back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Jerat Cinta Bos Gangster

Jerat Cinta Bos Gangster

RAVEN

5.0
Ulasan
2
Penayangan
9
Bab

Takdir mempertemukan Jay dengan seorang perempuan putus asa —Sena— yang mencoba bunuh diri. Menawari bisnis gelap disebuah klub malam, kedekatan mereka tumbuh menjadi sebuah perasaan cinta, hingga pada akhirnya Sena mengandung putri Jay. Demi mencari tahu siapa sosok yang telah membunuh sang Papa, Jay terpaksa berurusan dengan kedua paman yang gila harta, juga terjebak dalam dunia gangster. Tak mau Sena berada dalam bahaya, ia memilih mengakhiri hubungan, melindungi sosok itu dalam diam. Tentu Sena membencinya, tetapi Jay tak tinggal diam. Sembari menyelesaikan masalah, ia kembali berusaha meyakinkan Sena untuk menerima cinta nya. Siapakah sebenarnya pembunuh Papa Jay? Lali dapatkah pria itu kembali memiliki hati Sena dan putri nya?

Bab 1
Jerat Cinta Bos Gangster
Manik Putus Asa

Jay menatap seorang perempuan yang memohon sembari belutut memegangi kakinya, mendongak dengan air mata mengalir deras. Perih, sejujurnya ia masih memiliki belas kasih pada sosok tak berdaya dihadapan, tetapi mau bagaimana lagi, Jay sudah memutuskan sebuah kalimat sebagai motto hidupnya, “Sekali ditolong, mereka hanya akan terus memanfaatkan kebaikanku.”

Satu tangan berpegang pada besi pembatas atap sebuah gedung perusahaan, sementara satu tangan lainnya sibuk mengapit sebuah rokok di antara jari telunjuk dan jari tengah. Tersenyum miring, Jay menghempaskan tangan si perempuan.

“John, bawa dia ke klub. Atur kontrak kerjanya dalam data sampai hutang ayahnya benar-benar lunas,” si pemuda manis yang sejak tadi berada di samping Jay mengangguk patuh, lalu menyeret perempuan dewasa berambut lurus itu pergi dari atap.

Setelahnya Jay benar-benar merasa sepi. Mengabaikan udara dingin yang seolah menusuk kulit yang hanya terbalut setelan jas hitam. Menatap pada gedung-gedung yang telah menjulang, pria itu menghembuskan asap rokok dari mulut, menikmati setiap hisapan nikotin.

Untuk beberapa saat Jay benar-benar terpesona pada gemerlap perkotaan yang terlihat dari atap. Cahaya lampu yang memecah gelap malam seolah menggatikan bintang di langit yang justru tak terlihat jelas.

Braakk!!!

“Dasar perempuan jalang! Sudah bagus kau dipecat! Jangan pernah datang lagi ke sini,” seorang perempuan terdorong dari pintu rooftop, diikuti dua perempuan lain yang mendorong kepalanya dengan kaki.

“Hiks, aku bukan perempuan jalang! Apakah aku mau dilecehkan?! Aku juga ingin hidup bebas seperti kalian!” Tangis si prempuan dengan rambut lurus yang diikat ke belakang.

Terlihat raut putus asa dari wajah tirus yang basah karena air mata. Jay masih menatap si korban. Menarik — mata bulat, wajah tirus nan mungil, juga bibir tipis yang memerah, semua terbungkus dalam kesedihan yang tersirat jelas.

“Siapa yang perduli, kau lebih baik bunuh diri daripada semakin merepotkan semua orang,” beberapa tamparan di lontarkan pada si korban yang hanya mampu meringis dan mengadu, “Lagipula tak ada laki-laki yang akan mau menikahi wanita kotor sepertimu.”

“Aku tidak pernah mau memberikan kesucianku pada siapun, tapi dia merebutnya dariku,” lirih si korban kala dua perempuan tadi menyiram dengan air dari botol.

Jay mulai paham bahwa perempuan yang dirundung itu adalah korban pelecehan seksual, pantas wajahnya begitu sendu. Memangnya kenapa? Ia bahkan sering menangani perempuan yang datang ke bar hanya untuk menyerahkan kesucian demi uang.

Melempar putung rokok, lalu mematikan bara yang tersisa. Ketiga perempuan itu masih belum juga menyadari kehardiran CEO mereka yang berdiri di sudut atap. Mendekat, Jay berdeham, buat semua mata menantap kaget padanya.

“Pak Jay? Bapak sedang a-apa?” Salah satu dari dua perempuan perundung itu berucap terbata.

Ah, Jay sungguh malas ikut campur dengan urusan orang seperti ini. Namun, keberadaan karyawan busuk dalam lingkungan kerja sungguh menyebalkan. Mulut ternganga, dua perempuan perundung itu berlutut dihadapan Jay, memohon ampun pada sang atasan.

“Kemasi barang kalian dan jangan pernah datang ke perusahaan ku lagi, lalu kalian betiga bisa merayakan hari pemecatan bersama.”

“Tidak!” perempuan pertama beranjak, menujuk si korban yang masih diam bersimpuh dengan rambut acak-acakan, karena dijambak beberapa kali, “Apa bapak mau diperusahaan kita ada perempuan kotor seperti dia? Dia itu perempuan jalang murahan yang mecoba mengambil semua atensi.”

Jay tersenyum miring, “Lebih baik kotor daripada sok suci. Pergi sekarang atau perlu ku panggilkan satpam untuk menyeret kalian?”

Pikir Jay, saat dua perempuan itu pergi, si gadis korban akan memohon padanya untuk ditolong, seperti yang dilakukan orang lain. Namun tidak, gadis dengan rambut lurus itu berjalan menuju pembatas rooftop. Jujur saja, ia amat membenci kasus bunuh diri.

Dengan santai Jay menompang kedua tangan yang terlipat di besi pembatas, menoleh pada Sena yang menghentikan gerakan kala ia berucap, “Sebenarnya orang yang melakukan bunuh diri itu bukanlah orang yang bosan hidup, tapi mereka yang paling membutuhkan cinta dan kasih sayang. Iya, kan?”

Sena kembali menurunkan kaki dari besi pembatas, air mata kembali lolos dari pelupuk mata, “Kata siapa?”

"Almarhum Papa ku selalu bilang begitu. Lagian, kalau kematian gak se-menakutkan itu, aku pasti udah bunuh diri sejak lama."

Sena mengeratkan pegangan pada besi pembatas. Benar, bahkan kini jantungnya berdetak cepat, menggebu. Ia takut merasakan suara angin di sudut roftoop. Apalagi kala ia hampir terjun, menatap ke bawah di mana tanah seolah melambai untuk menghancurkan tubuh mungil nya.

Gurat kesedihan dalam manik mata Sena seolah tak pernah tersampaikan pada siapapun. Apa tak ada yang memperdulikan nya? Sayang sekali gadis semanis itu disia-siakan. Akan lebih bermanfaat jika Jay membawanya ke bar — pasti banyak yang menginginkan tubuh mungil, langsing, yang hampir berbentuk sempurna itu.

"Mau ikut denganku? Alih-alih bunuh diri, aku punya tempat yang kamu akan suka."

Terdiam. Sejujurnya Sena masih tak percaya, ia bisa bicara dengan sang pemilik perusahaan yang selama ini hanya berlalu di hadapan. Namun, dalam keadaan selemah ini siapa yang tak malu? Apalagi tertangkap hampir bunuh diri.

Jay menarik tangan Sena yang melangkah mengikuti, keluar dari rooftop, menuruni tangga. Tak ada percakapan atau perlawanan, perlahan pegangan pada pergelangan tangan Sena terlepas.

"Turun sendiri ke bawah, aku menunggumu di basement. Mobil paling pojok. Aku tau ini berat, tapi kamu tidak akan menyesali pilihan ini. Banyak perempuan sepertimu yang datang padaku, dan hari ini aku berbaik hati menolongmu."

"Sombong sekali," lirih Sena yang syukur nya tak terdengar oleh Jay — pria itu berjalan cepat meninggalkan terdiam di tempat.

Jay tau, Sena akan cantik dengan sedikit balutan pakaian mewah. Lalu memperkerjakan gadis itu di bar bukanlah hal buruk, lagipula ia pasti juga membutuhkan uang.

Mobil di rooftop tak begitu banyak karena malam mulai laut dan pekerja telah pulang, menyisakan mereka yang memiliki beberapa urusan. Jay menurunkan kaca jendela samping mobil berwarna merah yang menampilkan wajahnya di kursi kemudi.

"Kau, kembali ke rumah dengan taksi saja. Aku mau membawa seseorang dengan mobil ini," Jay mengayunkan tangan, mengusir si sopir yang hanya terdiam. Ia sedikit ragu Sena yang terlihat polos itu akan datang menemuinya. Namun, dalam beberapa detik rupanya sosok itu melambai dari jauh, tersenyum lebar pada Jay.

Sena datang, bahkan sosok mungil itu melambai padanya, berlari mendekat. Seperti yang Jay duga, kebanyakan manusia akan mendekati dirinya karena kemehawan dan harta. Namun, lagi-lagi pria itu salah menilai Sena.

"Kita akan pergi ke mana? Apa pak Jay akan membawaku ke surga? Memangnya bapak ini malaikat yang bisa mencabut rasa sakit saya?"

Seringai menghiasi wajah Jay, "Bukan, tapi kadang orang menyebutku Freaky Monster. Naiklah, kita berangkat sekarang."

Sena menggeleng pelan, "Jalan duluan saja, saya bawa motor. Saya bisa mengikuti dari belakang."

Menatap pantulan diri dari kilau gemerlap mobil Jay, Sena merasa tak pantas diri berada di dalamnya dengan pakaian kumal serta tubuh dekil.

Pantas, jika Jay berada dalam kendaraan mewah itu dengan wajah sombong. Pria muda dengan segudang prestasi dan pencapaian yang kini mampu mengelola perusahaan peninggalan almarhum sang ayah dengan cukup baik.

“Tidak-tidak, naiklah ke mobilku.”

“Saya merasa tidak pantas berada dalam kemewahan itu,” ucapan Sena buat Jay tertawa puas, menggeleng heran.

“Tadi kau bilang kau bukan jalang, kan? Mengapa merasa tak pantas, aku bahkan sering membawa perempuan kotor itu dengan mobil ini. Jadi masuklah. Ini perintah!!!”

Buku serupa
Unduh Buku