back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Berdamai Dengan Takdir

Berdamai Dengan Takdir

Rainylie

5.0
Ulasan
1.7K
Penayangan
86
Bab

Seperti hangat mentari dan dinginnya embun, Alena dan Leo sangat berbanding terbalik bagai bumi dan langit. Alena penuh dengan kehangatan dan keceriaan. Tetapi Leo sangat diam dan tak peduli. Jatuh cinta membuat Alena menjadi cewek paling heboh. Tapi Leo tak menyukai itu. "Sikap lo itu nggak etis. Lo pikir dengan cara sok akrab ke gue, gue bakal suka sama lo? Nggak akan pernah." Sederet kalimat itu membuat Alena terpukul. Patah hati atas cinta pertama membuatnya mengikuti sikap Leo. Diam dan tak percaya diri. Perubahan atmoster antara mereka membuat Leo menyesal. Merasa kehilangan. Akankah benci benar-benar menjadi cinta? Atau hanya sebatas kehilangan sosok yang selalu ada?

Bab 1
Menantu Idaman

Alena sigadis periang dan juga mudah akrab dengan orang lain, siapa yang tidak menyukai seorang yang memiliki parah cantik seperti Alena, dengan tinggi 163 cm, kulit putih yang diturunkan sang papa, juga lesung pipi yang akan nampak saat dirinya tersenyum, belum lagi dirinya memiliki sifat yang hangat dan juga humble. Membuat siapapun yang dekat dengannya mudah merasa nyaman.

Sifat Alena itu terbentuk karena ia tumbuh diantara keluarga yang hangat, dirinya juga memiliki seorang adik yang saat ini masih duduk dibangku SMA, namanya Brandon, sama seperti Alena dirinya juga banyak disukai oleh banyak orang karena parasnya yang menawan, ditambah lagi dirinya adalah seorang kapten basket di sekolahnya. Sungguh, sering kali orang-orang iri dengan ketampanan dan kecantikan dua kakak beradik ini.

Alena dan Brandon adalah adik kakak yang bisa terbilang akur, sering kali mereka juga bercerita tentang masalah-masalah mereka pada kedua orang tuanya, mereka tidak sungkan untuk menceritakan semuanya, itu semua karena Bastian dan Reyna yang menjadikan diri mereka sebagai rumah bagi kedua anaknya, agar kedua anaknya dapat merasakan kehangatan dalam keluarga. Walaupun, sering kali sebagai orang tua dia pun merasa takut kalau anaknya merasa tidak nyaman. Tapi, bagi Bastian dan Reyna, mental kebahagiaan mereka adalah hal yang terpenting sehingga mereka akan nyaman di rumah dan menjadikan rumah sebagai tempat di mana mereka saling bertukar cerita tanpa ada rasa takut dihakimi atau dipojokkan.

Bahkan meskipun sudah terbilang lama menikah, namun kedua orang tua Alena tidak malu mengumbar kemesraan di depan anak-anaknya, yang bahkan terkadang tingkah keduanya membuat Alena dan Brandon merasa geli sendiri karena keduanya masih jomblo. Tapi, mereka selalu bangga dengan itu Alena dan Brandon merasa orang tuanya ini selalu hangat antara satu sama lain. Sehingga, dalam hati mereka kelak ingin bisa mendapatkan pasangan yang benar-benar hangatnya seperti keluarga mereka.

Berbeda dengan Leo, si laki-laki yang memiliki sifat dingin karena keadaan keluarga yang sangat bertolak belakang dengan keluarga Alena.

Sejak SMA, Leo harus merasaka pahitnya kehidupan dalam keluarganya, di mana sang ibu memilih untuk bercerai dengan ayahnya, dengan alasan karena ayahnya sering berselingkuh dibelakangnya.

Awalnya Leo berusaha keras untuk mempertahankan keutuhan keluarganya, namun keputusan kedua orang tuanya membuat dirinya kecewa, hingga pada akhirnya ia benar-benar tidak mempercayai yang namanya Cinta lagi dalam kehidupannya. Orang tuanya benar-benar membuat bekas luka percintaan yang membuat Leo enggan merajut kasih dengan siapapun.

Tumbuh dan berkembang diantara lingkungan yang berbeda, menjadikan Alena dan Leo memiliki sifat yang sangat bertolak belakang, Alena yang hangat sedangkan Leo yang dingin, membuat keduanya selalu sulit menyesuaikan diri masing-masing. Terlebih lagi Alena sering sekali dibuat jengkel karena Leo yang sering kali mengabaikan dirinya, bahkan setelah mereka menikahpun Leo masih saja tidak merubah dirinya.

Ternyata ikatan pernikahan tidak selamanya membuat dua orang yang terikat menjadi bahagia, apalagi yang dijalani Alena dan Leo adalah pernikahan dengan unsur keterpaksaan, dan sebelumnya mereka juga sudah membuat kontrak pernikahan, kalau mereka hanya akan berpura-pura baik saat di depan Sabrina, selebihnya mereka tetap pada dunia mereka masing-masing.

Sebenarnya Alena tidak mau menyetujui kontra

k tersebut, karena saat Leo melamarnya, dirinya benar-benar terlihat tulus dan serius, namun tidak ia sangka kalau semua itu hanya ilusi yang dilakukan Leo agar Alena terperangkap dalam rencananya.

Kesal dan kecewa adalah dua perasaan yang Alena rasakan diwaktu yang bersamaan, namun dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena ia mengetahui kalau kondisi ibu mertuanya sudah benar-benar parah, dirinya tidak ingin terjadi apapun pada Sabrina, jadi mau tidak mau ia hanya bisa bertahan dengan sikap Leo yang selalu saja seenaknya.

"Kamu pulang jam berapa hari ini?" tanya Alena saat Leo sedang bersiap-siap akan berangkat kerja.

"Untuk apa kamu nanyain hal itu, memang ibu nanya?" balas Leo sambil melihat Alena dengan tatapan kurang suka.

"Tidak, aku hanya ingin tau saja kapan kamu akan pulang," jawab Alena.

Leo langsung menarik napas, dirinya mendekat sambil memegang dagu Alena "Aku sudah bilang ke kamu, kan, selama hal tersebut tidak bersangkutan sama ibu, jangan pernah ikut campur urusanku, mengerti?" tegasnya.

Setelah itu dirinya langsung pergi meninggalkan Alena dengan segala kekecewaan yang ia rasakan saat ini.

Walaupun sudah biasa menghadapi sikap Leo yang seperti itu, namun ada saat di mana Alena juga merasa kesal karena terus diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri, padahal sebagai istri dirinya hanya ingin memenuhi tugas rumah tangganya saja.

"Sampai, kapan si kamu akan terus menjadi seperti ini Leo?" gumam Alena sambil membereskan lemari Leo yang berantakan karena ulah Leo yang mencari baju dengan terburu-buru.

"Alena kamu tidak kerja sayang?" tanya Sabrina saat melihat Alena tengah membereskan lemari.

"Oh iya ibu, Alena kerja agak siangan nanti," jawab Alena.

"Kalau nanti kamu mau berangkat, nanti kasih tau ibu, karena ibu ada jemuran di luar," ucap Sabrina.

"Ah kalau jemuran biar Alena saja bu yang ngangkatin, jadi ibu istirahat saja," jawab Alena.

Setelah menjadi menantu, Alena mau tak mau harus mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga yang sebelumnya tidak ia kerjakan saat ia masih single.

Untung saja dirinya bisa mengajukan diri untuk masuk siang kepada atasannya, sehingga ia tidak perlu khawatir akan pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan.

Sebenarnya ia merasa tidak tega jika harus meninggalkan ibu mertuanya sendiri, namun ia juga masih belum bisa memutuskan untuk berenti dari tempat kerjanya yang tidak mudah ia dapatkan begitu saja.

"Oh iya, hari ini ibu mau tutup toko dulu, mau belanja," ucap Sabrina.

"Loh kok belanja sendiri, gak nunggu Alena libur saja?" tanya Alena yang merasa khawatir jika Sabrina harus pergi keluar seorang diri.

"Yaampun Alena kamu ini sudah memperlakukan ibu kaya apa saja, ibu ini masih kuat, tenang saja," ucap Sabrina sambil menepuk pundak kanan Alena, dirinya mau agar menantunya itu bisa mempercayai dirinya.

"Baiklah kalau begitu, tapi kalau ada apa-apa, ibu langsung kabarin Alena ya," pinta Alena.

"Pasti dong." Sabrina tersenyum pada Alena, dirinya tidak mau kalau menantunya itu jadi tidak fokus pada kehidupan pribadinya hanya karena mengasihaninya.

Terlebih tujuan Sabrina menikahkah Leo dan Alena adalah agar keduanya berhenti mengasihani kondisinya yang tidak tau akan bertahan berapa lama lagi ke depannya. Di satu sisi lain, Sabrina sebenarnya merasa sedikit bersalah karena telah menikahkan mereka diusia muda, di mana seharusnya mereka bisa meraih apa yang mereka inginkan tanpa terikat dengan apapun.

Unduh Buku