icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Satu Malam, Dua Anak

Satu Malam, Dua Anak

icon

Bab 1 Aku Sudah Berusia Delapan Belas Tahun

Jumlah Kata:1228    |    Dirilis Pada: 13/01/2023

u sudah

ngan akal sehat terakhir yang dimilikinya, "Tentu s

mu dewasa, ya? Apa kamu sebegitu kekurangan uang? Ata

nya yang panjang dan mengangkatnya seolah memer

a untuk menatap matanya. Pipinya sedikit memerah karena efek obat, yang menjadi undangan tanpa suara untuk sang pria. Wangi

ak terburu-buru. Itu sebabnya, jari-jari pria itu justru bergerak m

iba-tiba. Sebelum dia bisa bergerak mundur, bibir pria itu sudah

Pria itu melepa

k bisa berpikir dengan jernih. Air liur p

mbungkuk dan

seorang gadi

sementara waktu. Tiba-tiba, dia melonggarkan ce

orang wanita. Keluar dari sini." Perkataan itu m

ini dan rela mempertaruhkan segalanya, jadi dia tidak akan menerima ja

lihatkan tubuh indahnya di bawah cahaya yang redup. Dia meraih segelas anggur merah di sampingnya dan menuangkan cairan itu ke tubuh

h itu mengalir dari leher ke tulang selangkanya, kemudian turun ke dadanya. Tubuh gadis

ri dengan erat padanya seperti seekor kucin

ng memin

detik, tetapi begitu akal sehatnya

masih menutupi paha Melita dan menariknya sa

elas karena kamar itu hanya diterangi oleh lampu dinding. Sekarang,

tubuhnya menunjukkan betapa gugupnya Melita ketika tangan besar sang pria perlahan mel

ing, tubuh Melita pun mulai bergetar tak terkendali. Gairah yang muncul mem

erubah dingin. Semua kelembutan yang hadir sebelumnya menghilang. Bagaimana dia bisa ber

i Melita tanpa ragu dan segera meneng

...

usaha mendorongnya menjauh, tetapi dia tidak mem

enjadi sangat tegang, yang se

empat yang lebih dalam. Tubuh Melita pun mengikuti irama gerakan tubuhnya. Alis

sudah sepenuhnya bekerja, tetapi begitu dia mengerang, wajahnya memerah seperti apel matang. Dia buru

sang pria. Ketika gerakannya menjadi lebih cepa

uar dari tubuh Melita serta benturan ant

endirian di kamar itu. Pakaian dan tisu-tisu berserakan

terkoyak. Setelah berjuang dengan susah payah untuk bangun da

onselnya, dia bergegas menuju rumah sakit kota dan ba

ng, ibunya bisa men

ebih penting baginya, bah

egang tangan ibunya untuk terakhir kali sebel

abarkan bahwa kondisi ibunya stabil untuk saat ini. Ketika men

gkan bahwa akibat dari tindakannya ta

gu, Melita menemukan

ngan pria itu malam itu, di

selama beberapa bulan ke depan h

ia akan menerima uang setiap bulan, yang c

erutnya mulai membesar dan k

sa menjalani kehidupan yang damai, dia mendapat ka

n dia sudah bergegas sekuat tenaga ke rumah sakit, dia tidak bisa

mengaruhi kondisi fisiknya sehing

n? Tunggu sebentar! Bia

karena kehilangan ibunya, sekelompok orang

liki kesempatan untuk

ih ada s

g, Melita mendengar k

aksakan diri untuk membuka mata dan menyaksikan sang

ohon

ar ke perawat itu, menghentikannya p

aku mel

r di wajah lelah Melita. Setelah membungkus bayi itu den

yung-huyung keluar dari rumah sakit membawa anaknya dalam pelukannya. Dia tidak pe

eluarga terakhir

orang-orang itu mengambi

n bisa menyentuh

i kedua, mereka kembali ke rumah sakit. Seprai di ranjang rumah sakit

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Satu Malam, Dua Anak
Satu Malam, Dua Anak
“Lima tahun yang lalu, Keluarga Parasian bangkrut. Melita melahirkan anak laki-laki kembar. Dia meninggalkan satu anak kepada ayah anak itu dan membawa anak yang lain pergi. Tahun-tahun berlalu. Melita kembali sebagai ratu opini publik yang berkuasa di Internet. Selain warganet, juga ada orang lain yang mengetahui kembalinya Melita. Pria itu mencubit dagunya dan mencibir dengan dingin, "Karena kamu ingin sekali merekam sesuatu, bagaimana kalau kita merekam sesuatu bersama?" Mata Melita melebar dan tenggorokannya menjadi kering. Keesokan harinya, dia melihat seorang anak kecil yang tampak persis seperti anaknya di dalam rumah pria itu. Melita tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluk anak itu. Dia bahkan mencium pipi montok anak itu. Anehnya, anak laki-laki itu sangat tidak senang. Dia memasang ekspresi serius dan memarahinya, "Jaga sikapmu!" Melita merasa kesal. Bagaimana bisa pria itu membuat putranya begitu tidak mengemaskan?”