searchIcon closeIcon
Batalkan
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Scandal Maker

Membalas Penkhianatan Istriku

Membalas Penkhianatan Istriku

Juliana
"Ada apa?" tanya Thalib. "Sepertinya suamiku tahu kita selingkuh," jawab Jannah yang saat itu sudah berada di guyuran shower. "Ya bagus dong." "Bagus bagaimana? Dia tahu kita selingkuh!" "Artinya dia sudah tidak mempedulikanmu. Kalau dia tahu kita selingkuh, kenapa dia tidak memperjuangkanmu? Kenapa dia diam saja seolah-olah membiarkan istri yang dicintainya ini dimiliki oleh orang lain?" Jannah memijat kepalanya. Thalib pun mendekati perempuan itu, lalu menaikkan dagunya. Mereka berciuman di bawah guyuran shower. "Mas, kita harus mikirin masalah ini," ucap Jannah. "Tak usah khawatir. Apa yang kau inginkan selama ini akan aku beri. Apapun. Kau tak perlu memikirkan suamimu yang tidak berguna itu," kata Thalib sambil kembali memagut Jannah. Tangan kasarnya kembali meremas payudara Jannah dengan lembut. Jannah pun akhirnya terbuai birahi saat bibir Thalib mulai mengecupi leher. "Ohhh... jangan Mas ustadz...ahh...!" desah Jannah lirih. Terlambat, kaki Jannah telah dinaikkan, lalu batang besar berurat mulai menyeruak masuk lagi ke dalam liang surgawinya. Jannah tersentak lalu memeluk leher ustadz tersebut. Mereka pun berciuman sambil bergoyang di bawah guyuran shower. Sekali lagi desirah nafsu terlarang pun direngkuh dua insan ini lagi. Jannah sudah hilang pikiran, dia tak tahu lagi harus bagaimana dengan keadaan ini. Memang ada benarnya apa yang dikatakan ustadz Thalib. Kalau memang Arief mencintainya setidaknya akan memperjuangkan dirinya, bukan malah membiarkan. Arief sudah tidak mencintainya lagi. Kedua insan lain jenis ini kembali merengkuh letupan-letupan birahi, berpacu untuk bisa merengkuh tetesan-tetesan kenikmatan. Thalib memeluk erat istri orang ini dengan pinggulnya yang terus menusuk dengan kecepatan tinggi. Sungguh tidak ada yang bisa lebih memabukkan selain tubuh Jannah. Tubuh perempuan yang sudah dia idam-idamkan semenjak kuliah dulu.
Romantis R18+KeluargaFantasiPengkhianatanHubungan rahasiaMafiaBangsawanPria SejatiUrban
Unduh Buku di App

Kenalkan namaku Nasrul, orang-orang memanggilku Aseng karena aku mirip Cina. Aku sih biasa aja dipanggil begitu, karena memang dari kecil panggilanku itu. Padahal aku ini Ajo tulen alias orang Minang asli. Bapak dan Ibuku asli dari kampung di Pariaman-Sumatera Barat sana. Itu karena kulitku putih yang kuwarisi dari ibuku yang juga berkulit putih bersih. Dari kecil aku tumbuh dan besar di kota Medan. Menikah dan punya anak tiga–yang ganteng dan cantik.

Pada saat cerita ini terjadi, aku bertempat tinggal di pinggiran kota Medan yang berbatasan dengan kabupaten tetangga, Mabar tepatnya nama daerah ini. (Yang orang Medan pasti tau Mabar dimana). Kupilih berdomisili disini karena dekat dengan tempatku bekerja saat itu, di pabrik yang ada di sekitar sini. Kawasan Industri Medan hanya berjarak sepuluh menit berkendara motor dari tempatku tinggal. Sebagai seorang staff administrasi senior di pabrik ini, aku sudah membangun rumah sederhana untukku tinggal dengan istri dan anak-anakku.

Rumah kami berada di dalam gang di tepi jalan yang ramai. Sudah 15 tahun kami bermukim disini dari semenjak belum terlalu banyak orang membangun rumah sampai sekarang penuh sesak. Sesak oleh rumah tinggal baik milik sendiri maupun untuk disewakan. Rumah kami walau tidak terlalu mewah, tetapi satu-satunya yang memiliki halaman luas. Bayangkan saja, halaman itu cukup untuk dibangun satu rumah lagi, kok. Banyak yang menyarankan untuk membangun rumah petak saja untuk disewakan atau kos-kosan. Tapi jangan dululah, halaman rumahku yang luas untuk anak-anakku bermain saja, pikirku. Apalagi anakku masih kecil-kecil, dimana nanti mereka bermain dengan teman-temannya? Di jalanan gang? Berbahaya karena motor ramai berlalu-lalang di sini, terkadang mobil juga seliweran keluar masuk.

Cerita ini akan dimulai dari lahirnya anak keduaku beberapa tahun lalu. Anak perempuan yang cantik dan berkulit putih bersih dengan rambut hitam legam tebal seberat 3.5 kg bernama Salwa. Anak pertamaku sudah berumur 4 tahun saat itu dan ia senang sekali menjadi abang Rio. Ada kebiasaan yang kulakukan pada semua anak-anakku, kugendong mereka keliling seputaran rumah saat pagi sebelum pergi bekerja dan sore saat pulang kerja. Mulai berumur 4-5 bulan anak-anakku kubawa berkeliling menyapa tetangga dan mengenal lingkungannya. Anakku yang tampan dan cantik terkenal di gang yang lumayan panjang ini karena sedari bayi sudah wara-wiri depan-belakang mengukur panjang jalanan gang yang sudah dibeton pemerintah.

“Cantik sekali Salwa… Udah mandi… Jalan-jalan sama papa pagi-pagi…” sapa tetanggaku, seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.

“Salwa cantik… Mau kemana pagi-pagi?” sapa tetangga lain yang sedang menyiapkan anaknya yang akan berangkat sekolah.

Salwa anak bayiku tertawa-tawa senang sepanjang perjalanan kala dijawil atau dielus pipinya oleh para penyapanya. Jadi sepanjang gang yang panjangnya kurang lebih 300 meter itu banyak sekali fans Salwa yang menyapanya tiap pagi atau sore. Kadang abangnya, Rio ikut bareng karena pengen dibelikan jajanan di warung.

“Salwa… gendong-lah? Biar nular…” pinta seorang ibu hamil muda anaknya yang keempat. Anaknya laki semua, susun paku istilah orang Medan sini yang menandakan kalau semua umur anaknya hanya beda satu tahun aja atau berdekatan. Ia berharap kalau sering-sering menggendong Salwa anaknya akan lahir perempuan juga. Kalau cantik itu belum pasti. Itu tergantung dari bibitnya… Bener gak, bos?

Prilaku ini juga ditiru wanita-wanita lain yang belum dikarunia anak. Kadang istriku memanfaatkan keadaan ini dan menyerahkan Salwa untuk dimomong mereka saat ia sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan rumah tangga. Kalau dihitung kasar aja ada sekitar 5-6 pasangan menikah yang belum dikaruniai anak. Padahal rata-rata mereka sudah menikah 3 tahun lebih.

Contohnya wanita satu ini. Bernama Aida. Suaminya bernama Agus. Sama-sama berumur 26 tahun yang sudah menikah selama 4 tahun. Baru dua tahun ini mereka berdua mengontrak sebuah rumah di gang ini. Suaminya, Agus bekerja di Kawasan Industri yang sama denganku, hanya beda pabrik saja. Ia sekarang sedang menggendong bayiku Salwa dengan riangnya. Mungkin membayangkan senangnya punya bayi cantik dan sehat sendiri. Yang lahir dari rahimnya sendiri.

“Bang Aseng… Kalo bosan dengan Salwa… kasikan Aida aja, ya?” cetusnya yang kutangkap sebagai candaan biasa.

“Ah… Ada-ada aja kau, Da… Masak anak sendiri mau dikasikan orang… Buatlah sendiri…” kataku mencoba bermain dengan candaanya.

“Gak jadi-jadi, bang Aseng… Udah empat tahun kami kawen… Gak hamil-hamil awak…” (awak adalah kata pengganti untuk aku) jawabnya sambil terus mengayun-ayun pelan Salwa di gendongannya. Dikecupnya ubun-ubun Salwa berulang-ulang.

“Ah… Mana si Agus? Masuk shift malam dia? Gas terus-lah ini kalau dia udah pulang nanti…” kataku sambil ketawa-ketiwi bercanda terus.

“Entar-entar lagi pulang dia, bang… Mana sempat lagi dia, bang… Tros tidor dia itu nanti…” keluhnya tapi menciumi gemes pipi Salwa. “Capek kali katanya dia… Padahal tak beratnya kerjanya… Cuma nengok-nengok sebentar operator mesin… tidornya dia abis itu sampe Subuh…” lanjutnya. Agus sebagai Supervisor mesin produksi. Ia pernah cerita kalau tak ada masalah, mesin-mesin di pabriknya cukup di-handle para operator saja sudah cukup. Jadi dia punya banyak waktu santai. Cukup santai sampe badannya juga melar.

“Eh… Ngomong-ngomong soal kerja… Awak permisi juga-lah, Da… Mau masuk kerja juga…” kataku setelah melirik jam tangan, memberikan gesture tubuh untuk meminta Salwa kembali. Karena Salwa yang masih kecil, 5 bulan waktu itu, lehernya belum terlalu kuat untuk menopang kepalanya, Aida menyandarkan kepala Salwa di dadanya. Ia belum terlalu paham teknik menggendong bayi karena belum pernah punya kali, ya? Aku agak kesulitan untuk mengambil Salwa dari gendongan Aida tanpa menyentuh…

Tau dong kalau gendong bayi gimana? Salah satu tangan harus masuk di ketiak bayi dan satu tangan lainnya menahan bokongnya.

…Tanpa menyentuh dada Aida tentunya. Dadanya tidak terlalu besar. Paling hanya cup B. Tapi aku jamin kalau dia hamil dan melahirkan, ukurannya pasti melonjak drastis.

Salwa berhasil berpindah tangan kembali padaku dengan sedikit insiden kecil ujung jariku menowel sedikit dadanya, lebih tepatnya bra-nya. Mudah-mudahan gak kerasa. “Da-dah, bu Aida…” kataku pamitan pada wanita itu dengan melambaikan tangan mungil Salwa.

“Da-dah Salwa… Nanti sore gendong lagi, ya?” jawabnya riang dengan muka berseri-seri sambil mengayun-ayunkan tangannya melambai pada anakku. Untung dia gak ngerasa towelan kecil tadi jadi gak ada masalah, pikirku.

Saat aku melintasi depan rumah Aida, kulihat motor Agus sudah ada di teras kecil rumahnya. Berarti dia sudah pulang. Aida ada di depan sambil menyapu dengan sapu ijuk. Ia mengangguk dan tersenyum lebar padaku. Kubalas senyumannya.

Skip-skip

Pulang kerja dengan motor Supra X 125-ku kulihat istriku sedang berjalan-jalan dengan kedua anakku di gang ini. Rio sedang asik makan es lilin sedang Salwa digendong oleh Aida lagi. Istriku sedang ngobrol-ngobrol dengannya.

“… langsung jadi… padahal waktu di pelaminan kakak lagi halangan, loh…” bisa kutebak apa yang mereka bicarakan. Pastinya sedang membicarakan masa-masa kehamilan Rio, anak sulungku. “Ini orangnya…” kata istriku tertuju padaku yang sudah berada di dekatnya.

Baca Sekarang
Gairah Baby Maker

Gairah Baby Maker

Gemoy
Sekali-kali Aida melirik padaku dan mengangkat alis kirinya memberi kode. Dari posisi jongkoknya aku bisa melihat semua isi dalam bagian rok daster itu. Paha putih mulusnya yang padat mengangkang hingga aku bisa melihat permukaan celana dalam berwarna krem-nya yang tebal tembem abis. Bahannya cukup
Romantis R18+Role PlayFantasiKehamilanHubungan rahasiaBudak seksualPengurus rumahMenarikBeruntungUrban
Unduh Buku di App
SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR

SCANDAL WITH PRIVATE DOCTOR

Salsabilla Else
🔥🔥Peringatan!!!! Cerita mengandung unsur adegan dewasa🔥🔥 Eliza menikahi seorang lelaki hypersex yang sangat ganas dalam permainan ranjang. Dia menjadikan pernikahannya hanya sebagai alat untuk melampiaskan libido-nya saja. Cerita malam pertama begitu manis nan indah yang sering didengar oleh
Romantis R18+KeluargaPengkhianatanHubungan rahasiaBudak seksualDokterLicikPria SejatiUrbanTempat kerja
Unduh Buku di App
Scandal with CEO

Scandal with CEO

SugaIn
Blurb Ashley Adam Brooklyn gadis berusia 20 tahun harus terlibat scandal dengan bos barunya bernama Nicholas Smith. Pertama kali bertemu dengan nicholas, entah kenapa Ashley begitu sangat membencinya. Akan tetapi berbeda dengan Nicholas. Nicholas malah tertarik dengan Ashley saat pertemuan pertama.
Romantis R18+Cinta yang dipaksakanCEOTempat kerja
Unduh Buku di App
Scandal Married With CEO

Scandal Married With CEO

Nadra Mahya
"Qiena aku suami mu, jangan pernah melakukan kesalahan sedikit pun. Kau mengerti !" ___Sean Gibert. "Apa salah ku jika aku jatuh pada pelukan Pria lain ? tidakkah kau merasa dirimu yang tidak becus sebagai seorang suami Mr.Gibert ?"_____ Qiena William. Sama-sama pewaris dari dua kerajaan bisnis me
Romantis R18+PerjodohanHubungan Suami Istri CEOKeras kepalaDominanNarasi Multilinier
Unduh Buku di App
Scandal Maker Wattpad IndonesiaDownload Scandal Maker novel PDF Google DriveScandal Maker gratis tanpa beli koin dan offlineScandal Maker
Yuk, baca di Bakisah!
Buka
close button

Scandal Maker

Temukan buku-buku yang berkaitan dengan Scandal Maker di Bakisah. Baca lebih banyak buku gratis tentang Scandal Maker Wattpad Indonesia,Download Scandal Maker novel PDF Google Drive,Scandal Maker gratis tanpa beli koin dan offline.