searchIcon closeIcon
Batalkan
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

DIGNITY

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Puncak Nafsu Ayah Mertua

Cerita _46
Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.
Cerita pendek Hubungan rahasiaBudak seksualCEOPria Sejati
Unduh Buku di App

Sembari merajut, Suri bolak-balik memindai jam dinding di ruang tamu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun Prasetyo, suaminya, belum juga pulang ke rumah. Suri gelisah. Biasanya paling lambat pukul tujuh malam Pras sudah sampai di rumah. Jikalau pun Pras meeting atau sekedar mengobrol dengan client, biasanya Pras akan mengabarinya. Memintanya untuk tidak menunggunya makan malam karena ia akan makan di luar. Tidak biasa-biasanya Pras seperti ini.

Suri meletakkan peralatan rajutnya. Ragu-ragu ia meraih ponsel di atas meja. Ia ingin menelepon Pras. Sebenarnya ia bukanlah type istri yang cerewet. Bukan pula type istri yang selalu ingin merazia suami sendiri. Hanya saja ia khawatir karena tidak ada kabar dari Pras, dari sore hingga malam seperti ini. Suri menimang-nimang ponselnya. Ragu-ragu antara ingin menghubungi Pras atau tidak.

"Aku tidak suka di telepon-telepon saat aku sedang mencari nafkah di luar rumah. Aku bukan anak kecil yang harus kamu beritahu kapan pulang dan beristirahat. Aku bisa mengatur diriku sendiri."

Saat Suri teringat akan pesan yang pernah diutarakan Pras, ia meragu. Ia takut kalau Pras memarahinya. Akhir-akhir ini Pras memang mudah sekali naik darah. Sedikit saja kesalahan yang tidak sengaja ia lakukan, akan berujung pada makian.

Ya, Pras yang sekarang sangat berbeda dengan Pras yang ia kenal sepuluh tahun yang lalu. Sepuluh tahun lalu Pras adalah sosok pemuda yang santun namun memiliki semangat juang yang besar. Mereka berdua berasal dari kampung yang sama, dan bersama-sama mengadu nasib ke ibukota. Bahkan melamar pekerjaan di tempat yang sama pula.

Bedanya adalah dirinya hanya tamatan SMP, sedangkan Pras seorang sarjana muda. Singkat cerita mereka pun akhirnya berpacaran karena seringnya bertemu. Bayangkan, kost-an mereka hanya berjarak beberapa meter dan satu perusahaan pula. Mereka berdua melamar pekerjaan di PT Adi Busana Eka Cipta. Sebuah pabrik garmen besar di ibukota. Yang berbeda hanya jabatan mereka saja. Dirinya adalah buruh jahit di perusahaan garmen tersebut, sementara Pras staff bagian pemasaran. Wajar posisi mereka berbeda. Karena keterampilan yang mereka miliki berbeda pula.

Setelah dua tahun berpacaran, mereka pun menikah. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra tampan nan cerdas. Prawira Prasojo namanya. Wira, demikian putra mereka biasa disapa adalah segalanya bagi mereka berdua.

Setelah memiliki Wira, Pras memintanya berhenti bekerja. Gaji sebagai buruh jahit tidak seberapa katanya. Lebih baik ia mengasuh putra mereka di rumah.

Suri kala itu menyetujui usul Pras. Toh perekonomian mereka sudah mulai membaik. Begitulah, Suri berhenti bekerja, dan mengurus rumah tangga seutuhnya setelah putranya lahir.

Tahun demi tahun berlalu. Karir Pras terus merangkak naik dan naik. Hingga akhirnya Pras dipercaya sebagai pimpinan tertinggi di perusahaan. Pras telah menduduki jabatan sebagai direktur utama PT Adi Busana Eka Cipta. Kedudukan tertinggi di bawah pemilik perusahaan. Pras sekarang bukanlah Pras yang hanya seorang staff bagian pemasaran lagi.

Ketika waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, Suri tidak tahan lagi. Ia meraih ponsel dari atas meja dan menekan kontak Pras. Panggilannya tersambung, namun tidak diangkat oleh sang empunya ponsel. Hingga nada panggil habis, ponsel juga tidak kunjung diangkat. Suri mengulangi panggilan. Perasaannya tidak tenang sebelum mendengar suara suaminya. Suri adalah type orang yang tidak suka mengetik melalui aplikasi percakapan. Apa enaknya berinteraksi dengan ketikan bukan?

"Hallo!"

Suri kaget saat mendengar suara bentakan Pras. Ia menjauhkan ponsel sejenak. Berusaha menenangkan hatinya dulu baru berbicara. Terkadang nada suara dan bahasa yang tidak enak bisa memicu pertengkaran bukan?

"Hallo, Mas. Mas ada di mana? Sekarang sudah jam dua belas malam."

"Aku tahu ini jam berapa, Ri. Kamu pikir aku buta sampai tidak bisa melihat jam?"

Suri mengelus dada.

Sabar, Ri. Suamimu sedang mencari nafkah.

"Kalau Mas tahu, mengapa Mas belum pulang? Setidaknya mengabariku, Mas itu ada di mana. Aku khawatir, Mas."

"Aku mencari uang di luar, Ri. Melobby client. Bukannya duduk ongkang-ongkang kaki sepertimu di rumah. Jadi jangan cerewet. Aku akan pulang kalau semua urusanku sudah selesai."

Klik.

Suri masih memegangi ponsel kala Pras menutup panggilannya begitu saja.

Baca Sekarang
Dignity ( Demi Harga Diri)

Dignity ( Demi Harga Diri)

Suzy Wiryanty
Menjelang delapan tahun usia pernikahannya, Suri Hidayah merasa tidak bisa mempertahankan rumah tangganya lagi. Karena Prasetyo Prasojo, suaminya telah berubah menjadi sosok yang tidak lagi ia kenali. Pras berubah setelah karirnya melesat ke puncak. Dari seorang karyawan biasa, Pras kini menjadi s
Modern KeluargaPengkhianatanPerceraianPengurus rumahPria SejatiMiliarderTempat kerja
Unduh Buku di App
DIGNITY novel gratis tanpa aplikasiDownload DIGNITY novel PDF Google DriveDIGNITY gratis tanpa beli koin dan offlineDIGNITY
Yuk, baca di Bakisah!
Buka
close button

DIGNITY

Temukan buku-buku yang berkaitan dengan DIGNITY di Bakisah. Baca lebih banyak buku gratis tentang DIGNITY novel gratis tanpa aplikasi,Download DIGNITY novel PDF Google Drive,DIGNITY gratis tanpa beli koin dan offline.