dengan sekolahku? Besok, aku h
kembali hening. Mingmei kembali naik ke atas ranjang dan Gibson duduk di sofa yang tak jauh
is di depannya, dan bahkan dia seperti seekor singa yang
lai merasa bosan sampai menidurkan dirinya dan membelakangi Gibson yang masih duduk di sofa. Dia ham
terpejam. Tanpa suara, dia mendekatkan wajahnya ke arah Mingmei, seolah ada daya tarik yang tak bisa dia tolak. Entah apa yang dirasakannya saat ini,
dengan tubuh Gibson yang mencoba menahan setengah
yang lapar dan juga sebuah hisapan di lehernya yang terasa seperti digigit semut. Gadis itu s
nik, mendorong kepala Gibson untuk menjauh
gin menghisap darahku?" tanya Mingm
awab Gibson dengan wajah datar, tanpa sedikit pun rasa ma
tampak kesal, kini mendapati dirinya tersenyum kecil mendengar suara yang kembali berbunyi di perut
tanya Mingmei bingung sa
sesuatu," jawab Gibson sam
lah satu keahlian yang dia miliki. Tanpa berpikir panjang, Mingmei mengikat rambut panjangnya dengan asal membuat anak rambutnya berjun
di meja makan, memperhatik
ek
anda merah di leher Mingmei. Gibson terus memperhatikannya betapa lincahnya gadis itu b
tenang, tapi tatapan pria itu begitu intens, membuatnya merasa gugup. Namun, Mingmei tetap fokus
an yang cukup sederhana namun terlihat lezat di atas meja, lalu berdiri di dep
api dari ekspresinya, terlihat Gibson sangat menikmati makanan buatan Mingmei. Namun, tiba-tiba Gibson menghe
kursi yang ada dihadapan Gibson. Mereka makan dala
an rumput hijau begitu luas di terangi lampu di beberapa sudut pagar. Keduanya hanya diam, Mingmei duduk
ng dimasukkan ke dalam saku celananya, dia menatap ke arah Mingmei y
n. "Sudah larut. Tidu
son menuju kamar tidur sebelumnya. Saat me
/0/23351/coverbig.jpg?v=e4fcf5018e46fde4dbcee7d9b5cbdf5a&imageMogr2/format/webp)