back
Unduh aplikasi
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
AKU MENYERAH MENJADI ISTRIMU, MAS!

AKU MENYERAH MENJADI ISTRIMU, MAS!

Aura_Aziiz16

5.0
Ulasan
15.7K
Penayangan
30
Bab

Saat aku menikah lagi, Andin, istriku yang semula polos dan penurut tiba-tiba berubah acuh tak acuh dan tidak lagi peduli.

Bab 1
AKU MENYERAH MENJADI ISTRIMU, MAS!
Terpaksa Menikah Lagi

"Mil, ini jatah belanja bulanan untuk kamu. Lima juta rupiah. Cukup, 'kan?" tanyaku pada Mila, wanita muda yang baru sebulan lalu kunikahi dan kujadikan istri kedua.

Kuangsurkan selembar amplop berwarna coklat padanya yang segera diterima dengan senyum tipis terkembang di bibirnya.

Mila memang cantik. Ia selalu bisa memanjakan mata ini dengan penampilannya yang menyenangkan dan sedap dipandang. Ia juga tak pernah menolak setiap kali aku membutuhkan pelayanan darinya.

Tak salah jika akhirnya aku mengambil keputusan untuk menjadikannya istri kedua guna melengkapi hidup yang selama ini terasa bosan dan menjemukan.

Mila mengambil amplop gaji di tanganku lalu menyimpannya sedikit tak bersemangat.

Melihat ekspresinya yang tampak tak bersemangat itu, aku pun memicingkan mata dan bertanya heran.

"Kenapa? Kurang ya?" tanyaku sembari meneliti paras cantik di depanku itu.

Perempuan itu memandangku sekilas lalu menundukkan kepalanya, menyembunyikan raut wajahnya.

"I ... iya sih, Mas ... tadinya aku berencana mau ke klinik kecantikan, beli baju baru dan nambahin koleksi perhiasan, tapi karena Mas cuma bisa ngasih lima juta ya terpaksa aku tunda dulu semua itu," ujar istri mudaku itu sambil menggandeng tanganku lalu menghela langkahku menuju ruang makan.

Mendengar kalimat bernada mengeluh dan manja darinya, aku pun memeluk wanita cantik itu lebih erat.

"Ya, udah nanti pertengahan bulan mas tambahin lagi ya, tunggu proyek cair dulu tapi. Jangankan lima juta, dua puluh juta juga pasti mas kasih!" sahutku sembari mencubit pipinya dan menggoda istri mudaku itu agar ia tak lagi sedih.

Benar saja. Mendengar jawabanku, Mila tersenyum girang lalu memelukku erat-erat.

"Janji ya, Mas! Mas baik banget deh. Nggak nyesel aku jadi istri walaupun cuma istri kedua kalau begitu," ucapnya lagi lalu dengan penuh semangat segera menghidangkan makanan yang barusan kupesan di sebuah rumah makan via ojek online dan segera menikmati makan siang berdua.

Usai makan siang, seperti biasanya, Mila mengajakku ke peraduan. Memberi kebutuhan batin yang selama ini jarang kudapatkan dari Andin, istri pertamaku.

Andin yang selalu sibuk dengan urusan rumah, urusan anak, belum lagi harus mengurus ibuku yang stroke, memang akhir-akhir ini tak bisa lagi secara maksimal melayani kebutuhanku.

Aku memang sengaja meminta istriku itu untuk merawat kedua putri kami dan ibuku yang sedang sakit dengan tangannya sendiri. Maklum, aku tak percaya ART dan merasa lebih nyaman jika semua urusan itu ditangani istriku sendiri.

Namun, aku tak pernah menyangka jika akibatnya, Andin jadi melalaikan kewajibannya sebagai seorang istri terhadapku.

Malam demi malam jadi sering kulalui dalam kesepian dan kedinginan. Setiap kali aku meminta hak, Andin selalu melakukannya dengan terpaksa. Kadang malah menolak dengan alasan tidak mood dan capek karena harus mengurus semua urusan rumah tangga sendirian.

Itulah sebabnya, dari pada harus bertengkar dan mengemis padanya setiap hari, akhirnya aku pun memutuskan untuk menikah lagi. Tak sanggup rasanya jika harus berpuasa menahan kebutuhan batin setiap hari.

Begitulah hari-hari penuh keceriaan kulalui sejak memiliki istri muda. Aku yang biasanya hidup datar-datar saja, sekarang jadi bisa merasakan keseruan beristri dua.

Aku yang biasanya pusing memikirkan kebutuhan akan batin ini yang tak pernah tertunaikan, sekarang sudah bisa merasa nyaman dan tenteram karena ada istri kedua yang selalu siap sedia melayani saat dibutuhkan.

Ya, rasanya wajar jika aku menikah lagi karena istri pertamaku enggan menunaikan kewajibannya itu terhadapku.

Selama ini pertemuanku dengan Mila sendiri hanya kulakukan di siang hari saja, karena malam hari aku harus pulang ke rumah sebab aku tak mau Andin sampai tahu jika aku diam-diam telah menikah lagi. Aku belum siap kehilangan wanita yang sudah memberiku dua orang buah hati itu.

Jika Andin sampai tahu dan marah, siapa lagi yang akan mengurus kedua buah hatiku dan ibu yang sedang sakit serta hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur?

Ya, Andin tak boleh sampai tahu jika aku sudah menikah lagi dan memiliki istri baru.

Lanjut?

Buku serupa
Unduh Buku