/0/26468/coverorgin.jpg?v=0af0679e9bb6aadc7e114469cc9cd963&imageMogr2/format/webp)
Sebuah jip militer melaju kencang di jalan bar yang ramai, kehadirannya bagaikan badai di cakrawala. Berhiaskan dengan lencana perwira tinggi dan plat nomor yang khas, mobil jip itu menarik perhatian semua orang di sepanjang jalan. Mobil itu berhenti mendadak di depan bar Serendipity yang diterangi lampu neon, remnya berdecit dengan suara lantang, seolah-olah sedang menantang kehidupan malam di sekitarnya.
Pintu jip itu terbuka, lalu terbanting menutup dengan kekuatan yang bergema di malam yang sunyi bagaikan suara tembakan yang tajam. Seorang pria turun dari mobil dalam balutan seragam militer, yang tampak kurang serasi dengan lingkungan perkotaan. Ekspresi wajahnya yang tegas dan rahangnya yang kokoh menambah kesan menakutkan saat dia melangkah ke dalam hiruk pikuk bar tersebut.
Cahaya lampu neon yang berwarna-warni menerpa wajahnya yang dingin, bayangan bermain di wajahnya saat dia melangkahkan kaki dengan mantap. Bar itu ramai dengan dentuman musik yang menggetarkan dan gumaman obrolan orang mabuk, tapi dia dikelilingi oleh hawa dingin yang menakutkan, seolah-olah terisolasi dari hiruk pikuk di sekitarnya.
Di depan meja bar, Ryland Flynn sedang asyik menggoda seorang gadis bartender. Saat prajurit itu masuk, dia mendongak dan kabut alkohol seketika menghilang dari matanya. Melihat sosok yang mengesankan itu langsung menuju lift, dia bergegas turun dari kursi dan berlari untuk mencegat pria itu.
"Pak William ..., kenapa kamu datang ke Serendipity malam ini?" tanya Ryland dengan terbata-bata di bawah tatapan dingin pria itu.
Pria itu menyipitkan mata ke arah Ryland dan bertanya dengan suara yang dalam, "Di mana Renee?"
"Renee ... seharusnya dia sedang berada di rumahnya malam ini," jawab Ryland dengan tergagap sambil berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan ketenangannya di bawah tatapan yang tajam tersebut.
Tanpa ragu, pria itu menekan tombol lift menuju lantai atas dan berkata dengan nada tajam dan tegas, "Kamu punya waktu 30 detik untuk memberitahunya."
Rasa panik mencengkeram Ryland sehingga jantungnya berdebar kencang. Dia menyadari bahwa tidak ada gunanya mengarang cerita sekarang. Dengan tangan gemetar, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Renee Carter tepat di hadapan seorang pria bertubuh kekar yang berdiri menjulang di atasnya. Namun, setelah tiga kali menelepon berturut-turut, tidak ada satu panggilan telepon pun yang terjawab sehingga memaksanya untuk buru-buru beralih ke WhatsApp. Tidak punya waktu untuk mengetik, dia memilih untuk mengirim pesan suara dengan menekan ikon mikrofon dan berbisik dengan nada mendesak, "Renee, suamimu ada di sini untuk menemuimu. Dia sedang naik lift."
Meskipun dia berusaha berbicara serendah mungkin, kata-katanya bergema jelas di ruang lift yang sempit itu.
Tawa dingin terdengar dari belakang Ryland, membuat bulu kuduknya berdiri saat lift berbunyi dan pintunya terbuka" Keringat mulai menetes di dahinya, setiap tetesnya merupakan bukti meningkatnya rasa takutnya.
Pria itu melangkah keluar dengan langkah mantap dan langsung menuju ruang VIP. Terperangkap dalam rasa takut, Ryland mengikuti pria itu dengan patuh di belakang, langkahnya ragu-ragu saat dia memeras otak untuk mencari jalan keluar.
Berada di depan sebuah pintu, pria itu langsung berhenti melangkah dan berbalik sedikit. Setelah mengumpulkan sedikit keberanian, Ryland berkata dengan suara gemetar, "Pak William, aku berani menjamin, dia tidak ada di sini."
/0/18648/coverorgin.jpg?v=f31a92930e18c8e7fa3786c20bae9d2f&imageMogr2/format/webp)