icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pedang Naga Siluman

Bab 4 Hancurnya Harga Diri Banaspati

Jumlah Kata:725    |    Dirilis Pada: 29/05/2023

bola api itu, Satya segera berkata, "kam

arkan tanah kering yang di ge

ambar tanah yang di

rti erangan kesakita

itu sebagai bola mainan segera melompat

an! Hentikaaan!" Terdengar sebuah suara yang berasal da

mereka tidak menapak di atas tanah dan Satya Wiguna telah sengaja meraup tanah kering dan kemudian telah dilemparkannya ke arah

la api!" Seru Satya gemb

ut di hatinya, bergan

" Kembali terdengar suar

keras, bola api itu me

" Kembali terdengar su

wa-tawa gembira m

ng jengkel dan kesakitan dar

menjauh ketika melihat bola api meluncur di bawah

eluncur kembal

ng. Dia jadi ikutan memburu bola api itu yang tampakny

dalah Banaspati yang sangat di takuti penduduk d

emblung! Jangan tendang

ati yang berbentuk bola api

tendangan bola api. Tapi dia segera menghen

bocah laki-laki ini, eh dia salah alamat karen

ahan mainan dan kehilangan harga dirinya se

a Banaspati tidak mampu menguasai dir

, maka kemudian bola api ini ber

*

an pun berganti bulan dan t

uah SMA negeri di kotanya dan sebentar lagi akan

cerdas dalam bidang akademis

alu meraih peringkat t

ang anak yang lumayan gag

ingnya dia bekerja serabutan untuk menambah uang

i, tidak pula termasuk pende

eh tetangga-tetangga di desanya sel

imanya, dia tidak pernah

i dari Tuhan Yang Maha Pembe

anen padi sampai kuli bangunan dijalaninya tan

bani sedikitpun dan ikhlas mener

i kan semangat da

lis tentang jalan hidupnya send

, ada yang miskin, ada yang menderita da

ak kita dapat dan jangan kita pamer dan sombong ketika kita mendapat s

ari sang ibu yang selalu te

a yang ringan tangan sehingga ada-ada saja pekerj

ng tersimpan di balik tubuhnya yang keka

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pedang Naga Siluman
Pedang Naga Siluman
“Satya Wiguna seorang pemuda yang sejak kecil hidup dalam kekurangan dan kesederhanaan, akan tetapi dia selalu memandang penuh semangat akan hidup. Dibawah bimbingan eyang buyudnya yang bernama Mbah Wiguna, diapun tumbuh menjadi seorang pemuda sederhana yang kuat dan rendah hati. Bersama beberapa sahabatnya dia kemudian telah menjelajah ke mas lampau untuk ikut berjuang menumpas kejahatan. Dan ketika kekuatan raga nya semakin mapan dan sempurna, dia telah di percaya para penghuni dunia Sukma sebagai sang Senopati perang menghadapi iblis kegelapan yang hendak menguasai dunia nyata. Dengan Pedang Naga Siluman, Satya Wiguna Harus berjuang mempertahankan alam moksa dari serangan Sang Raja Iblis kegelapan.”
1 Bab 1 Masa masa kecil yang penuh keceriaan2 Bab 2 Sang penguasa Kelamping3 Bab 3 Bertemu dengan Banaspati 4 Bab 4 Hancurnya Harga Diri Banaspati 5 Bab 5 Gadis Baik dan Gadis Judes6 Bab 6 Kecurangan Galang 7 Bab 7 Kedatangan Dinda di rumah Satya8 Bab 8 Kemarahan Pak Haryono9 Bab 9 Pencarian Harta Karun serdadu Jepang10 Bab 10 Pak Jamin dan Putrinya 11 Bab 11 Orang-orang tak di kenal 12 Bab 12 Perasaan anak muda13 Bab 13 Di ruang ICU 14 Bab 14 Penyesalan Galang 15 Bab 15 Kehidupan buruh tani16 Bab 16 Sahabat baru17 Bab 17 Ke sungai 18 Bab 18 Keseruan Di Sungai 19 Bab 19 Nikmatnya Kebersamaan 20 Bab 20 Jurus Pedang Naga Siluman21 Bab 21 Panembahan Raga Jambe22 Bab 22 Curug Sewu Ludiro 23 Bab 23 Hasil Mesu diri di Alam Sukma24 Bab 24 Anak elang yang belajar terbang25 Bab 25 Raja raja Jawa yang Moksa 26 Bab 26 Surat Ancaman27 Bab 27 Rencana Penculikan 28 Bab 28 Ulo kayu29 Bab 29 Penculikan 30 Bab 30 Penculikan Ratih 31 Bab 31 Padepokan di tengah hutan Jati 32 Bab 32 Aji Sosro Birowo33 Bab 33 Sedikit tentang Aryo Penangsang 34 Bab 34 Pertolongan Kakek Tua 35 Bab 35 Wong Samin 36 Bab 36 Sedikit Tentang Wong Samin37 Bab 37 Kenangan masa lalu38 Bab 38 Sepemggal Kisah Perang Kemerdekaan yang Terlupakan 39 Bab 39 Detik-detik penyerangan tangsi Belandla 40 Bab 40 Sejarah yang terlupakan 41 Bab 41 Keluar dari hutan42 Bab 42 Rencana Ki Ageng Wening Pati 43 Bab 43 Baju Zirah44 Bab 44 Kedatangan orang-orang padepokan Gagak Rimang 45 Bab 45 Penyanderaan keluarga Pak Wibisono