“Tiga tahun menikah, tiga tahun pula aku dituntut untuk segera memberikan seorang cucu oleh Ibu Mertuaku. Mau pecah rasanya kepalaku karena selalu hal itu yang dibahas disetiap pertemuan kami. Aku selalu diam saja, begitu juga dengan suamiku yang tidak pernah membelaku. Aku sudah memeriksakan rahimku dan nyatanya memang tidak ada masalah. Aku rasa hanya perihal waktu saja, Tuhan mungkin belum memberikan kepercayaannya pada kami. Tidak mungkin juga aku mengatakan pada Ibu Mertua jika kemungkinan besar anaknya yang bermasalah. Jujur saja, selama tiga tahun, aku tidak pernah merasa terpuaskan. Satu kali pun tidak pernah. Bahkan aktivitas bercinta kami bisa dihitung dengan jari dalam satu bulan, itu pun tidak pernah lama. Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk kembali bekerja daripada di rumah dan stres sendiri. Apalagi keuangan rumah tangga kami memang sedang tidak baik-baik saja, karena harus berbagi dengan Ibu Mertuaku yang sudah tidak ada yang menafkahi sejak Ayah Mertua meninggal. Aku pun melamar ke sebuah perusahaan yang sedang mencari sekretaris. Kebetulan pula, aku memang mantan sekretaris sebelum menikah dan resign. Semua bermula dari sana. Awal mula aku bermain di belakang suamiku ....”